
Langit Israel Dihujani Antisipasi Rudal Pencegah di Tengah Ancaman Balasan Iran
DURASITIMES.COM — Langit Israel kembali diliputi ketegangan pada Sabtu (28/2/2026) setelah sistem pertahanan negara tersebut menembakkan rudal pencegahan dan membunyikan sirene bahaya di berbagai kota. Langkah darurat itu diambil sebagai respon atas potensi serangan balasan dari Iran yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat. “Langit Israel Dihujani Antisipasi Rudal Pencegah di Tengah Ancaman Balasan Iran,”

Pemerintah Israel menegaskan bahwa sistem proteksi udara harus diaktifkan secara penuh demi mengantisipasi ancaman yang dinilai sangat serius. Situasi ini mempertegas eskalasi konflik dua negara yang terus meningkat sejak awal tahun.
Menurut laporan resmi, sirene bahaya dikerahkan di sejumlah wilayah permukiman sebagai peringatan dini agar warga segera menuju bunker. Suara raungan sirene yang memecah langit malam menandai kesiapsiagaan tertinggi Israel dalam beberapa bulan terakhir.
Militer Israel menyatakan bahwa peluncuran rudal pencegah dilakukan sebagai langkah proaktif untuk “menghalau ancaman sebelum menyentuh kawasan vital”. Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan pihaknya “tidak akan membiarkan satu pun ancaman memasuki ruang udara nasional”. “Kami mengambil langkah pencegahan untuk melindungi jutaan warga di seluruh Israel,” ujarnya.
Kekhawatiran serangan Teheran berakar dari meningkatnya tensi geopolitik pasca-serangan Israel terhadap fasilitas strategis Iran pada 2025. Insiden itu memicu konflik selama 12 hari yang menghadirkan salah satu serangan rudal terbesar dalam sejarah kawasan tersebut.
Dalam catatan militer internasional, Iran kala itu meluncurkan ratusan rudal balistik dan lebih dari 1.000 drone tempur ke berbagai titik strategis di Israel. Serangan tersebut menargetkan instalasi pertahanan, pusat teknologi, hingga kawasan pemukiman. Kondisi ini kemudian memaksa Israel mengaktifkan sistem pertahanan Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow secara penuh.
Kini setahun berlalu, sejarah kembali terasa berulang. Pembunyian sirene dan peluncuran rudal pencegah dipandang sebagai reaksi atas dugaan persiapan serangan balasan Iran. Meski belum ada pernyataan resmi dari Teheran, analis menyebut pergerakan pertahanan Israel menunjukkan adanya ancaman nyata.
Laporan Reuters menyebutkan bahwa sirene bahaya dibunyikan secara luas walaupun belum terdeteksi adanya serangan langsung. Militer disebut sedang melakukan “uji respons cepat” sekaligus mitigasi terhadap kemungkinan hujan rudal jarak jauh.
Sejumlah saksi mata menggambarkan langit Israel tampak dipenuhi cahaya dari rudal pertahanan yang meluncur ke udara. “Kami mendengar ledakan dari kejauhan dan langsung berlari ke bunker,” ujar seorang warga di Tel Aviv yang enggan disebutkan namanya.
Sejumlah analis internasional memperingatkan bahwa tindakan Israel bisa menjadi pemicu eskalasi lebih besar. Mereka menilai bahwa kedua negara berada di “titik paling rapuh” sejak konflik nuklir dan rudal antara 2010–2012 yang juga mengguncang kawasan.
Situasi ini juga mengingatkan banyak pihak pada sejarah panjang perseteruan Israel–Iran yang telah berlangsung sejak Revolusi Iran 1979. Ketegangan tersebut meningkat tajam setelah Iran mengembangkan teknologi rudal jarak jauh pada 2000-an, yang kemudian memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas Timur Tengah.
baca juga:
- Roket Hantam Iran, Trump Umumkan AS-Israel Mulai Operasi Militer Besar
- Pesantren Kilat hingga Bagi Sedekah, SDN 3 Baubau Hidupkan Ramadhan 1447 H
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda meredanya situasi. Pemerintah Israel masih mempertahankan status siaga tinggi sambil memantau pergerakan militer Iran. Komunitas internasional pun menyerukan deeskalasi segera untuk menghindari pecahnya konflik berskala besar.
