
Lima Program ATR/BPN Tuntas, Pemkot Baubau Teken MoU ATR/BPN, Data Pertanahan Terhubung dengan Pajak Daerah
BAUBAU, DURASITIMES.COM — Pemerintah Kota Baubau mempercepat pembenahan layanan pertanahan dan perpajakan daerah dengan mengintegrasikan Nomor Identifikasi Bidang (NIB) dan Nomor Objek Pajak (NOP) serta memanfaatkan Zona Nilai Tanah (ZNT). Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan MoU dan PKS antara Pemkot Baubau dan Kantor ATR/BPN Kota Baubau di Ruang Kerja Wali Kota Baubau, Kamis (27/8/2026). “Lima Program ATR/BPN Tuntas, Pemkot Baubau Teken MoU ATR/BPN, Data Pertanahan Terhubung dengan Pajak Daerah,”
Kerja sama ditandatangani Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim, SE dan Kepala ATR/BPN Kota Baubau Yusuf, S.SiT, disaksikan Sekretaris Daerah Kota Baubau serta organisasi perangkat daerah terkait. Integrasi tersebut diarahkan untuk menyederhanakan pelayanan masyarakat sekaligus memperkuat pengelolaan pendapatan asli daerah dari sektor perpajakan.
Kepala Bidang Pendapatan Wilayah I Bapenda Kota Baubau Fauziah, SP., M.Si., mengatakan dua dari sembilan program kerja kolaborasi Kementerian ATR/BPN dengan pemerintah daerah berkaitan langsung dengan Bapenda, yakni integrasi NIB-NOP dan pemanfaatan ZNT sebagai dasar Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). “Dari sembilan program kerja tersebut, ada dua yang menjadi program kerja Bapenda, yaitu integrasi NIB atau Nomor Identifikasi Bidang dengan NOP atau Nomor Objek Pajak serta pemanfaatan ZNT sebagai dasar NPOP BPHTB,” ujarnya.
Baubau telah mencatat kemajuan dalam agenda tersebut. Fauziah menyebut Kota Baubau menjadi daerah pertama di Sulawesi Tenggara yang menuntaskan lima dari sembilan program kerja ATR/BPN. Program itu juga merupakan tindak lanjut arahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah pertemuan kepala daerah, mulai gubernur, bupati hingga wali kota se-Indonesia pada Mei 2026.
Namun, persiapan integrasi di Baubau tidak baru dimulai setelah arahan tersebut. Sejak Februari 2026, Bapenda telah menginisiasi perencanaan pengembangan sistem M-PAD untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah, khususnya pajak daerah. Pemkot kemudian mempercepat PKS karena ATR/BPN telah menyediakan template dan contoh implementasi, termasuk sistem yang digunakan Bapenda Tangerang Selatan.
Pilihan pengembangan M-PAD juga mempertimbangkan kondisi fiskal daerah. Menurut Fauziah, sistem seperti yang diterapkan Tangerang Selatan membutuhkan anggaran cukup besar, sementara pemerintah daerah sedang menjalankan efisiensi. “Kehadiran M-PAD menjadi salah satu solusi yang lebih sesuai dengan kondisi daerah karena dapat dibangun dan dikembangkan dengan kebutuhan anggaran yang lebih efisien,” katanya.
Secara historis, integrasi data pertanahan dan perpajakan sejalan dengan perkembangan administrasi pertanahan modern yang semakin mengandalkan data digital dan sistem informasi geospasial. Di Indonesia, kebutuhan menghubungkan data tanah dengan perpajakan semakin penting setelah pengelolaan BPHTB menjadi bagian dari desentralisasi fiskal daerah melalui Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Secara global, digitalisasi kadaster dan pertukaran data pertanahan juga berkembang untuk meningkatkan kepastian hak atas tanah, efisiensi administrasi, dan transparansi transaksi properti.
Bagi masyarakat, integrasi tersebut diharapkan memangkas proses yang selama ini dilakukan secara terpisah antara Kantor Pertanahan dan pelayanan pajak. “Dengan adanya integrasi melalui M-PAD, data Nomor Identifikasi Bidang dan Nomor Objek Pajak dapat tersinkronisasi sehingga proses pelayanan menjadi lebih cepat dan sederhana,” kata Fauziah.
