
Hilirisasi Jambu Mete di Baubau Dibidik, Kementan Soroti Penyakit Tanaman
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Potensi jambu mete di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, mulai dilirik untuk dikembangkan melalui hilirisasi komoditas strategis perkebunan. Pemerintah melihat peluang peningkatan nilai ekonomi tidak hanya dari kacang mete, tetapi juga dari sejumlah produk turunannya yang dapat menopang industri sekaligus memperbesar manfaat bagi petani dan pelaku usaha lokal. “Hilirisasi Jambu Mete di Baubau Dibidik, Kementan Soroti Penyakit Tanaman,”

Peluang tersebut mengemuka setelah perwakilan Kementerian Pertanian (Kementan) RI bersama Utusan Khusus Presiden (UKP), Kementerian Perindustrian, serta Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Direktur Hilirisasi Perkebunan melakukan kunjungan ke Kota Baubau dan bertemu Wali Kota Baubau, Rabu (2/9/2026).
Menurut Kementan, kondisi pasar jambu mete di Baubau sejauh ini relatif telah terbentuk. Hasil produksi petani telah terserap pasar, bahkan terdapat pihak yang mengambil langsung komoditas tersebut dari petani. Kondisi ini menjadi modal awal untuk mendorong pengembangan industri pengolahan di daerah.
“Baubau memiliki potensi untuk itu, tetapi masih ada kendala terkait penyakit dan kerentanan tanaman itu sendiri,” kata Sulkandi, perwakilan Kementan RI.
Persoalan tersebut dinilai penting karena peningkatan produksi dan hilirisasi tidak dapat dipisahkan dari kondisi bahan baku. Kementan meminta kondisi tanaman jambu mete di Baubau diperiksa secara teknis untuk memastikan faktor penyebab penyakit dan kerentanan tanaman sebelum langkah pengembangan lebih lanjut dilakukan.
“Ini perlu di-cross-check ke lapangan secara teknis untuk mengetahui apa yang menyebabkan kondisi tersebut,” ujar Sulkandi.
Secara historis, jambu mete telah lama menjadi bagian dari pengembangan perkebunan di Indonesia, terutama di wilayah timur. Data FAO mencatat luas areal jambu mete Indonesia meningkat dari sekitar 58.000 hektare dengan produksi 9.000 ton pada 1975 menjadi sekitar 466.000 hektare dengan produksi 78.000 ton pada 1996. Namun, peningkatan luas areal ketika itu belum sepenuhnya diikuti produktivitas karena persoalan bahan tanam, pengelolaan kebun, hama, dan penyakit.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa tantangan produktivitas bukan persoalan baru. Dalam pengembangan jambu mete Indonesia, lebih dari 90 persen produksi pada periode tersebut berada di tangan petani kecil. Sulawesi Tenggara juga tercatat sebagai salah satu sentra utama, dengan kontribusi sekitar 46 persen dari areal produksi jambu mete Indonesia pada 1996.
Di tingkat global, jambu mete yang berasal dari kawasan Amerika Selatan dan Tengah kini telah menyebar luas ke kawasan tropis Asia dan Afrika. Komoditas ini memiliki tiga potensi produk utama, yakni kacang, buah semu, dan cairan kulit biji atau Cashew Nut Shell Liquid (CNSL). CNSL memiliki berbagai pemanfaatan industri, antara lain untuk bahan pelapis, plastik, bahan kimia, dan komponen industri lainnya.
Karena itu, peluang hilirisasi di Baubau tidak berhenti pada pengolahan kacang mete. Pemanfaatan CNSL dan produk turunan lainnya dapat menjadi jalan untuk menciptakan rantai nilai baru di daerah. Tantangannya adalah membangun sistem pengolahan yang mampu menghubungkan produksi petani, industri lokal, pasar, dan teknologi secara berkelanjutan.
baca juga:
- Baubau Dilirik Cornhouse, Pabrik Pengolahan Mete 30 Ribu Ton Disiapkan
- KONTEMPLASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DENGAN DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA DENGAN…
“Yang penting bagaimana menciptakan sistem yang mampu memberikan nilai tambah lebih besar kepada petani dan pelaku usaha lokal melalui pengolahan di daerah,” kata Sulkandi. Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda bersama pemerintah untuk mendorong hilirisasi komoditas strategis perkebunan sekaligus memperkuat posisi jambu mete sebagai komoditas bernilai ekonomi.(*)
baca berita lainnya:
Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Masuk Rantai Industri Mete Global, Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Baubau
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Kota Baubau didorong mengambil posisi lebih strategis dalam rantai industri jambu mete di Sulawesi Tenggara dengan tidak lagi bertumpu pada perdagangan bahan mentah. Penguatan industri pengolahan dari hulu hingga hilir dinilai dapat membuka nilai tambah bagi petani, memperluas ruang usaha UMKM, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjadikan Baubau sebagai pintu pemasaran produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi. “Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Masuk Rantai Industri Mete Global, Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Baubau,”

Dorongan tersebut disampaikan Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital, Wahyu Andrianto, seusai menemui Wali Kota Baubau untuk membahas pengembangan potensi komoditas jambu mete di Kota Baubau, Rabu (2/9/2026). Ia menilai posisi Baubau sebagai salah satu pusat perdagangan dan jasa di kawasan Kepulauan Buton dapat menjadi modal penting untuk membangun ekosistem industri mete.