Dengan berbagai indikator yang ada, dunia kini menanti apakah langkah-langkah terbaru ini sekadar pertahanan preventif atau justru pembuka babak baru ketegangan panjang yang berpotensi mengubah lanskap geopolitik kawasan.(*)
baca berita lainnya:
AS–Israel Serang Iran, Presiden Masoud Pezeshkian Selamat dari Ancaman
DURASITIMES.COM — Republik Islam Iran kembali berada dalam situasi darurat menyusul serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi, yang memicu ledakan di sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Teheran. Pemerintah memastikan Presiden Masoud Pezeshkian berada dalam kondisi selamat. “AS–Israel Serang Iran, Presiden Masoud Pezeshkian Selamat dari Ancaman,”

Ledakan pertama terdengar sekitar pukul 08.15 waktu setempat, menurut laporan media pemerintah Iran. Suara sirene peringatan juga sempat menggema di seluruh wilayah Israel setelah operasi militer dimulai secara simultan.
Kantor berita IRNA melaporkan bahwa Presiden Pezeshkian tidak mengalami luka apa pun. “Presiden Masoud Pezeshkian aman dan sehat, tidak ada masalah dengan keselamatan beliau,” tulis IRNA dalam pernyataan resmi, Sabtu, 28 Februari 2026
Selain presiden, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga dilaporkan sudah dievakuasi ke lokasi aman. Sumber Reuters menyebutkan bahwa pemindahan dilakukan sebelum serangan mencapai wilayah sensitif di Teheran.
Serangan gabungan itu kembali menegangkan hubungan tiga negara setelah sebelumnya terjadi perang udara selama 12 hari pada Juni 2025. Kala itu, ketegangan dipicu program nuklir Iran yang dituding Israel sebagai ancaman langsung bagi keamanan regional.
Menurut seorang pejabat pertahanan Israel yang dikutip Al Arabiya, operasi tersebut telah direncanakan dalam koordinasi dengan Washington selama berbulan-bulan. “Tanggal peluncuran telah ditentukan beberapa pekan lalu,” ujarnya.
Dari Washington, Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan resmi bahwa Amerika Serikat telah memulai “operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran. Dalam video yang ia unggah, Trump mengatakan, “Tujuan kami adalah melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran.”
Sebagai respons, Iran menyatakan tengah mempersiapkan tindakan balasan. Seorang pejabat Iran yang diwawancarai Reuters mengungkapkan bahwa tanggapan negara itu akan bersifat “menghancurkan” dan diarahkan pada fasilitas strategis musuh. Pemerintah menegaskan bahwa Iran “siap mempertahankan diri terhadap bentuk agresi apa pun.”
Dampak serangan merembet ke negara-negara sekitar. Irak dan Kuwait menutup wilayah udara mereka demi alasan keamanan. Sejumlah maskapai internasional, termasuk Flydubai, mengumumkan pembatalan dan penjadwalan ulang penerbangan menuju kawasan tersebut.
Militer Israel juga menetapkan penutupan sekolah dan tempat kerja, kecuali sektor vital, serta melarang penerbangan sipil menggunakan ruang udara mereka. Sebagai langkah antisipatif, Iran turut menutup seluruh wilayah udara “hingga pemberitahuan lebih lanjut.”
Ketegangan terbaru ini terjadi ketika Amerika Serikat dan Iran sebenarnya sedang berupaya menghidupkan kembali jalur diplomasi. Pada Februari 2026, kedua negara kembali melanjutkan negosiasi untuk mencari jalan tengah terkait program nuklir Iran, yang telah menjadi sengketa panjang sejak 2002 ketika fasilitas nuklir Natanz pertama kali terungkap ke publik.
baca juga:
- Undang Rusia dan Ukraina, Sebagai Jawaban Jokowi Atas Ancaman Amerika Memboikot KTT G20 di Bali
- Serangan Gabungan AS–Israel Guncang Teheran
Israel tetap bersikeras bahwa kesepakatan diplomatik tidak cukup tanpa pembongkaran penuh infrastruktur nuklir Iran dan pembatasan program rudal balistik. Sebaliknya, Teheran mengizinkan pembahasan pengurangan aktivitas nuklir sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, tetapi menolak menghubungkannya dengan isu rudal pertahanan.
Secara historis, konflik antara Iran dan Israel telah berlangsung selama puluhan tahun, khususnya sejak Revolusi Islam 1979 yang mengubah peta politik kawasan. Sementara bagi Indonesia, hubungan diplomatik dengan Iran terjalin sejak 1950-an, dan pemerintah Indonesia secara historis menekankan penyelesaian damai melalui jalur diplomasi di setiap konflik Timur Tengah.
Serangan terbaru ini diperkirakan akan berdampak pada stabilitas regional dan global, mengingat jalur minyak internasional di Teluk Persia kembali menghadapi ancaman gangguan. Para analis memperingatkan bahwa konflik dapat meluas jika tidak segera ditekan melalui mediasi internasional.(*)

