STAI YPIQ Baubau Gelar Ujian Proposal, Dorong Kualitas Penelitian, Mahasiswa Antusias Ikuti Ujian Proposal Skripsi
BAUBAU, DURASITIMES.COM — STAI YPIQ Baubau kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga mutu pendidikan tinggi melalui pelaksanaan ujian proposal skripsi yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi, sebagai tahapan awal menuju penyusunan karya ilmiah. “STAI YPIQ Baubau Gelar Ujian Proposal, Dorong Kualitas Penelitian, Mahasiswa Antusias Ikuti Ujian Proposal Skripsi,”

Kegiatan akademik tersebut berlangsung di kampus yang berlokasi di Jalan R.A. Kartini, Kelurahan Wale, Kecamatan Wolio, Baubau, dengan suasana tertib dan kondusif selama tiga hari, yakni 9 hingga 11 Maret 2026.
Ujian proposal skripsi ini menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan tinggi, karena berfungsi sebagai mekanisme evaluasi awal terhadap rencana penelitian mahasiswa sebelum memasuki tahap pengumpulan data dan penulisan skripsi secara utuh.
Secara historis, model ujian proposal telah lama menjadi tradisi akademik di berbagai perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun internasional. Di Indonesia, sistem ini berkembang pesat sejak era reformasi pendidikan tinggi pada awal 2000-an yang menekankan penjaminan mutu. Sementara secara global, praktik serupa telah diterapkan di universitas-universitas di Amerika Serikat dan Inggris sebagai bagian dari standar penelitian ilmiah.
Ketua Panitia Ujian Proposal, Anarida, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya menguji kesiapan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran akademik yang penting.
“Ujian proposal ini merupakan tahapan penting yang harus dilalui mahasiswa sebelum menyusun skripsi secara menyeluruh,” ujar Anarida saat ditemui awak media, Jumat (10/4/2026).
Menurut dia, proses ujian berlangsung secara interaktif. Mahasiswa mempresentasikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, hingga metode penelitian di hadapan dosen penguji yang kemudian memberikan masukan konstruktif.
“Diskusi yang terjadi dalam ujian membantu mahasiswa menyempurnakan rancangan penelitian agar lebih terarah dan sistematis,” katanya.
Sejak pagi hari, suasana kampus tampak dipadati mahasiswa yang mengenakan pakaian formal hitam putih. Mereka menunggu giliran dengan penuh kesiapan dan kepercayaan diri untuk memasuki ruang ujian.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari tiga program studi, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), dan Pendidikan Agama Islam (PAI), yang seluruhnya berada di bawah naungan STAI YPIQ Baubau.
Dalam pelaksanaannya, panitia menerapkan penjadwalan yang terstruktur serta koordinasi yang matang sehingga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Satu per satu mahasiswa memasuki ruang sidang untuk memaparkan proposal penelitian di hadapan dosen penguji,” tambah Anarida.
Ia juga menegaskan bahwa komitmen kampus terhadap peningkatan mutu akademik dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai tahapan evaluasi, termasuk ujian proposal skripsi.
“Melalui proses ini, kami berharap mahasiswa mampu menghasilkan penelitian yang matang, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ujian proposal skripsi juga memiliki peran strategis dalam membentuk kemampuan berpikir kritis mahasiswa, menyusun argumen ilmiah, serta mempertanggungjawabkan ide penelitian secara akademik.
Masukan dari dosen penguji menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memperbaiki dan menyempurnakan proposal sebelum memasuki tahap penelitian lapangan.
baca juga:
- Gubernur Sultra ASR Dorong Fasilitas Sekolah Layak dan Modern Dengan Genjot Pendidikan Lewat Infrastruktur dan Bantuan di Buton Tengah
- Pesantren Kilat hingga Bagi Sedekah, SDN 3 Baubau Hidupkan Ramadhan 1447 H
Selain itu, kegiatan ini turut melatih keberanian mahasiswa dalam menyampaikan gagasan secara sistematis dan logis di forum akademik, yang menjadi salah satu kompetensi penting lulusan perguruan tinggi.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, STAI YPIQ Baubau menunjukkan konsistensinya dalam menciptakan lingkungan akademik yang berkualitas dan berorientasi pada pengembangan keilmuan Islam.
Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan nasional pendidikan tinggi di Indonesia yang terus mendorong peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah sebagai indikator utama daya saing lulusan di tingkat global.(*)
GALERAI FOTO
baca berita lainnya:
SDN 1 Masiri Buton Selatan Hadapi Kekurangan Ruang, Sistem Belajar Disesuaikan
BUTON SELATAN – Ketimpangan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Buton Selatan mendorong sejumlah sekolah dasar menerapkan kebijakan sistem pembelajaran yang berbeda, mulai dari lima hingga enam hari sekolah, sebagai bentuk penyesuaian kondisi di lapangan. “SDN 1 Masiri Buton Selatan Hadapi Kekurangan Ruang, Sistem Belajar Disesuaikan,”

Kondisi ini terlihat di SDN 1 Masiri yang masih mempertahankan sistem enam hari sekolah. Sekolah yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Masiri, Kecamatan Batauga tersebut memilih tidak mengubah jadwal belajar lantaran adanya penolakan dari orang tua siswa.
Kepala SDN 1 Masiri, Jalaluddin, S.Pd, mengatakan bahwa rencana penerapan lima hari sekolah sempat dipertimbangkan sebelumnya. Namun, aspirasi orang tua menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
“Belajar dari rumah kurang efektif karena tidak semua orang tua memiliki ponsel pintar, dan siswa cenderung kurang fokus,” katanya.
Di sisi lain, beberapa sekolah seperti SDN 1 Bangun dan SDN 1 Pogalampa telah lebih dahulu menerapkan sistem lima hari sekolah. Kebijakan tersebut diambil melalui kesepakatan antara pihak sekolah, orang tua murid, serta koordinasi dengan Dinas Pendidikan Buton Selatan.
Dalam sistem lima hari sekolah, kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih panjang, dimulai pukul 07.30 hingga 16.00 WITA, yang kemudian diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler pada siang hingga sore hari.
Namun, kebijakan tersebut belum sepenuhnya didukung oleh program MBG. Hingga kini, distribusi makanan bergizi gratis masih terbatas pada wilayah tertentu.
Dapur umum MBG di Batauga baru menjangkau Desa Masiri untuk dapur pertama, serta wilayah Desa Lawela hingga Laompo untuk dapur kedua. Sementara daerah lain seperti Majapahit hingga Pogalampa belum tersentuh program tersebut.
Ketimpangan ini menyebabkan tidak semua sekolah dapat menerapkan sistem yang sama, terutama karena MBG menjadi salah satu faktor pendukung dalam pengaturan waktu belajar siswa di sekolah.
Di tingkat global, sistem lima hari sekolah juga telah lama diterapkan di berbagai negara seperti Finlandia dan Jepang, yang menekankan keseimbangan antara akademik dan pengembangan karakter siswa melalui kegiatan nonformal.
Namun, implementasi kebijakan tersebut di Indonesia, khususnya di daerah, seringkali menghadapi tantangan berupa kesenjangan fasilitas, akses, dan dukungan program pendukung seperti penyediaan gizi siswa.
baca juga:
- Pemerintah Batalkan Sekolah Daring April 2026, Tatap Muka Tetap Jalan
- Pesantren Kilat hingga Bagi Sedekah, SDN 3 Baubau Hidupkan Ramadhan 1447 H
Di Buton Selatan, program MBG yang diharapkan menjadi solusi peningkatan kualitas gizi dan konsentrasi belajar siswa, masih dalam tahap distribusi terbatas sehingga belum mampu menjangkau seluruh sekolah secara merata.
Jalaluddin menegaskan, jika kebijakan belajar dari rumah atau Work From Home (WFH) diberlakukan, maka program MBG sebaiknya dihentikan sementara.
“Kalau siswa tidak berada di sekolah, tentu penyaluran MBG tidak bisa berjalan efektif,” ujarnya.
Ke depan, pihak sekolah berharap adanya pemerataan program MBG serta peningkatan infrastruktur pendidikan agar kebijakan sistem pembelajaran dapat diterapkan secara optimal dan merata di seluruh wilayah Buton Selatan.(*)