Menurut Wahyu, hilirisasi harus membuat komoditas yang berasal dari daerah menghasilkan manfaat lebih besar di daerah asalnya. Karena itu, investasi tidak cukup hanya menjamin penyerapan bahan baku, tetapi harus disertai pembangunan industri, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pertumbuhan UMKM.
“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, semua harus ada nilai tambah. Itu tercermin dari program hilirisasi kita. Kita masuk dari kacang mete atau produk kacang-kacangan lainnya, harus ada nilai tambahnya agar nantinya dinikmati mulai dari industri yang ada di sini, baik UMKM bahkan petani,” ujar Wahyu.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan industrialisasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk memperdalam struktur industri dan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. Kementerian Perindustrian mencatat kebijakan hilirisasi diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan devisa ekspor.
Dalam konteks jambu mete, peluang hilirisasi tidak sebatas menghasilkan kacang mete siap konsumsi. Secara global, tanaman Anacardium occidentale berasal dari Brasil dan menyebar ke berbagai kawasan tropis setelah dibawa bangsa Portugis ke India dan Afrika pada abad ke-16. Setelah Perang Dunia II, produksi dan konsumsi mete dunia meningkat tajam sehingga komoditas tersebut berkembang menjadi salah satu kacang perdagangan penting dunia.
Sejarah perdagangan mete juga menunjukkan bahwa pengolahan dapat menjadi penentu posisi suatu negara dalam rantai nilai global. India, misalnya, mulai memanfaatkan perdagangan internasional kernel mete pada awal abad ke-20 dan kemudian berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan produk mete dunia. Data tersebut memberi gambaran bahwa komoditas yang tumbuh di wilayah tropis dapat berkembang menjadi industri apabila didukung pengolahan, perdagangan, teknologi, dan pasar.
Karena itu, Wahyu menilai investasi dari luar daerah maupun luar negeri tetap diperlukan selama memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal. “Siapapun yang mau berinvestasi di Indonesia selama itu memberikan nilai tambah dan bisa meningkatkan industrialisasi di sini, itu pasti kita sangat dukung,” tegasnya. Kehadiran investor diharapkan membantu menjamin ketersediaan bahan baku, membuka akses pasar, dan menciptakan peluang harga yang lebih baik bagi komoditas petani.
Namun, industrialisasi mete di Sulawesi Tenggara tidak boleh berjalan terpisah dari masyarakat. Wahyu menekankan pentingnya membangun mata rantai yang menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku, industri sebagai pengolah, serta UMKM dan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari ekosistem produksi. “Harus dibarengi dengan pembangunan dan investasi industri yang ada di Sulawesi Tenggara dan melibatkan atau bisa menyerap tenaga kerja yang ada di sini. Juga dicari cara bagaimana agar UMKM-nya bisa tumbuh di sini,” ujarnya.
Perhatian juga diarahkan kepada Generasi Z yang dinilai memiliki karakter berbeda dalam memasuki dunia usaha. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi dapat masuk ke rantai industri melalui pengolahan, pemasaran digital, pengembangan merek, inovasi produk, dan kewirausahaan. Dari sisi tugasnya di bidang UMKM, ekonomi kreatif, dan digital, Wahyu menyebut pemanfaatan teknologi informasi serta pengembangan kekayaan intelektual menjadi dua hal yang akan diperhatikan untuk disampaikan kepada Presiden.
“Bagaimana kekayaan intelektual itu menjadi sumber harta karun, supaya industri mete itu dengan sentuhan kreatif bisa membuat ekonomi yang baru,” katanya.
baca juga:
- Kebakaran Lahan di Baubau Meluas, Rumah Warga hingga Kapal Nelayan Bekas Ikut Dilalap Api, , Warga Kembali Diingatkan Soal Pembakaran dan Terus Waspada
- Rute Baubau-Makassar Dibuka Lagi, Terbang Setiap Hari Super Air Jet Pasang Tarif Rp800 Ribu Mulai …
Dengan posisi Baubau sebagai salah satu simpul perdagangan dan jasa di Kepulauan Buton, penguatan konektivitas dan layanan perdagangan dinilai menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Baubau diharapkan mampu menjadi pintu pasar bagi produk-produk dari daerah sekitar, termasuk komoditas perkebunan jambu mete. Jika ekosistem itu terbentuk, hilirisasi tidak hanya mengubah bentuk komoditas, tetapi juga menggeser pusat manfaat ekonomi dari sekadar penjualan bahan mentah menuju industri, inovasi, UMKM, tenaga kerja, dan pasar yang lebih luas. (*)
