BOLALIGA SPANYOL

Atletico Madrid Mengamuk 4-0 Atas Barca, Simeone Pamer Selebrasi Tajam dan Angkat Tiga Jari ke Lamine Yamal

ATLETICO Madrid membuka jalan menuju final Copa del Rey setelah membungkam FC Barcelona dengan skor telak 4-0 pada leg pertama semifinal di Wanda Metropolitano, Kamis dini hari waktu setempat. Empat gol yang seluruhnya tercipta di babak pertama menempatkan tuan rumah di posisi ideal untuk melangkah ke partai puncak. “Atletico Madrid Mengamuk 4-0 Atas Barca, Simeone Pamer Selebrasi Tajam dan Angkat Tiga Jari ke Lamine Yamal,”

Atletico Madrid Mengamuk 4-0 Atas Barca, Simeone Pamer Selebrasi Tajam dan Angkat Tiga Jari ke Lamine Yamal
Atletico Madrid Mengamuk 4-0 Atas Barca, Simeone Pamer Selebrasi Tajam dan Angkat Tiga Jari ke Lamine Yamal

Kemenangan besar ini tidak hanya menentukan arah semifinal, tetapi juga memunculkan sejumlah momen emosional di tepi lapangan. Pelatih Atletico, Diego Simeone, menjadi sorotan setelah melakukan selebrasi keras serta mengangkat tiga jari ke arah penyerang muda Barcelona, Lamine Yamal, usai gol ketiga Atletico.

Pertandingan dimulai dengan tekanan tinggi yang langsung dilakukan Atletico. Dalam tempo kurang dari 20 menit, Eric Garcia mencetak gol bunuh diri yang membuka keunggulan tuan rumah. Aksi tersebut membuat moral Barcelona menurun sejak awal dan memicu dominasi Atletico.

Tak berselang lama, Antoine Griezmann sukses menggandakan keunggulan lewat penyelesaian yang tenang. Penguasaan lini tengah yang kuat membuat Barcelona tidak mampu keluar dari tekanan selama babak pertama.

Ademola Lookman kemudian menorehkan gol ketiga yang menegaskan superioritas Atletico. Pada momen inilah Simeone mengangkat tiga jari ke arah Yamal. Gestur itu memicu perbincangan karena mencerminkan intensitas mental yang ingin ditunjukkan Simeone kepada pemain muda Barcelona tersebut.

Serangan tanpa henti Atletico berpuncak pada gol keempat melalui Julian Alvarez. Barcelona seolah tak berdaya menghadapi gempuran yang datang dari setiap sisi lapangan, dan babak pertama ditutup dengan skor 4-0.

Kesialan Barcelona bertambah ketika gol Pau Cubarsi dianulir setelah pemeriksaan VAR yang berlangsung delapan menit. Sistem offside semi-otomatis mengalami gangguan akibat kerumunan pemain, sehingga ofisial harus menggambar garis secara manual. “Saya tidak tahu apa yang mereka putuskan, tetapi saya tidak setuju,” ujar pelatih Barcelona, Hansi Flick, usai laga.

Kontroversi VAR tersebut menjadi salah satu penundaan terlama dalam sejarah kompetisi domestik Spanyol. Secara internasional, insiden serupa pernah terjadi pada Liga Champions 2019 ketika VAR memakan waktu hampir lima menit pada laga Manchester City vs Tottenham.

Drama semakin memanas ketika Eric Garcia menerima kartu merah langsung pada menit ke-85 akibat tekel keras terhadap Alex Baena. Insiden itu membuat malam sang bek berakhir dengan kekecewaan, setelah sebelumnya membuat gol bunuh diri.

Simeone menilai kemenangan ini penting secara emosional bagi tim dan pendukung. “Saya pikir para suporter kami membutuhkan pertandingan seperti ini,” katanya. “Kami tidak boleh lengah karena masih ada leg kedua, tetapi hari ini kami memberi kebahagiaan bagi para suporter kami.”

Flick mengakui permainan timnya tampil jauh di bawah standar. Ia juga menyinggung sejumlah pemain utama yang absen, termasuk Raphinha, Gavi, Pedri, Marcus Rashford, dan Andreas Christensen. “Kami tidak bermain dengan baik. Leg kedua akan sulit, tetapi kami akan berjuang,” ucapnya.

baca juga:

  1. Barcelona Dapat Sorotan, Flick Sentil Madrid soal Kekalahan dari Albacete
  2. Sultra Perkuat Indonesia ASRI sebagai Gerakan Bersih Terpadu dan Berkelanjutan Tindaklanjuti

Secara historis, Atletico memiliki rekam jejak kuat di kompetisi ini. Mereka terakhir kali mencapai final Copa del Rey pada 2013 dan terakhir meraih trofi mayor pada 2021 ketika menjuarai LaLiga. Sementara Barcelona merupakan klub dengan koleksi titel Copa del Rey terbanyak di Spanyol, yakni 31 trofi.

