
Hari Jadi Kota Baubau ke-25 Sebagai Darah Otonom, Dinkes Perkuat Edukasi HIV, Sifilis, dan Hepatitis Pada 80 Pelajar SMAN 1
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Sebanyak 80 pelajar SMAN 1 Baubau mendapat edukasi mengenai pencegahan HIV, infeksi menular seksual (IMS) atau sifilis, dan hepatitis dalam kegiatan Sosialisasi Triple Eliminasi yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Baubau ke-485 sekaligus HUT Otonom ke-25 Tahun 2026. “Hari Jadi Kota Baubau ke-25 Sebagai Darah Otonom, Dinkes Perkuat Edukasi HIV, Sifilis, dan Hepatitis Pada 80 Pelajar SMAN 1,”

Kegiatan yang dilaksanakan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Baubau itu melibatkan kepala sekolah dan jajaran dewan guru. Materi disampaikan Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Baubau Yuslina, SKM., M.Si., bersama dr. WD Arsina Anwar dari Puskesmas Bataraguru. Edukasi menyasar remaja sebagai kelompok yang dinilai penting dibekali informasi kesehatan sebelum memasuki usia produktif, pernikahan, dan fase reproduksi.
Selain mengenalkan risiko ketiga penyakit tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai kebijakan Triple Elimination serta situasi epidemiologi HIV, sifilis, dan hepatitis di Kota Baubau. Dinkes juga menjelaskan jalur penularan, termasuk hubungan seksual berisiko serta paparan cairan tubuh atau darah yang terkontaminasi.
Yuslina mengatakan pendidikan kesehatan bagi pelajar tidak sebatas memberikan pengetahuan mengenai penyakit, tetapi juga membangun kemampuan remaja mengambil keputusan yang bertanggung jawab. “Literasi kesehatan reproduksi penting agar siswa memperoleh informasi medis yang benar dan tidak terjebak mitos maupun disinformasi,” katanya, Jumat 2 Oktober 2026
Menurut dia, pendekatan edukasi juga diarahkan pada pencegahan perilaku berisiko, termasuk penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi. Di sisi lain, sekolah didorong menjadi lingkungan yang mampu mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) maupun penderita hepatitis B dan sifilis. Siswa peserta kegiatan juga diharapkan dapat berperan sebagai peer educator yang menyebarkan informasi kesehatan kepada teman sebaya dan keluarga.
Secara global, upaya mengintegrasikan pencegahan penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak telah berkembang selama lebih dari satu dekade. WHO mencatat tujuan eliminasi penularan dari ibu ke anak mulai mendapat tonggak penting sejak 2010, sedangkan kriteria global untuk eliminasi HIV dan sifilis dikembangkan pada 2014. Pada 2022, WHO memperluas kerangka tersebut dengan memasukkan hepatitis B dalam panduan Triple Elimination.
Perkembangan terbaru menunjukkan agenda tersebut terus bergerak di tingkat internasional. Pada 2025, WHO menerbitkan panduan khusus perencanaan Triple Elimination dan pada tahun yang sama melakukan prakualifikasi tes cepat terpadu yang dapat mendeteksi HIV, hepatitis B, dan sifilis. WHO juga mencatat Maladewa sebagai negara pertama yang memperoleh validasi eliminasi penularan ketiga penyakit tersebut dari ibu ke anak pada 2025.
baca juga:
- MAKESA Jadi Bagian Hari Jadi Kota Baubau ke-485, Warga Bisa Cek Kesehatan Gratis di Kotamara
- Jelang HUT Baubau, Pemkot Perketat Penataan Pedagang di Kawasan Kotamara ,..
