
Baubau Dilirik Cornhouse, Pabrik Pengolahan Mete 30 Ribu Ton Disiapkan
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Potensi mete Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai menarik perhatian investor global. Cornhouse B.V., perusahaan perdagangan asal Rotterdam, Belanda, tengah melakukan studi kelayakan untuk membangun pabrik pengolahan mete dengan kapasitas bahan baku hingga 30 ribu ton per tahun di Sultra. “Baubau Dilirik Cornhouse, Pabrik Pengolahan Mete 30 Ribu Ton Disiapkan,”

Rencana tersebut mencakup pembangunan fasilitas pengolahan yang dipusatkan di satu lokasi terpadu. Dari kapasitas bahan baku tersebut, perusahaan memperkirakan dapat menghasilkan sekitar 8 ribu ton mete olahan per tahun atau sekitar 1.800 ton per bulan. Kajian dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku sekaligus memetakan kualitas mete di Baubau, Muna, Buton, hingga Kendari.
Representative Cornhouse B.V. Mohammad Andriza Syarif mengatakan kajian itu juga diselaraskan dengan program penanaman mete Kementerian Pertanian di sejumlah wilayah. Menurut dia, keberadaan industri pengolahan di sentra bahan baku dapat mempersingkat rantai perdagangan yang selama ini membuat hasil panen petani melewati sejumlah perantara sebelum masuk ke pasar internasional. “Hasil studi ini menjadi bahan pengambilan keputusan kami untuk melanjutkan proses pembangunan pabrik,” kata Andriza seusai menemui Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim, SE, di ruang kerjanya, Rabu (2/9/2026).
Kebutuhan bahan baku menjadi salah satu aspek utama yang dihitung Cornhouse. Perusahaan saat ini mencatat pengiriman mete mencapai enam kontainer per hari, sementara pertumbuhan pasar diperkirakan sekitar 7 persen setiap tahun. Jika pasokan Sultra belum mencukupi, bahan baku akan ditopang dari daerah lain, antara lain Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, hingga Flores. Sebaliknya, saat panen raya, perusahaan menyiapkan mekanisme penyimpanan stok untuk menjaga kesinambungan produksi.
Rencana tersebut berpotensi mengubah posisi petani dalam rantai nilai komoditas mete. Cornhouse memproyeksikan harga pembelian mete mentah dari petani lokal dapat mencapai Rp35.000 per kilogram. Dengan asumsi rendemen (ricinut) 285 gram per kilogram, perusahaan menilai produk olahan dari Sultra masih kompetitif dibandingkan harga mete di Vietnam yang disebut berada di kisaran Rp116.000 per kilogram. “Dengan kalkulasi harga beli Rp35.000 di tingkat petani, kita masih sanggup bersaing dengan harga mete di Vietnam,” ujar Andriza.
Pengembangan industri tersebut juga memiliki konteks historis di Sultra. Jambu mete sejak dekade 1970-an banyak dikembangkan sebagai bagian dari penghijauan lahan kritis. Kajian Kementerian Pertanian menyebut sejumlah pertanaman mete di Sultra berasal dari pengembangan pada periode tersebut dan sebagian telah berumur lebih dari 30 tahun. Pada 1997, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kendari bahkan telah mencatat jambu mete sebagai salah satu komoditas andalan Sultra, meski produktivitasnya ketika itu masih rendah karena pola pengelolaan yang konvensional.
Secara nasional, industri mete juga memiliki sejarah panjang. Data Ditjen Perkebunan menunjukkan produksi jambu mete Indonesia mencapai 135.070 ton pada 2005, meningkat menjadi 149.138 ton pada 2006, kemudian turun menjadi 133.282 ton pada 2009. Pada periode yang sama, luas areal jambu mete Indonesia mencapai 566.394 hektare pada 2009. Sementara secara global, posisi Vietnam sebagai pusat pengolahan mete telah terbentuk sejak lama. Bank Dunia mencatat Vietnam menjadi eksportir mete terbesar secara nilai pada 2008 dan memiliki keunggulan berupa skala kapasitas pengolahan yang besar.
baca juga:
- KONTEMPLASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DENGAN DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA DENGAN PEMBELAJARAN DI SD.
- Api Kepung Rumah Warga hingga Kapal Terbakar, Damkar Baubau Bertindak, Warga Kembali …
Dengan latar tersebut, rencana Cornhouse tidak hanya menyasar penambahan kapasitas pengolahan, tetapi juga peluang memindahkan sebagian nilai tambah lebih dekat ke sumber bahan baku. BPS sendiri secara rutin mencatat komoditas jambu mete dalam statistik perkebunan nasional serta perkembangan ekspor-impor menurut provinsi dan negara tujuan. Jika studi kelayakan berujung pada keputusan investasi, pabrik tersebut berpotensi menjadikan Sultra bukan sekadar pemasok bahan mentah, melainkan salah satu basis pengolahan mete untuk pasar internasional.(*)
baca berita lainnya:
Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Masuk Rantai Industri Mete Global, Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Baubau
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Kota Baubau didorong mengambil posisi lebih strategis dalam rantai industri jambu mete di Sulawesi Tenggara dengan tidak lagi bertumpu pada perdagangan bahan mentah. Penguatan industri pengolahan dari hulu hingga hilir dinilai dapat membuka nilai tambah bagi petani, memperluas ruang usaha UMKM, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjadikan Baubau sebagai pintu pemasaran produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi. “Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Masuk Rantai Industri Mete Global, Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Baubau,”

Dorongan tersebut disampaikan Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital, Wahyu Andrianto, seusai menemui Wali Kota Baubau untuk membahas pengembangan potensi komoditas jambu mete di Kota Baubau, Rabu (2/9/2026). Ia menilai posisi Baubau sebagai salah satu pusat perdagangan dan jasa di kawasan Kepulauan Buton dapat menjadi modal penting untuk membangun ekosistem industri mete.
Menurut Wahyu, hilirisasi harus membuat komoditas yang berasal dari daerah menghasilkan manfaat lebih besar di daerah asalnya. Karena itu, investasi tidak cukup hanya menjamin penyerapan bahan baku, tetapi harus disertai pembangunan industri, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pertumbuhan UMKM.
“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, semua harus ada nilai tambah. Itu tercermin dari program hilirisasi kita. Kita masuk dari kacang mete atau produk kacang-kacangan lainnya, harus ada nilai tambahnya agar nantinya dinikmati mulai dari industri yang ada di sini, baik UMKM bahkan petani,” ujar Wahyu.
Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan industrialisasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk memperdalam struktur industri dan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. Kementerian Perindustrian mencatat kebijakan hilirisasi diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan devisa ekspor.
Dalam konteks jambu mete, peluang hilirisasi tidak sebatas menghasilkan kacang mete siap konsumsi. Secara global, tanaman Anacardium occidentale berasal dari Brasil dan menyebar ke berbagai kawasan tropis setelah dibawa bangsa Portugis ke India dan Afrika pada abad ke-16. Setelah Perang Dunia II, produksi dan konsumsi mete dunia meningkat tajam sehingga komoditas tersebut berkembang menjadi salah satu kacang perdagangan penting dunia.
Sejarah perdagangan mete juga menunjukkan bahwa pengolahan dapat menjadi penentu posisi suatu negara dalam rantai nilai global. India, misalnya, mulai memanfaatkan perdagangan internasional kernel mete pada awal abad ke-20 dan kemudian berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan produk mete dunia. Data tersebut memberi gambaran bahwa komoditas yang tumbuh di wilayah tropis dapat berkembang menjadi industri apabila didukung pengolahan, perdagangan, teknologi, dan pasar.
Karena itu, Wahyu menilai investasi dari luar daerah maupun luar negeri tetap diperlukan selama memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal. “Siapapun yang mau berinvestasi di Indonesia selama itu memberikan nilai tambah dan bisa meningkatkan industrialisasi di sini, itu pasti kita sangat dukung,” tegasnya. Kehadiran investor diharapkan membantu menjamin ketersediaan bahan baku, membuka akses pasar, dan menciptakan peluang harga yang lebih baik bagi komoditas petani.
Namun, industrialisasi mete di Sulawesi Tenggara tidak boleh berjalan terpisah dari masyarakat. Wahyu menekankan pentingnya membangun mata rantai yang menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku, industri sebagai pengolah, serta UMKM dan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari ekosistem produksi. “Harus dibarengi dengan pembangunan dan investasi industri yang ada di Sulawesi Tenggara dan melibatkan atau bisa menyerap tenaga kerja yang ada di sini. Juga dicari cara bagaimana agar UMKM-nya bisa tumbuh di sini,” ujarnya.
Perhatian juga diarahkan kepada Generasi Z yang dinilai memiliki karakter berbeda dalam memasuki dunia usaha. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi dapat masuk ke rantai industri melalui pengolahan, pemasaran digital, pengembangan merek, inovasi produk, dan kewirausahaan. Dari sisi tugasnya di bidang UMKM, ekonomi kreatif, dan digital, Wahyu menyebut pemanfaatan teknologi informasi serta pengembangan kekayaan intelektual menjadi dua hal yang akan diperhatikan untuk disampaikan kepada Presiden.
“Bagaimana kekayaan intelektual itu menjadi sumber harta karun, supaya industri mete itu dengan sentuhan kreatif bisa membuat ekonomi yang baru,” katanya.
baca juga:
- Kebakaran Lahan di Baubau Meluas, Rumah Warga hingga Kapal Nelayan Bekas Ikut Dilalap Api, , Warga Kembali Diingatkan Soal Pembakaran dan Terus Waspada
- Rute Baubau-Makassar Dibuka Lagi, Terbang Setiap Hari Super Air Jet Pasang Tarif Rp800 Ribu Mulai …
Dengan posisi Baubau sebagai salah satu simpul perdagangan dan jasa di Kepulauan Buton, penguatan konektivitas dan layanan perdagangan dinilai menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Baubau diharapkan mampu menjadi pintu pasar bagi produk-produk dari daerah sekitar, termasuk komoditas perkebunan jambu mete. Jika ekosistem itu terbentuk, hilirisasi tidak hanya mengubah bentuk komoditas, tetapi juga menggeser pusat manfaat ekonomi dari sekadar penjualan bahan mentah menuju industri, inovasi, UMKM, tenaga kerja, dan pasar yang lebih luas. (*)