Dengan kemenangan ini, Atletico hanya membutuhkan hasil imbang pada leg kedua untuk memastikan tiket final, di mana mereka berpotensi menghadapi pemenang antara Real Sociedad dan Athletic Bilbao.(*)

baca berita lainnya:

Barcelona Kritik VAR dan Targetkan Comeback Usai Dipermalukan Atletico 0-4

MADRID, DT – Barcelona berada di ujung tanduk setelah takluk 0-4 dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey di Stadion Metropolitano, Kamis waktu setempat. Kekalahan besar tersebut membuat tim asuhan Hansi Flick harus mengejar misi hampir mustahil pada leg kedua di Spotify Camp Nou, 3 Maret mendatang. “Barcelona Kritik VAR dan Targetkan Comeback Usai Dipermalukan Atletico 0-4,”

Barcelona Kritik VAR dan Targetkan Comeback Usai Dipermalukan Atletico 0-4
Barcelona Kritik VAR dan Targetkan Comeback Usai Dipermalukan Atletico 0-4

Meski hasil akhir menjadi sorotan, pertandingan sudah berlangsung berat bagi Barcelona sejak menit-menit awal. Tuan rumah tampil agresif dan memanfaatkan setiap celah pertahanan lawan untuk mengamankan keuntungan besar di babak pertama.

Kartu merah Eric Garcia di penghujung laga semakin memperburuk situasi tim tamu. Barcelona harus tampil dengan 10 pemain selama tambahan waktu yang mencapai 10 menit, membuat tekanan dari Atletico semakin sulit ditahan.

Gol bunuh diri Eric Garcia menjadi pembuka keunggulan tuan rumah. Atletico kemudian menghujani gawang Barcelona melalui Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julian Alvarez. Semua gol tercipta sebelum turun minum, menempatkan Barcelona pada posisi terburuk dalam sejarah semifinal Copa del Rey sejak 2015.

Flick mengakui timnya tampil jauh dari standar. “Kami tidak bermain dengan baik di babak pertama sebagai sebuah tim. Jarak antarpemain terlalu jauh dan kami tidak menekan seperti yang kami inginkan,” ujarnya seusai pertandingan.

Selain performa buruk, Barcelona juga merasa dirugikan oleh keputusan VAR. Gol Pau Cubarsi pada menit ke-51 dianulir setelah peninjauan yang memakan waktu lebih dari enam menit. Keputusan itu membuat Flick tidak dapat menahan kemarahannya. “Soal gol yang dianulir, ayolah. Mereka harus menunggu tujuh menit? Ketika saya melihat situasinya, itu tidak offside,” tegasnya.

Menurut Flick, komunikasi dari wasit sangat minim sepanjang laga. Ia juga mengkritik keputusan awal pertandingan yang dianggap tidak konsisten. “Pelanggaran terhadap Alejandro Balde pada aksi pertama harusnya kartu kuning. Semuanya menjadi berbeda sejak saat itu,” kata pelatih asal Jerman tersebut.

Meski demoralizing, Barcelona berusaha memperbaiki permainan pada babak kedua. Penguasaan bola meningkat, serangan lebih terstruktur, dan tekanan terhadap lini belakang Atletico lebih terasa. Namun, efektivitas tetap menjadi masalah besar bagi skuad Catalan.

Secara historis, Barcelona memang pernah membuat comeback besar. Salah satunya terjadi di Liga Champions 2017 ketika mengalahkan Paris Saint-Germain 6-1 setelah kalah 0-4 pada leg pertama. Namun, di kompetisi domestik, tak banyak tim yang berhasil membalikkan defisit empat gol pada fase gugur Copa del Rey sejak era 1980-an.

Di panggung internasional, comeback epik juga tercatat dalam sejarah sepak bola, seperti Liverpool yang bangkit di final Liga Champions 2005 atau Tottenham pada semifinal Liga Champions 2019. Namun, kondisi Barcelona saat ini dinilai lebih kompleks karena performa mereka yang naik turun sepanjang musim.

baca juga:

  1. Barcelona Bantai Real Madrid 4-0 di Santiago Bernabeu Pada Babak Kedua, MBappe Offside
  2. Bupati Buton Tengah Azhari Luruskan Isu Dana Siluman dan Jelaskan Mekanisme Biaya Tidak

Flick tetap menegaskan optimisme meskipun peluang Barcelona tipis. “Saya tetap bangga dengan tim saya sepanjang musim. Kami punya banyak cedera dan terus beradaptasi. Kami akan bangkit. Jika kami bisa menang di tiap babak 2-0, itu target kami,” ujarnya.

Barcelona kini menaruh harapan pada dukungan penuh suporter Camp Nou. Flick berharap energi stadion dapat memberikan motivasi ekstra bagi timnya, terutama menghadapi kemungkinan laga hidup-mati untuk satu tiket final melawan pemenang duel Real Sociedad versus Athletic Club.

Dengan agregat tertinggal empat gol, Blaugrana tidak punya pilihan lain selain tampil agresif sejak menit pertama di leg kedua. Comeback menjadi satu-satunya jalan untuk menjaga tradisi mereka sebagai salah satu klub tersukses Copa del Rey.(*)

Visited 43 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *