Aamir Khan Akui Terlalu Percaya Diri, Filmnya Laal Singh Chaddha Gagal di Box Office
DURASITIMES.COM -Aktor Bollywood Aamir Khan akhirnya angkat bicara terkait kegagalan film terbarunya, Laal Singh Chaddha, yang tidak mampu memenuhi ekspektasi di box office, meski diproduksi dengan anggaran besar dan melibatkan proses panjang. “Aamir Khan Akui Terlalu Percaya Diri, Filmnya Laal Singh Chaddha Gagal di Box Office,”

Dalam sebuah interaksi terbaru yang berlangsung pada awal 2026, Aamir mengakui bahwa dirinya sempat memiliki keyakinan tinggi terhadap performa film tersebut. Ia bahkan memperkirakan film itu mampu meraih pendapatan hingga 300 crore rupee secara global.
“Saya terlalu percaya diri sejak awal. Saya pikir film ini pasti akan berhasil besar,” ujar Aamir dalam pernyataannya.
Film yang merupakan adaptasi resmi dari Forrest Gump itu diketahui diproduksi dengan biaya sekitar 200 crore rupee. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hasil berbeda, dengan capaian box office yang jauh dari target.
Menurut Aamir, salah satu faktor yang memperparah rasa kecewa adalah ekspektasi tinggi yang ia bangun sendiri sebelum film tersebut dirilis ke publik.
“Ketika ekspektasi kita terlalu tinggi, maka rasa kecewanya juga akan jauh lebih besar,” katanya.
Secara umum, film tersebut mendapatkan respons beragam dari penonton dan kritikus. Sejumlah pihak menilai adaptasi tersebut kurang mampu menghadirkan kedalaman emosi seperti versi aslinya, sementara sebagian lainnya tetap mengapresiasi usaha produksi berskala besar tersebut.
Dalam konteks industri film India, kegagalan film dengan bintang besar bukanlah hal baru. Sebelumnya, sejumlah film beranggaran tinggi juga mengalami nasib serupa meskipun dibintangi aktor papan atas. Hal ini menunjukkan bahwa popularitas aktor tidak selalu menjamin keberhasilan komersial.
Secara historis, Aamir Khan dikenal sebagai aktor dengan rekam jejak sukses di box office melalui film-film seperti Dangal yang mencetak rekor global, serta PK yang menjadi salah satu film terlaris dalam sejarah perfilman India. Oleh karena itu, kegagalan film terbarunya menjadi sorotan publik dan industri.
Di tingkat internasional, fenomena kegagalan film adaptasi juga kerap terjadi. Banyak film yang diadaptasi dari karya populer menghadapi tantangan besar, terutama dalam memenuhi ekspektasi penggemar versi original.
Aamir mengaku bahwa pengalaman ini menjadi pembelajaran penting dalam perjalanan kariernya sebagai aktor dan produser.
“Setiap kegagalan selalu membawa pelajaran. Saya akan lebih berhati-hati ke depan dalam menilai potensi sebuah proyek,” ujarnya.
baca juga:
- Bus Wisata Gratis, Dishub Baubau Dongkrak Kunjungan Libur Idulfitri 2026 ke Pantai Nirwana dan Batu Sori Yang Jadi Favorit Warga dan Wisatawan
- Selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 H, BPOM Baubau Intensifkan Sidak Pangan di Kepulauan Buton,…
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak akan berhenti berkarya dan tetap berkomitmen untuk menghadirkan film berkualitas di masa mendatang.
“Ini bukan akhir, justru bagian dari proses saya untuk menjadi lebih baik,” tambahnya.
Kegagalan Laal Singh Chaddha sekaligus menjadi pengingat bagi industri perfilman bahwa strategi pemasaran, momentum rilis, serta penerimaan publik memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan sebuah film, selain faktor produksi dan kualitas cerita.(*)
baca berita lainnya:
Gubernur Sultra ASR Tinjau RSUD Baubau, Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Untuk Wilayah Kepton
BAUBAU, DURASITIMES.COM— Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau pada Jumat (6/3/2026) pagi. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan sekaligus mendorong penguatan peran rumah sakit sebagai rujukan utama bagi wilayah kepulauan. “Gubernur Sultra ASR Tinjau RSUD Baubau, Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Untuk Wilayah Kepton,”

Kunjungan itu juga menjadi bagian dari langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mempersiapkan infrastruktur pelayanan dasar jika rencana pembentukan Provinsi Kepulauan Buton (Kepton) sebagai daerah otonomi baru terealisasi.
