Dinkes Baubau Tegaskan Tidak Ada Program Kesehatan yang Boleh Tertinggal, dr. Frederik: Semua Program Kesehatan Setara dan Wajib Berjalan
BAUBAU, DT – Upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat menjadi fokus utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau, yang menegaskan bahwa seluruh program kesehatan harus berjalan beriringan tanpa ada satu pun yang diabaikan. Penegasan ini datang di tengah semakin kompleksnya tantangan kesehatan masyarakat, baik pada tingkat lokal, nasional maupun global. “Dinkes Baubau Tegaskan Tidak Ada Program Kesehatan yang Boleh Tertinggal, dr. Frederik: Semua Program Kesehatan Setara dan Wajib Berjalan,”
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr. Frederik Tangke Allo, yang menilai bahwa setiap program memiliki keterkaitan langsung dalam membentuk kualitas hidup masyarakat. Karena itu, menurutnya, semua program wajib diprioritaskan secara berimbang.

Menurut dr. Frederik, berbagai program yang dijalankan saat ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. Mulai dari program kesehatan ibu dan anak, imunisasi, penanganan penyakit menular, hingga penguatan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
Ia menambahkan, sinergi tersebut juga dipengaruhi oleh dukungan Pemerintah Kota Baubau yang terus mendorong peningkatan layanan kesehatan hingga lapisan masyarakat terbawah. Tanpa dukungan tersebut, program lintas bidang sulit mencapai sasaran yang ditetapkan.
“Semua program punya peran. Kalau satu saja terhambat, maka rangkaian program lainnya juga terdampak,” ujar dr. Frederik dalam wawancara di ruang kerjanya, Jumat (30/1/2026).
Dinkes Baubau, kata dia, terus mengoptimalkan pelaksanaan program nasional seperti kesehatan gratis, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), makan bergizi gratis, serta layanan preventif untuk mencegah peningkatan kasus penyakit menular dan tidak menular.
Ia menjelaskan bahwa program gizi ibu hamil dan anak menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan dengan pencegahan stunting yang masih menjadi persoalan nasional. Baubau pun memiliki tanggung jawab untuk menurunkan angka stunting sebagai bagian dari target Indonesia.
“Kalau gizi ibu hamil tidak diperhatikan, itu berdampak pada bayi dan masa tumbuh kembang anak. Jadi program harus dijalankan bersama-sama,” jelasnya.
Dalam konteks historis, Indonesia telah melalui berbagai fase tantangan kesehatan, mulai dari tingginya angka kematian ibu pada era 1970-an, epidemi gizi buruk di beberapa daerah pada 1990-an, hingga penurunan signifikan kasus penyakit menular seperti polio yang dinyatakan tereliminasi pada 2014. Transformasi kesehatan terus berlanjut dengan fokus pada percepatan penanganan stunting dan penguatan layanan primer.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan sangat bergantung pada kesinambungan program lintas sektor. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah membuktikan bahwa investasi pada layanan kesehatan primer sejak masa kehamilan hingga lanjut usia memiliki dampak langsung pada kualitas SDM dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dr. Frederik menilai pola tersebut sejalan dengan kebijakan kesehatan di Kota Baubau yang melihat kesehatan dalam satu siklus kehidupan, mulai dari remaja, calon ibu, ibu hamil, bayi, anak usia sekolah, dewasa, hingga lansia. Setiap fase, katanya, memiliki intervensi yang dirancang untuk mencegah risiko jangka panjang.
baca juga:
- Enam Daerah di Wilayah Kerja BPJS Kesehatan Baubau Raih UHC Award 2026
- Capaian UHC 85 Persen, Walikota Baubau H Yusran Fahim Digganjar Penghargaan Nasional UHC Award…
“Ini bukan soal fisik saja, tapi kualitas hidup secara menyeluruh. Kesehatan berjalan dari satu fase ke fase berikutnya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa rangkaian program yang dijalankan Dinkes Baubau menjadi fondasi penting dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045. Tujuan besarnya ialah membentuk generasi yang terbebas dari stunting, berdaya saing, dan mampu menopang pembangunan jangka panjang.
“Targetnya jelas, tidak boleh ada lagi stunting karena kekurangan gizi. Kita ingin menciptakan generasi emas dari Kota Baubau,” tutupnya.(*)
baca berita lainnya:
Kecamatan Betoambari Dominasi Kasus DBD, Dinkes Baubau Minta Warga Perketat Kebersihan Usai Kasus DBD Naik Jadi 16
BAUBAU, DT — Memasuki awal tahun 2026, Pemerintah Kota Baubau mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) setelah laporan kasus menunjukkan kenaikan menjadi 16 kasus. Dinas Kesehatan (Dinkes) meminta masyarakat mengambil peran lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan untuk menekan laju penularan penyakit tersebut. “Kecamatan Betoambari Dominasi Kasus DBD, Dinkes Baubau Minta Warga Perketat Kebersihan Usai Kasus DBD Naik Jadi 16,”

Lonjakan kasus itu terpantau sejak memasuki musim penghujan yang berlangsung intens pada Januari. Kondisi cuaca yang lembap dan tingginya curah hujan kerap membuat genangan air muncul di berbagai titik, terutama di wilayah padat penduduk. Situasi tersebut menjadi pemicu berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebab DBD.
Kepala Dinas Kesehatan Baubau, dr. Frederik Tangke Allo, menjelaskan bahwa peningkatan kasus pada awal tahun sebenarnya merupakan pola tahunan yang sudah sering terjadi. Setiap memasuki musim hujan, pertumbuhan nyamuk meningkat drastis karena lingkungan yang mendukung untuk bertelur dan berkembang biak.
“Biasanya dari Januari sampai Maret atau April, kasus DBD cenderung naik karena kondisi cuaca yang menguntungkan bagi nyamuk,” ujarnya dalam wawancara di ruang kerjanya, Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan bahwa wadah penampungan air, kaleng bekas, hingga barang-barang yang tidak terpakai sering kali menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk tanpa disadari warga. Karena itu, pemeriksaan berkala terhadap lingkungan rumah perlu dilakukan untuk memutus siklus hidup nyamuk.
baca juga:
- Enam Daerah di Wilayah Kerja BPJS Kesehatan Baubau Raih UHC Award 2026
- Kejari dan Pemkot Baubau Bersinergi Dukung Anti Kecurangan Program JKN
Meski telah terjadi peningkatan dari 13 menjadi 16 kasus, Frederik menjelaskan bahwa jumlah kasus tersebut masih lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada beberapa tahun lalu, Kota Baubau pernah mencatat antara 20 hingga 30 kasus DBD hanya dalam periode Januari.
Di tingkat nasional, pola kenaikan serupa juga pernah terjadi. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia mengalami siklus lonjakan signifikan pada 2010, 2016, dan 2019. Pada 2016, misalnya, lebih dari 200.000 kasus DBD tercatat secara nasional, menjadikannya salah satu tahun dengan jumlah kasus tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Menurut Dinkes Baubau, sebagian besar kasus ditemukan di wilayah perkotaan. Kecamatan Betoambari menjadi area dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai lima kasus sejak awal tahun. Wilayah tersebut dikenal memiliki mobilitas masyarakat tinggi yang sering beriringan dengan peningkatan produksi sampah rumah tangga.
“Lingkungan yang tidak bersih dan banyak barang bekas berpotensi menjadi sarang nyamuk. Karena itu kesadaran warga sangat diperlukan,” ujar Frederik.
Dinas Kesehatan juga menilai bahwa kegiatan pencegahan seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan gerakan 3M Plus memiliki peran penting dalam menekan jumlah kasus. Program tersebut telah digencarkan sebelum musim hujan melalui kerja sama puskesmas dan masyarakat.
Frederik mengingatkan masyarakat untuk memastikan tidak ada pakaian bergelantungan, tempat air terbuka, maupun sampah yang menumpuk di sekitar rumah. Menurutnya, semua faktor kecil menjadi penentu keberhasilan upaya pengendalian DBD.
“Tanpa lingkungan yang bersih, upaya pencegahan akan sulit berjalan optimal. Peran warga sangat menentukan hasilnya,” tegasnya.
Dinkes berharap kolaborasi aktif antara pemerintah, fasilitas layanan kesehatan, dan masyarakat mampu mencegah DBD berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Dengan curah hujan yang diprediksi berlangsung hingga April, kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas utama.(*)