Menutup kegiatan di SMAN 1 Baubau, panitia menggelar kuis interaktif untuk mengukur pemahaman peserta. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan antusias. “Melalui semangat ‘Stop Stigma dan Diskriminasi’, kami berharap edukasi ini melahirkan generasi muda Baubau yang sehat, cerdas, berkarakter, serta terlindungi dari ancaman HIV, sifilis, dan hepatitis,” ujar Yuslina.(*)
baca berita lainnya:
Dr Moh Tasdik Wakili Wali Kota Baubau Buka Muslok IV ORARI, Pemkot Minta ORARI Adaptif Hadapi Perkembangan Teknologi Komunikasi Kebencanaan
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Pemerintah Kota Baubau mendorong Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Kota Baubau memperkuat kapasitas organisasi agar mampu menjadi salah satu penopang komunikasi alternatif, terutama ketika bencana atau gangguan infrastruktur menyebabkan jaringan telekomunikasi dan listrik tidak berfungsi. “Dr Moh Tasdik Wakili Wali Kota Baubau Buka Muslok IV ORARI, Pemkot Minta ORARI Adaptif Hadapi Perkembangan Teknologi Komunikasi Kebencanaan,”

Dorongan itu disampaikan Staf Ahli Wali Kota Baubau Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum, Dr Mohamad Tasdik MSi saat membuka Musyawarah Lokal (Muslok) IV ORARI Lokal Kota Baubau, Sabtu (3/10/2026). Tasdik hadir mewakili Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim dalam forum yang mengusung tema “Mewujudkan ORARI Lokal Kota Baubau yang Solid, Adaptif, dan Berdaya Guna dalam Pengembangan Komunikasi Radio Amatir”.
Menurut Tasdik, posisi radio amatir menjadi penting bagi Baubau karena karakter wilayahnya sebagai daerah kepulauan dan pesisir yang memiliki kerentanan terhadap bencana. Dalam keadaan darurat, komunikasi berbasis radio dapat membantu menghubungkan masyarakat, relawan, dan pemerintah ketika saluran komunikasi utama mengalami gangguan. “Radio amatir tidak hanya berkaitan dengan hobi, tetapi juga dapat memiliki manfaat sosial ketika masyarakat membutuhkan jalur komunikasi alternatif,” katanya.
Ia mengatakan Muslok bukan sekadar forum pergantian atau penataan kepengurusan, melainkan momentum mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemerintah Kota Baubau berharap ORARI mampu mempertahankan kekompakan internal, mengikuti perkembangan teknologi komunikasi, dan memperluas kontribusinya melalui kegiatan yang terukur.
Ruang kolaborasi juga terbuka antara ORARI dan perangkat daerah Pemerintah Kota Baubau, terutama dalam bidang kebencanaan, pelayanan publik, serta edukasi komunikasi radio kepada generasi muda. “Kami berharap ORARI dapat semakin solid, adaptif, dan berdaya guna sehingga keberadaannya memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ujar Tasdik.
Muslok IV tersebut dihadiri sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Baubau, Ketua ORARI Daerah Sulawesi Tenggara bersama jajaran pengurus, serta Dewan Penasihat ORARI Lokal Kota Baubau. Setelah pembukaan, peserta melanjutkan kegiatan dengan agenda persidangan untuk membahas arah organisasi dan kepengurusan berikutnya.
Secara historis, komunikasi radio amatir berkembang seiring kemajuan teknologi radio pada abad ke-20 dan kemudian digunakan tidak hanya untuk komunikasi antarpenggemar, tetapi juga mendukung komunikasi darurat di berbagai negara. Di Indonesia, kegiatan radio amatir berkembang sejak pertengahan abad ke-20 dan menjadi salah satu latar terbentuknya wadah organisasi radio amatir nasional sebelum kemudian dikenal sebagai ORARI. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi radio dapat memiliki fungsi sosial ketika infrastruktur komunikasi konvensional menghadapi keterbatasan.
baca juga:
- Pemilihan Rektor UM Buton Bergulir, Berikut 11 Bakal Calon Ditetapkan dan Bersiap Jalani Penilaian Kualitatif Senat
- Mubes Perdana, H Basri Umar Terpilih Pimpin Kerukunan Keluarga Buton Tengah Kota Baubau Periode …
Karena itu, Muslok IV ORARI Lokal Kota Baubau diharapkan menghasilkan kepengurusan yang mampu menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam program kerja konkret. “Mari kita ikuti seluruh rangkaian musyawarah dengan semangat kebersamaan dan mengedepankan musyawarah untuk menghasilkan keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi,” kata Tasdik.(*)