Dalam agenda tersebut, gubernur meninjau sejumlah fasilitas layanan kesehatan di RSUD Baubau, antara lain ruang tindakan medis, ruang Intensive Care Unit (ICU), serta poli paru. Ia juga berdialog dengan tenaga medis dan menyapa pasien yang sedang menjalani perawatan.
“Kami ingin memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik. Rumah sakit ini memiliki peran penting bagi masyarakat kepulauan sehingga fasilitasnya harus terus diperkuat,” ujar Andi Sumangerukka saat berdialog dengan tenaga medis di rumah sakit tersebut.
RSUD Kota Baubau selama ini menjadi rumah sakit rujukan bagi berbagai puskesmas di wilayah kepulauan sekitar. Posisi strategis tersebut membuat peningkatan kapasitas pelayanan rumah sakit dinilai penting agar masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang cepat dan memadai.
Menurut gubernur, peningkatan status RSUD Baubau dari tipe C menjadi tipe B menjadi salah satu langkah yang tengah didorong oleh pemerintah provinsi. Proses tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan agar persyaratan peningkatan status rumah sakit dapat dipenuhi, baik dari sisi fasilitas maupun sumber daya manusia,” katanya.
Selain itu, pemerintah provinsi juga membuka peluang pemanfaatan lahan milik Pemprov Sultra untuk mendukung pengembangan RSUD Baubau di masa mendatang.
“Jika diperlukan, lahan milik pemerintah provinsi bisa dimanfaatkan untuk pengembangan rumah sakit agar kapasitas pelayanan semakin besar,” ujar Andi Sumangerukka.
Penguatan fasilitas kesehatan tersebut dinilai penting karena Baubau berada pada posisi strategis sebagai pusat pelayanan bagi wilayah kepulauan di Sulawesi Tenggara, khususnya kawasan Buton dan sekitarnya.
Dalam konteks rencana pemekaran wilayah, pemerintah menilai bahwa kesiapan infrastruktur pelayanan dasar seperti rumah sakit rujukan menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan daerah otonomi baru.
Sejarah menunjukkan bahwa penguatan layanan kesehatan sering menjadi indikator kesiapan daerah dalam menjalankan fungsi pemerintahan baru. Di Indonesia, misalnya, pengembangan rumah sakit rujukan menjadi bagian dari persiapan pembentukan sejumlah provinsi baru setelah era otonomi daerah yang dimulai pada awal 2000-an.
Secara nasional, peningkatan klasifikasi rumah sakit juga menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat sistem rujukan kesehatan. Kebijakan ini semakin diperkuat setelah pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2014 yang menuntut ketersediaan fasilitas kesehatan yang lebih merata.
baca juga:
- Libur Lebaran, BPJS Baubau Jamin Layanan UGD Faskes Tetap Siaga 24 Jam
- Kabid Kesmas Buton Selatan Wa Ode Mahazura Tinjau Faskes Batuatas, Medan Ekstrem Menuju…
Di tingkat global, penguatan rumah sakit regional juga menjadi strategi yang diterapkan banyak negara kepulauan untuk memastikan akses kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.
Karena itu, menurut Andi Sumangerukka, pengembangan RSUD Baubau tidak hanya penting bagi pelayanan kesehatan saat ini, tetapi juga sebagai bagian dari kesiapan wilayah menghadapi perkembangan tata kelola pemerintahan di masa depan.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, mudah diakses, dan berkualitas,” kata dia.
Dengan dukungan peningkatan fasilitas, kapasitas tenaga medis, serta kemungkinan perluasan area layanan, RSUD Baubau diharapkan dapat menjadi pusat rujukan kesehatan yang mampu melayani masyarakat secara optimal di kawasan kepulauan Sulawesi Tenggara.(*)

