KOTA BAUBAUPERISTIWASULTRA

Pelni Prediksi Puncak Arus Penumpang di Pelabuhan Murhum Baubau 14–17 Maret, Diskon Tiket 30 Persen Picu Peningkatan Penumpang Hingga 4000 Ribu

BAUBAU, DURASITIMES.COM – Jumlah penumpang kapal yang tiba di Pelabuhan Murhum Baubau menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai mengalami peningkatan. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni memperkirakan total penumpang yang turun dari beberapa kapal yang bersandar pada Selasa (10/3/2026) mencapai sekitar 4.000 orang. “Pelni Prediksi Puncak Arus Penumpang di Pelabuhan Murhum Baubau 14–17 Maret, Diskon Tiket 30 Persen Picu Peningkatan Penumpang Hingga 4000 Ribu,”

Pelni Prediksi Puncak Arus Penumpang di elabuhan Murhum Baubau 14–17 Maret, Diskon Tiket 30 Persen Picu Peningkatan Penumpang Hingga 4000 Ribu
Pelni Prediksi Puncak Arus Penumpang di Pelabuhan Murhum Baubau 14–17 Maret, Diskon Tiket 30 Persen Picu Peningkatan Penumpang Hingga 4000 Ribu

Kepala Cabang PT Pelni (Persero) Baubau, Djasman, mengatakan lonjakan penumpang tersebut didominasi oleh kapal yang datang dari wilayah timur Indonesia, seperti Balikpapan, Ambon, hingga Papua.

Menurutnya, jumlah penumpang yang tiba di Pelabuhan Murhum memang belum menunjukkan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Namun, untuk kedatangan hari itu, jumlahnya tergolong cukup tinggi.

“Kalau kita lihat dari jumlah penumpang yang turun di Pelabuhan Murhum, memang dibandingkan tahun lalu tidak terlalu signifikan. Namun untuk hari ini termasuk cukup tinggi, terutama dari arah Balikpapan dan Papua, khususnya dari Ambon,” kata Djasman kepada awak media.

Ia menjelaskan, dua kapal besar yang bersandar yakni KM Lambelu dan KM Gunung Dempo membawa sekitar 3.500 hingga 3.600 penumpang yang turun di Baubau.

Jika ditambah dengan penumpang dari kapal lainnya yang juga bersandar pada hari yang sama, maka total penumpang yang tiba di Pelabuhan Murhum diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.

“Untuk kapal Lambelu dan Gunung Dempo saja diperkirakan sekitar 3.500 sampai 3.600 penumpang yang turun. Kalau ditambah kapal lainnya, total hari ini kemungkinan sekitar 4.000 penumpang,” jelasnya.

Djasman menyebut angka tersebut berpotensi menjadi salah satu puncak kedatangan penumpang selama periode angkutan Lebaran tahun ini di Pelabuhan Murhum Baubau.

Selain itu, ia memperkirakan lonjakan penumpang berikutnya akan terjadi pada 14 dan 16 Maret 2026, saat kapal dari wilayah timur Indonesia kembali bersandar di pelabuhan tersebut.

Sementara itu, pada 17 Maret diperkirakan juga akan terjadi peningkatan penumpang seiring kedatangan kapal berkapasitas besar seperti KM Labobar dan KM Sinabung.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama periode angkutan Lebaran, PT Pelni juga menambah armada kapal yang melayani rute menuju dan dari Baubau.

“Sebelumnya kapal yang rutin melayani di sini ada sekitar 11 kapal. Kami menambah dua kapal lagi yaitu KM Bukit Siguntang dan KM Gunung Dempo untuk membantu mengantisipasi lonjakan penumpang,” ujarnya.

Di sisi lain, Pelni juga memprediksi arus balik Lebaran akan didominasi penumpang yang kembali menuju wilayah timur Indonesia seperti Ambon, Ternate, dan Papua, terutama melalui perjalanan KM Ciremai dan KM Labobar.

Untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan transportasi laut, Pelni juga memberikan potongan harga tiket sebesar 30 persen selama periode angkutan Lebaran.

baca juga:

  1. Try Sutrisno Meninggal Dunia, Kesehatan Menurun Sejak 16 Februari
  2. Lilin Diduga Pemicu Kebakaran Kios di Lipu, Kios dan Motor Baru Hangus Terbakar, Pemkot Baubau

 

Program diskon tersebut berlaku untuk keberangkatan mulai 11 Maret hingga 6 April 2026 dan dapat dimanfaatkan oleh penumpang di seluruh pelabuhan yang dilayani kapal Pelni.