baca juga:
Melalui MoU dan PKS tersebut, Pemkot Baubau dan ATR/BPN tidak hanya menargetkan penyederhanaan pelayanan, tetapi juga membangun basis data yang lebih terpadu untuk mendukung akurasi perpajakan daerah. Sinkronisasi NIB, NOP, dan pemanfaatan ZNT diharapkan menjadi fondasi bagi pelayanan pertanahan yang lebih cepat, efisien, dan terintegrasi dengan sistem pendapatan daerah.(*)
baca berita lainnya:
KONTEMPLASI MAULID NABI MUHAMMAD SAW DENGAN DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA DENGAN PEMBELAJARAN DI SD
(Renungan Maulid Nabi Muhammad SAW : Ketika cahaya keteladanan menjadi cahaya pendidikan)
Oleh: Nursida, S.Pd., M.Pd
Kepala Sekolah SDN 2 Badia Kota Baubau
MAULID Nabi Muhammad SAW bukan sekedar momentum untuk mengingat kelahiran seorang manusia mulia, lebih dalam dari itu maulid adalah ruang kontemplasi – sebuah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri. “Sudahkah nilai- nilai kenabian hadir dalam cara kita mendidik dan mendampingi murid- murid? “
Rasulullah SAW hadir bukan hanya untuk menyampaikan pengetahuan tetapi untuk membentuk manusia. Beliau mengajarkan ilmu dengan keteladanan, kelembutan, kesabaran, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu ketika kita berbicara tentang pendidikan dasar, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sebuah proses yang sangat dekat dengan misi kenabian: “Membentuk manusia yang berilmu sekaligua berakhlak”.
Di ruang kelas SD, seorang guru tidak hanya berhadapan dengan buku, kurikulum, assesment, dan capaian pembelajaran tetapi guru juga berhadapan dengan jiwa- jiwa yang sedang tumbuh. Ada anak yang datang dengan rasa ingin tahu, ada yang datang dengan luka, ada yang membutuhkan perhatian, dan ada pula yang belum menemukan kepercayaan terhadap diri sendiri. Maka pembelajaran yang terinspirasi dari keteladanan Rasulullah SAW bukanlah pembelajaran yang hanya mengejar anak pintar, tetapi pembelajaran yang menghadirkan anak yg beriman, berakhlak mulia, berpikir kritis, mampu bekerjasama, menghargai sesama, dan memiliki keberanian dan terus belajar. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sebagai objek. Dalam pendidikan prestasi anak bukan sekedar angka dalam rapor, bukan sekedar peringkat, bukan pula sekedar capaian akademik. Setiap anak adalah amanah dengan potensi dan keunikan yang berbeda. Karena itu maulid nabi Muhammad SAW seharusnya mengajak kita melakukan refleksi :
– Apakah pembelajaran yang diberikan sdh membuat murid merasa dihargai?
– Apakah kecanggihan teknologi yg kita hadirkan semakin memanusiakan pendidikan, atau justru membuat hubungan guru dan murid semakin berjarak?
Dengan transformasi digital dan hadirnya kecerdasan buatan, pertanyaan tersebut semakin penting. Teknologi dapat membantu manusia menemukan informasi, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan keteladanan seorang guru yang hadir dengan hati. AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi pendidikan tetap membutuhkan manusia yg mengajarkan makna empati, tanggung jawab, dan akhlak. Semakin maju teknologi, semakin penting pendidikan karakter dan keteladanan manusia.
Guru masa kini boleh menggunakan smart board, platform digital, kecerdasan buatan, dan berbagai inovasi pembelajaran. Namun dibalik semua itu harus tetap ada nilai yang tidak boleh hilang: RAHMA. Anak harus merasakan bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk bertanya, tempat yang menyenangkan utk belajar, dan tempat yang menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berharga. Sebab boleh jadi suatu hari nanti murid lupa materi pelajaran yang kita sampaikan, ia mungkin lupa rumus, definisi, bahkan sebagian besar isi buku, tetapi ia akan mengingat bagaimana gurunya memperlakukannya.
Semoga dari setiap ruang kelas lahir generasi yg tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga lembut hatinya, tdk hanya tinggi pengetahuannya, tetapi juga luhur akhlaknya, tdk hanya mampu menguasai teknologi, tetapi mampu menggunakan teknologi untuk kemaslahatan manusia.
Maulid Nabi adalah ajakan untuk kembali bercermin bukan hanya bertanya, “Seberapa banyak kita mengenal Rasulullah SAW? “, tetapi lebih kepada ” Seberapa jauh keteladanan Rasulullah SAW telah hidup dalam cara kita mendidik anak- anak? “.
Semoga setiap guru menjadi cahaya bagi murid-muridnya, setiap sekolah menjadi ruang tumbuh yang penuh ramah, dan setiap proses pembelajaran menjadi jalan utk melahirkan generasi yg cerdas berakhlak mulia(*)
baca juga:


