
Korem 143/HO Gelar Sholat Istisqa, Doakan Hujan Segera Turun di Sultra
SULTRA, DURASITIMES.COM – Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara mendorong Korem 143/Halu Oleo (HO) menggelar Sholat Istisqa bersama prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI AD jajaran Korem 143/HO. Ibadah tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus keselamatan dan kesehatan bagi masyarakat. “Korem 143/HO Gelar Sholat Istisqa, Doakan Hujan Segera Turun di Sultra,”

Sholat Istisqa dilaksanakan dalam suasana khusyuk. Para prajurit dan PNS TNI AD memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan, sekaligus berharap kondisi kekeringan yang berdampak terhadap ketersediaan air dapat segera berakhir.
Kapenrem 143/HO Kapten Inf Rahman Hina, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT, tetapi juga momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan jajaran Korem 143/HO. “Sholat Istisqa ini merupakan ikhtiar kita bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang membawa keberkahan, serta memberikan keselamatan dan kesehatan kepada seluruh masyarakat,” kata Rahman di Kendari, Senin (31/8/2026).
Menurut Rahman, setelah berbagai upaya dilakukan untuk menghadapi kondisi kekeringan, manusia tetap perlu menyadari keterbatasannya dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Karena itu, pelaksanaan Sholat Istisqa diharapkan menjadi pengingat bagi prajurit untuk terus menjaga keimanan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Harapan turunnya hujan juga berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat terhadap air. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, hujan yang merata diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan dan menekan risiko kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat ketika kondisi kering berlangsung.
Kondisi tersebut memiliki latar belakang klimatologis yang panjang. BMKG mencatat Indonesia memiliki sejarah kekeringan dan kelangkaan air yang berkaitan dengan El Niño, antara lain pada 1997, 2015, dan 2019. Fenomena El Niño menyebabkan curah hujan di Indonesia cenderung berkurang karena pusat pertumbuhan awan bergeser dari wilayah Indonesia ke kawasan Pasifik.
Pengalaman 2023 juga memperlihatkan besarnya dampak periode kering. BMKG mencatat kekeringan meteorologis pada kuartal III 2023 menyebabkan 23.451 hektare sawah terdampak kekeringan dan 6.964 hektare mengalami gagal panen. Pada periode tersebut, sejumlah wilayah Indonesia juga mengalami keterlambatan memasuki musim hujan.
baca juga:
- DPRD Kendari Mulai Evaluasi APBD 2025, Pendapatan Daerah Terealisasi Rp1,57 Triliun
- TPID Kendari Perkuat Langkah Pengendalian Inflasi Lewat Rakor Nasional
Bagi Korem 143/HO, doa dan ikhtiar tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. “Kita berharap hujan dapat segera turun secara merata di wilayah Sulawesi Tenggara sehingga masyarakat dapat terbantu dalam memenuhi kebutuhan air dan dampak kekeringan dapat dikurangi,” ujar Rahman.(*)
baca berita lainnya:
Kota Kendari Tampilkan Identitas Budaya di Pembukaan MTQ XXXI Sultra
KONAWE, DURASITIMES.COM – Kafilah Kota Kendari menampilkan perpaduan nilai budaya dan keagamaan saat mengikuti Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2026 di Kabupaten Konawe, Selasa (23/6/2026). Dengan mengenakan busana tenun khas daerah dan diiringi kendaraan hias bernuansa Islami, rombongan Kendari menjadi salah satu peserta yang menarik perhatian masyarakat sepanjang rute pawai. “Kota Kendari Tampilkan Identitas Budaya di Pembukaan MTQ XXXI Sultra,”

Kehadiran Kota Kendari dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelaksanaan MTQ XXXI Sultra yang tahun ini dipusatkan di Kabupaten Konawe. Ajang tersebut merupakan perhelatan keagamaan terbesar di Sulawesi Tenggara yang mempertemukan kafilah dari seluruh kabupaten dan kota.
Rombongan Kota Kendari dipimpin Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Kendari, Fadlil Suparman. Para peserta yang terdiri atas kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, dan lurah tampil seragam menggunakan busana berbahan tenun khas Sulawesi Tenggara.
Pemilihan tenun daerah tidak hanya menjadi simbol kecintaan terhadap budaya lokal, tetapi juga sarana memperkenalkan kekayaan wastra Sulawesi Tenggara kepada masyarakat luas. Langkah tersebut sejalan dengan upaya pelestarian budaya daerah yang terus didorong pemerintah di berbagai tingkatan.
“Busana tenun yang kami gunakan merupakan bagian dari identitas budaya daerah yang patut dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda,” ujar Fadlil Suparman dalam rangkaian kegiatan pawai.
Sepanjang perjalanan menuju panggung kehormatan, rombongan Kota Kendari membawa atribut daerah yang mencerminkan nilai religius, semangat persatuan, dan kebersamaan. Kendaraan hias yang dihiasi ornamen Islami semakin memperkuat pesan syiar keagamaan yang menjadi ruh penyelenggaraan MTQ.
Setibanya di panggung utama, kafilah Kota Kendari mendapat sambutan dari Asisten III Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Bupati Konawe, serta Sekretaris Daerah Kota Kendari. Kehadiran para pejabat tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap partisipasi aktif seluruh daerah dalam menyukseskan MTQ tingkat provinsi.
“Partisipasi seluruh kabupaten dan kota menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat syiar Islam serta menjaga persatuan masyarakat Sulawesi Tenggara,” kata salah seorang panitia penyelenggara saat acara berlangsung.
Pawai Ta’aruf merupakan agenda pembuka yang selalu menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan MTQ. Selain memperkenalkan para peserta dan kafilah, kegiatan ini menjadi ruang interaksi sosial yang mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga dan antardaerah.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang jalur pawai. Ribuan warga memadati sejumlah titik untuk menyaksikan iring-iringan peserta yang menampilkan berbagai kekhasan budaya dari daerah masing-masing. Kehadiran kendaraan hias dengan beragam tema keislaman menambah semarak suasana pembukaan.
“MTQ bukan hanya perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar seorang tokoh masyarakat yang hadir menyaksikan pawai.
Secara historis, Musabaqah Tilawatil Qur’an di Indonesia pertama kali diselenggarakan secara nasional pada tahun 1968 di Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, MTQ berkembang menjadi agenda nasional yang tidak hanya berfokus pada perlombaan tilawah, tetapi juga menjadi media dakwah, pendidikan Al-Qur’an, dan pembangunan karakter umat.
Dalam konteks internasional, berbagai negara muslim juga menyelenggarakan kompetisi tilawah Al-Qur’an berskala dunia. Salah satu yang paling dikenal adalah International Quran Competition di Malaysia yang telah berlangsung sejak awal 1960-an dan menjadi salah satu ajang tilawah paling bergengsi di dunia Islam.
Perkembangan MTQ di Indonesia turut memperlihatkan bagaimana syiar Islam dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Di berbagai daerah, unsur seni, tradisi, dan identitas budaya kerap ditampilkan dalam pawai pembukaan maupun kegiatan pendukung MTQ tanpa mengurangi substansi keagamaan yang menjadi tujuan utama.
Melalui partisipasi pada MTQ XXXI Sultra 2026, Kota Kendari tidak hanya menunjukkan dukungan terhadap pengembangan generasi Qurani, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas. Balutan tenun khas Sulawesi Tenggara yang dikenakan para peserta menjadi simbol harmonisasi antara nilai religius dan pelestarian warisan budaya.
“Momentum MTQ harus menjadi sarana memperkuat persaudaraan, meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, dan melestarikan budaya daerah sebagai identitas masyarakat Sulawesi Tenggara,” ujar salah seorang peserta kafilah Kota Kendari.
baca juga:
Dengan penampilan yang kompak dan elegan, Kafilah Kota Kendari berhasil menegaskan komitmennya dalam mendukung syiar Islam sekaligus menjaga eksistensi budaya lokal di tengah arus modernisasi. Kehadiran mereka pada Pawai Ta’aruf MTQ XXXI Sultra menjadi bagian penting dari semangat membangun masyarakat religius, berbudaya, dan berdaya saing. (*)