“Untuk keberangkatan tanggal 11 Maret sampai 6 April, kami memberikan diskon tiket sebesar 30 persen. Program ini berlaku di seluruh pelabuhan, untuk semua kapal dan semua tujuan,” ungkap Djasman.(Prasetio M/Firman)

baca berita lainnya:

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dipastikan Tampak di Indonesia, Wilayah Timur Paling Jelas, Yuk Catat Waktu dan Durasi Gerhananya

DURASITIMES.COM – Fenomena Gerhana Bulan Total dipastikan akan menghiasi langit Indonesia pada Selasa, 3 Maret 2026, menurut rilis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gerhana yang berlangsung saat Bulan berada sepenuhnya di dalam bayangan inti (umbra) Bumi ini dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia apabila kondisi langit cerah. “Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dipastikan Tampak di Indonesia, Wilayah Timur Paling Jelas, Yuk Catat Waktu dan Durasi Gerhananya,”

Ilustrasi, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dipastikan Tampak di Indonesia, Wilayah Timur Paling Jelas, Yuk Catat Waktu dan Durasi Gerhananya
Ilustrasi, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dipastikan Tampak di Indonesia, Wilayah Timur Paling Jelas, Yuk Catat Waktu dan Durasi Gerhananya

Gerhana kali ini terjadi menjelang malam, sebuah waktu yang kerap memberikan latar langit dramatis karena Bulan masih berada di dekat horison saat fase awalnya berlangsung di wilayah Indonesia bagian barat. Sementara itu, kawasan Indonesia timur diperkirakan mendapatkan kesempatan terbaik untuk menyaksikan rangkaian gerhana secara lebih lengkap.

Menurut BMKG, fenomena tersebut dimulai pada pukul 18.03 WIB ketika piringan Bulan mulai memasuki umbra. “Masyarakat dapat menyaksikan gerhana segera setelah Bulan terbit, khususnya di wilayah barat Indonesia,” ujar pejabat BMKG dalam keterangan resminya.

Puncak gerhana akan berlangsung pukul 18.33 WIB atau setara dengan 19.33 WITA dan 20.33 WIT. Pada fase ini, Bulan akan tampak merah gelap hingga kejinggaan, sebuah efek yang disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari melalui atmosfer Bumi. Pembiasan tersebut menyaring cahaya biru dan hanya membiarkan cahaya merah mencapai permukaan Bulan.

Durasi keseluruhan gerhana berlangsung sekitar 5 jam 41 menit. Dari durasi tersebut, fase totalitas—periode ketika Bulan sepenuhnya berada di dalam bayangan inti—akan terjadi sekitar 59 menit. Fase totalitas inilah yang menjadikan gerhana ini menarik bagi masyarakat umum maupun fotografer langit.

Wilayah Indonesia timur, seperti Maluku dan Papua, berpeluang menyaksikan fase awal hingga akhir secara penuh karena posisi Bulan yang lebih tinggi pada waktu gerhana dimulai. Sementara masyarakat di wilayah barat seperti Sumatra dan Jawa diperkirakan akan menyaksikan gerhana ketika Bulan sudah terbit dan fase awal telah berlangsung.

BMKG mengimbau masyarakat memilih lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya untuk mendapatkan tampilan terbaik. “Cari lokasi terbuka seperti pantai, dataran tinggi, atau ruang publik yang tidak terhalang bangunan,” kata pihak BMKG. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memantau kondisi cuaca terkini karena faktor mendung atau hujan dapat mengganggu visibilitas.

Secara historis, Indonesia telah beberapa kali menjadi lokasi pengamatan ideal untuk gerhana Bulan total. Salah satu yang paling diingat adalah gerhana pada 31 Januari 2018 yang menampilkan fenomena “Super Blue Blood Moon”. Di tingkat global, gerhana Bulan juga pernah menjadi momen penting dalam sejarah astronomi, termasuk ketika fenomena pada 1504 digunakan Christopher Columbus untuk meyakinkan penduduk Jamaika setempat mengenai “kekuatan” bangsa Eropa.

Fenomena gerhana Bulan terjadi karena Bumi, Matahari, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga Bumi menghalangi cahaya Matahari yang seharusnya menerangi permukaan Bulan. Siklus gerhana mengikuti pola Saros, sebuah pola berulang setiap 18 tahun 11 hari, sehingga mempengaruhi perkiraan munculnya kembali gerhana-gerhana sejenis.

Dalam konteks edukasi, gerhana Bulan sering dimanfaatkan sebagai ajang pembelajaran publik mengenai dinamika tata surya. Pengamat astronomi menilai fenomena ini sebagai “kelas alam langsung” yang membuat masyarakat lebih memahami cara kerja orbit benda langit. “Gerhana adalah kesempatan bagi kita untuk belajar tanpa harus menggunakan peralatan rumit,” ujar seorang astronom amatir dalam sebuah forum diskusi.

baca juga:

  1. Try Sutrisno Meninggal Dunia, Kesehatan Menurun Sejak 16 Februari
  2. Kapal Kayu KM Intan Celebes Tenggelam di Poleang, Penumpang Selamat dari Gelombang Tinggi

BMKG memastikan bahwa fenomena ini aman dilihat tanpa alat bantu khusus. Tidak seperti gerhana Matahari yang membutuhkan pelindung mata, gerhana Bulan dapat dilihat langsung dengan mata telanjang. Meski demikian, penggunaan teleskop atau kamera telefoto akan memberikan pengalaman visual yang lebih detail.

Fenomena ini juga berpotensi menjadi objek fotografi populer. Dengan kontras warna Bulan yang memerah dan latar senja di beberapa wilayah, gerhana 3 Maret 2026 diperkirakan menghasilkan pemandangan langit yang dramatis. Fotografer dianjurkan menyiapkan tripod dan pengaturan kamera khusus untuk mengabadikan momen totalitas.

BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai waktu dan fase gerhana dapat berubah jika terdapat pembaruan data observasi. Masyarakat diminta tetap mengikuti kanal resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan terbaru, terutama terkait prakiraan cuaca menjelang malam pengamatan.(*)

Visited 28 times, 3 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *