
Ibu Rumah Tangga Waruruma Keluhkan Perubahan Desil Penerima Bansos Saat Anggota DPRD Baubau Naslia Alu Lakukan Reses
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Persoalan perubahan desil penerima bantuan sosial (bansos) menjadi salah satu aspirasi utama yang disampaikan ibu rumah tangga dan anggota majelis taklim Kelurahan Waruruma saat mengikuti reses masa sidang III Anggota DPRD Kota Baubau, Naslia Alu, S.Pd., Kamis (10/09). Warga meminta kejelasan mekanisme pemutakhiran data agar perubahan status penerima bantuan sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga sebenarnya. “Ibu Rumah Tangga Waruruma Keluhkan Perubahan Desil Penerima Bansos Saat Anggota DPRD Baubau Naslia Alu Lakukan Reses,”
Naslia mengatakan, warga yang mengalami perubahan desil dan merasa datanya tidak sesuai dapat mengajukan pemutakhiran melalui pemerintah kelurahan atau pihak terkait yang menangani pendataan sosial. Menurut dia, perubahan data harus melalui proses verifikasi sehingga kondisi ekonomi keluarga dapat diperiksa kembali. “Kalau ada perubahan desil, kita bisa memohon untuk perubahan desil di kelurahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penentuan desil kini berkaitan dengan sistem pendataan sosial berbasis digital dan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Kondisi anggota keluarga yang masih tercatat dalam satu Kartu Keluarga (KK), termasuk anggota keluarga yang telah bekerja atau memiliki penghasilan, dapat memengaruhi gambaran kondisi sosial ekonomi keluarga. “Sekarang sudah online, jadi semua itu berhubung dengan NIK. Terkadang salah satu alasannya perubahan desil, anggota keluarga kita ada yang sudah bekerja, sehingga mempengaruhi seluruh anggota keluarga,” kata Naslia.
Naslia juga menyebut kondisi penghasilan anggota keluarga, termasuk anak yang memiliki gaji di atas Rp3 juta, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemutakhiran data. Ia turut menyinggung aktivitas belanja daring sebagai hal yang dapat muncul dalam proses penilaian data, tetapi menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat serta-merta dianggap sebagai penyebab perubahan desil tanpa konfirmasi melalui mekanisme pendataan resmi.
Persoalan akurasi data bansos tersebut berlangsung di tengah perubahan sistem nasional dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) menuju Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kementerian Sosial menjelaskan bahwa DTSEN menggunakan pembagian desil untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan keluarga dan datanya bersifat dinamis sehingga dapat diperbarui melalui pemerintah desa/kelurahan dan dinas sosial.
Di sisi lain, reses tidak hanya menjadi forum penyampaian keluhan, tetapi bagian dari fungsi representasi dan pengawasan anggota DPRD terhadap pelaksanaan pembangunan. Aspirasi yang dihimpun dari masyarakat selanjutnya dapat menjadi bahan penyusunan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD untuk dibawa ke proses perencanaan pembangunan daerah. Secara historis, mekanisme reses telah menjadi bagian penting dalam hubungan antara lembaga legislatif dan konstituen karena anggota parlemen turun langsung ke daerah pemilihan untuk memperoleh masukan dari masyarakat.
Dalam pertemuan di Waruruma, Naslia juga menyampaikan hasil aspirasi masyarakat yang telah diperjuangkan pada periode sebelumnya. Salah satunya pembangunan jalan setapak yang telah direalisasikan. Ia mengatakan, pembangunan tersebut diharapkan berlanjut pada Oktober–November. “Alhamdulillah, tahun kemarin dari aspirasi masyarakat, dari hasil reses, kita mendapat jalan setapak. Insya Allah ke depan bulan 10–11 kita dapat lanjutan jalan,” tuturnya.
baca juga:
- Teror Video Pribadi Tak Pantas Mantan Kekasih Disebar ke Ibu dan Teman Lewat Whatsapp, Pria Baubau Diamankan Polisi
- Inspektorat Busel Dampingi BPK Provinsi Audit Kinerja Dana BOS Buton Selatan, Pemeriksaan …
Selain persoalan desil bansos dan infrastruktur, warga juga menyampaikan aspirasi yang berkaitan dengan pembangunan serta pelayanan kesehatan. Naslia menegaskan bahwa seluruh masukan masyarakat dalam reses menjadi bagian dari bahan perjuangan DPRD sesuai kewenangan lembaga legislatif, sekaligus sarana memastikan kebutuhan warga di tingkat kelurahan mendapat perhatian dalam proses perencanaan pembangunan Kota Baubau.(*)
baca berita lainnya:
Ertina Pimpin SDN 9 Lakudo Sejak 2019, Sekolah Makin Asri dan Tertata, Siswa Bertambah dan Pembangunan Perpustakaan Jadi Prioritas
BUTON TENGAH, DURASITIMES.COM – Kepala SD Negeri 9 Lakudo Bute Ertina, S.Pd.SD., menempatkan penguatan kualitas pembelajaran dan pembenahan sarana sebagai bagian penting dalam pengembangan sekolah sejak dipercaya menjabat pada 2 Januari 2019. Selama tujuh tahun kepemimpinannya, lingkungan sekolah diperbaiki, sejumlah fasilitas direhabilitasi, sementara kebutuhan ruang perpustakaan masih menunggu tindak lanjut setelah pembaruan data sekolah dilakukan. “Ertina Pimpin SDN 9 Lakudo Sejak 2019, Sekolah Makin Asri dan Tertata, Siswa Bertambah dan Pembangunan Perpustakaan Jadi Prioritas,”

Salah satu perubahan yang paling terlihat berada pada lingkungan sekolah. Ertina yang sebelumnya telah mengajar di sekolah itu sejak 2007 melanjutkan sejumlah program kepala sekolah terdahulu, kemudian menata kembali taman dan penghijauan. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi sekolah sebelumnya dinilai masih relatif tandus. “Kalau program sebelumnya baik, saya lanjutkan. Kemudian ada hal-hal yang perlu diperbaiki di sekolah ini,” kata Ertina, Jumat, 11 September 2026
Pembenahan fisik juga berlangsung selama masa kepemimpinannya. Dua bangunan sekolah direhabilitasi, disertai pembangunan atau perbaikan pagar, musala, dan toilet melalui dukungan program pemerintah. Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan lingkungan belajar yang lebih layak bagi peserta didik.
Dari sisi penerimaan murid, sekolah tetap menjadi salah satu pilihan masyarakat sekitar meski berada di tengah keberadaan sejumlah sekolah dasar lain. Target awal penerimaan adalah satu rombongan belajar setiap tahun dan umumnya tercapai. Pada 2026 sekolah menargetkan dua rombel, tetapi baru satu rombel yang terealisasi dengan jumlah siswa meningkat hingga sekitar 28 orang. “Yang kita targetkan memang satu rombel dan itu tercapai. Tahun ini targetnya dua rombel, tetapi yang tercapai baru satu dengan jumlah siswa yang meningkat,” ujarnya.
Kebutuhan yang masih menjadi perhatian adalah ruang perpustakaan. Selama ini sekolah memanfaatkan ruang kelas untuk fungsi tersebut sehingga pencatatan pada Dapodik sebelumnya membuat sekolah tercatat memiliki perpustakaan. Setelah mendapat masukan dari dinas pendidikan dan BPMP, data itu diperbaiki dengan mencatat bahwa sekolah belum memiliki ruang perpustakaan khusus. Perubahan data tersebut kini menjadi bagian dari proses pengusulan bantuan.
Sementara itu, kondisi tenaga pendidik dinilai relatif mencukupi. Sekolah memiliki 12 orang, terdiri atas Ertina sebagai kepala sekolah, tujuh PNS, tiga P3K penuh waktu, satu P3K paruh waktu, dan satu tenaga honorer. Ertina menyebut jumlah tersebut bahkan terdapat satu tenaga yang lebih. Ia juga mengapresiasi kedisiplinan guru, termasuk tiga guru yang berdomisili di Kota Baubau dan harus menggunakan speedboat, tetapi tetap tiba sebelum pukul 06.30 dan pulang sesuai waktu kerja.
Pembenahan sekolah tersebut berada dalam konteks perjalanan panjang pendidikan Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, pendidikan ditempatkan sebagai bagian penting pembangunan bangsa; Ki Hadjar Dewantara bahkan dipercaya menjadi Menteri Pengajaran pertama pada 19 Agustus 1945. Sebelumnya, pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Taman Siswa sebagai bagian dari perjuangan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat. Di tingkat global, pendidikan dasar juga menjadi agenda pembangunan internasional. UNESCO mencatat pendidikan sebagai instrumen penting pembangunan dan kemudian SDG 4 menetapkan sasaran pendidikan yang inklusif, bermutu, serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua.
baca juga:
- Realisasi Pendapatan Asli Daerah Buton Tengah Capai Target Positif Semester 1 Tahun 2026, Didominasi PBB dan Opsen Pajak Kendaraan, Digitalisasi Pajak Siap Diterapkan Mulai Tahun Depan
- Lomba Lagu Kebangsaan, Buteng Run 10K, dan Turnamen Futsal Bupati Cup Jadi Ajang Spesial …
Karena itu, Ertina menegaskan pengembangan sekolah tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas proses belajar. Guru bersama pihak sekolah, kata dia, terus mengevaluasi pembelajaran agar peserta didik berkembang secara akademik maupun karakter. “Kami bersama guru-guru selalu berkomitmen untuk terus memajukan siswa. Kami terus mengevaluasi proses pembelajaran agar anak-anak bangsa bisa menjadi lebih cerdas,” katanya.(*)

