FEATUREKabupaten Buton SelatanSULTRA

Kasuami, Air Mata, dan Doa, Ketika Harapan Seorang Ibu Bertemu Kepedulian Bupati H Muh Adios, Anak Petani Desa Bola di Buton Selatan Akhirnya Menjemput Mimpi Menjadi Prajurit TNI

DI SEBUAH rumah sederhana yang berdiri di Desa Bola, Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara harapan itu tumbuh tanpa banyak suara. Dinding rumah yang masih sederhana, halaman yang dipenuhi rerumputan, serta kehidupan yang bergantung pada hasil kebun menjadi saksi perjalanan panjang seorang pemuda bernama La Ode Deni Darusman. Dari tempat itulah, mimpi seorang anak petani akhirnya mengantarkannya mengenakan seragam kebanggaan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Kasuami, Air Mata, dan Doa, Ketika Harapan Seorang Ibu Bertemu Kepedulian Bupati H Muh Adios, Anak Petani Desa Bola di Buton Selatan Akhirnya Menjemput Mimpi Menjadi Prajurit TNI,”

Kasuami, Air Mata, dan Doa, Ketika Harapan Seorang Ibu Bertemu Kepedulian Bupati H Muh Adios, Anak Petani Desa Bola di Buton Selatan Akhirnya Menjemput Mimpi Menjadi Prajurit TNI
Kasuami, Air Mata, dan Doa, Ketika Harapan Seorang Ibu Bertemu Kepedulian Bupati H Muh Adios, Anak Petani Desa Bola di Buton Selatan Akhirnya Menjemput Mimpi Menjadi Prajurit TNI

Rumah yang tampak dari dinding kayu itu tidak menunjukkan kemewahan. Bangunannya sederhana dengan dinding yang belum sepenuhnya permanen, atap seng yang menaungi seluruh bagian rumah, dan halaman depan yang masih berupa tanah bercampur rumput. Tidak ada pagar megah maupun kendaraan mewah di halaman. Namun, dari rumah itulah lahir semangat yang tidak pernah surut untuk mengubah masa depan keluarga.

Di dalam rumah tersebut, seorang perempuan berhijab cokelat duduk dengan tatapan teduh. Wajahnya menyimpan gurat perjuangan sekaligus keteguhan hati. Dialah Mastiah (46), ibu dari La Ode Deni Darusman. Sorot matanya seolah menceritakan perjalanan panjang seorang ibu yang harus menerima kenyataan hidup dalam keterbatasan, tetapi tidak pernah kehilangan harapan terhadap masa depan anak-anaknya.

Bagi Mastiah dan suaminya La Ode Rusman (47), hidup bukanlah perkara mudah. Sang suami bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara Mastiah sesekali berjualan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dalam kesehariannya, keluarga ini lebih sering mengonsumsi nasi dan kasuami sebagai makanan pokok. Lauk berupa ikan baru bisa dinikmati ketika hasil kebun atau pekerjaan harian memberikan tambahan penghasilan.

Di tengah keterbatasan itu, La Ode Deni tumbuh dengan mimpi yang tidak biasa. Sejak kecil, anak ketiga sekaligus bungsu dari tiga bersaudara itu telah bercita-cita menjadi seorang prajurit TNI. Keinginan tersebut tidak pernah berubah meski kondisi ekonomi keluarganya jauh dari kata berkecukupan.

Harapan itu sempat hampir padam ketika Deni menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Bola pada 2023. Saat menyampaikan keinginannya mengikuti seleksi TNI, ibunya tidak mampu menyembunyikan kesedihan. “Kita tidak ada uang, Nak. Tidak usah tes,” ucap Mastiah sambil meneteskan air mata, ketika ditemui Baubau Post-Durasitimes di rumahnya, Sabtu 01 Agustus 2026.

Kalimat sederhana itu bukan lahir karena tidak mendukung cita-cita anaknya, melainkan karena kenyataan ekonomi yang dihadapi keluarga. Bagi mereka, biaya perjalanan, perlengkapan, hingga kebutuhan selama mengikuti seleksi terasa begitu berat untuk dipenuhi.

1

Deni akhirnya memilih mengalah. Pada 2025, ia merantau ke Morowali demi mencari pekerjaan. Selama kurang lebih enam bulan bekerja di daerah industri tersebut, keinginan menjadi seorang tentara tidak pernah hilang. Setiap kali melihat anggota TNI, semangatnya justru semakin besar untuk kembali mengejar cita-cita yang sempat tertunda.

Tahun 2026 menjadi titik balik kehidupannya. Deni memutuskan pulang ke Desa Bola. Meski sempat disarankan kakaknya agar bekerja di sebuah perusahaan, pemuda kelahiran 2006 itu tetap memilih memperjuangkan impian masa kecilnya.

Melihat tekad putranya yang tidak pernah berubah, Mastiah kemudian memberanikan diri menemui Bupati Buton Selatan H Muhammad Adios SSos MBA. Ia datang bukan meminta anaknya diluluskan, melainkan berharap Deni mendapat kesempatan mengikuti proses seleksi TNI sebagaimana peserta lainnya. Dan itu mendapat dukungan penuh dari sang bupati.

Keinginan itu akhirnya terwujud. Pada April 2026, Deni mengikuti seleksi TNI Tamtama Gelombang II. Sejak jauh hari, ia telah mempersiapkan diri dengan menjaga kebugaran tubuh, rutin berolahraga, serta membangun disiplin sebagai bekal menghadapi setiap tahapan seleksi.

“Saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk bisa lulus. Yang saya siapkan hanya kemampuan, kesehatan, dan doa orang tua,” ungkap Deni.

Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Deni dinyatakan lulus dan kini menjalani pendidikan militer di Malino, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam salah satu foto yang diabadikan keluarganya, ia tampak mengenakan kemeja putih sambil memegang papan bertuliskan rasa syukur atas kelulusannya sebagai anggota TNI. Di balik senyumnya tersimpan perjalanan panjang yang tidak pernah diketahui banyak orang.

Kabar kelulusan itu segera disampaikan keluarga kepada Bupati Buton Selatan H Muh Adios sebagai bentuk rasa syukur. Mastiah juga menyampaikan apresiasi kepada Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, karena menurut pengalaman keluarganya, seluruh proses seleksi berlangsung tanpa pungutan biaya.

“Kalau ingin tes TNI, baik Bintara maupun Tamtama, jangan berpikir harus menyiapkan uang untuk lulus. Yang terpenting adalah mempersiapkan kemampuan, kesehatan, dan terus berusaha,” ujar Mastiah.

Kisah Deni menjadi pengingat bahwa seleksi prajurit TNI pada prinsipnya mengedepankan sistem rekrutmen yang terbuka dan berbasis kemampuan. Dalam beberapa tahun terakhir, TNI terus mengampanyekan proses seleksi yang transparan serta bebas dari praktik percaloan maupun pungutan liar. Pesan tersebut terus disampaikan agar masyarakat tidak mudah percaya kepada pihak-pihak yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang.

2

Secara historis, semangat pengabdian sebagai tentara telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia sejak berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia. Sejarah mencatat bahwa banyak prajurit Indonesia lahir dari keluarga sederhana, bahkan dari kalangan petani dan buruh, yang mengabdikan diri untuk mempertahankan kedaulatan negara. Fenomena serupa juga terlihat di berbagai negara, di mana profesi militer sering menjadi jalan mobilitas sosial bagi generasi muda yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

baca juga:

  1. Ketua TP PKK Buton Selatan Ny Hj Siti Norma Adios Dorong Penguatan Jejaring Layanan KIA dan Kespro untuk Percepat Penurunan Stunting
  2. Klarifikasi Isu Tolak Alumni IPDN, Bupati Buton Selatan H Muh Adios Temui Dirjen Kemendagri

Bagi keluarga La Ode Rusman dan Mastiah, keberhasilan Deni bukan sekadar pencapaian pribadi. Kelulusan itu menjadi simbol bahwa mimpi dapat diraih tanpa harus dikalahkan oleh kemiskinan. Rumah sederhana di Desa Bola kini menyimpan cerita besar tentang keteguhan, doa seorang ibu, dan kerja keras seorang anak yang memilih terus berjalan ketika banyak orang mengira jalannya telah tertutup.(*)

 

Percepat Persiapan PLTS, Buton Selatan Pacu Pemerataan Listrik 24 Jam di Wilayah Kepulauan

BUTON SELATAN, DURASITIMES.COM –  Pemerintah Kabupaten Buton Selatan mempercepat penyelesaian seluruh tahapan administrasi pembangunan Pembangkit  Listrik  Tenaga Surya (PLTS) di wilayah kepulauan sebagai langkah strategis mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus menghadirkan layanan listrik selama 24 jam bagi masyarakat. Langkah tersebut difokuskan pada penyelesaian legalitas lahan, sertifikasi aset, serta perizinan agar proyek yang tertunda sejak 2022 dapat segera memasuki tahap konstruksi. “Percepat Persiapan PLTS, Buton Selatan Pacu Pemerataan Listrik 24 Jam di Wilayah Kepulauan,”

Percepat Persiapan PLTS, Buton Selatan Pacu Pemerataan Listrik 24 Jam di Wilayah Kepulauan
Percepat Persiapan PLTS, Buton Selatan Pacu Pemerataan Listrik 24 Jam di Wilayah Kepulauan

Listrik

Mewakili Bupati Buton Selatan H. Muhammad Adios, S.Sos., M.B.A., Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Buton Selatan, Wa Ode Asrina Azizah Tasrif, mengatakan pemerintah daerah menjadikan penyelesaian berbagai hambatan administratif sebagai prioritas utama. Menurutnya, seluruh tahapan harus diselesaikan secara menyeluruh agar pelaksanaan pembangunan tidak lagi mengalami kendala.

“Target kami jelas. Seluruh administrasi harus clear, aset pemerintah daerah bersertifikat, baru kemudian masuk ke tahap pembangunan fisik,” ujar Wa Ode Asrina Azizah Tasrif.

Ia menjelaskan, sejak dipercaya menduduki jabatan tersebut kurang dari tiga bulan lalu, pemerintah daerah langsung melakukan inventarisasi berbagai persoalan yang menghambat realisasi proyek PLTS. Mulai dari status kepemilikan lahan hingga proses perizinan yang belum rampung menjadi fokus penyelesaian agar program dapat segera dijalankan.

“Sejak dilantik kurang dari tiga bulan, kami langsung mengurai persoalan lahan dan perizinan PLTS di wilayah kepulauan. Ini merupakan pekerjaan rumah yang tertunda sejak 2022 dan harus segera diselesaikan agar program ini bisa berjalan,” katanya.

Menurut Wa Ode Asrina, pembangunan PLTS menjadi salah satu solusi strategis untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik di kawasan kepulauan yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses energi. Kehadiran pembangkit berbasis tenaga surya diharapkan mampu mendorong pemerataan pembangunan, memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mendukung pemanfaatan energi bersih yang ramah lingkungan.

“Kami ingin memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan sehingga ketika pembangunan fisik dimulai tidak lagi terkendala persoalan administrasi maupun legalitas aset,” tegasnya.

Pengembangan energi baru terbarukan sendiri merupakan bagian dari kebijakan nasional dalam mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat sebagaimana dicanangkan Pemerintah Indonesia. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan bauran energi baru terbarukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Secara global, pemanfaatan energi surya terus mengalami pertumbuhan signifikan. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mencatat tenaga surya menjadi salah satu sumber pembangkit listrik dengan pertumbuhan tercepat di dunia dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan tersebut menjadikan PLTS sebagai pilihan strategis bagi wilayah kepulauan karena mampu menyediakan listrik yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan menjangkau daerah-daerah yang belum terlayani secara optimal oleh jaringan listrik konvensional.

baca juga:

  1. Bupati Buton Selatan H Muh Adios Pastikan Tak Ada Kebijakan Menolak Alumni IPDN Kepada Dirjen Kemendagri
  2. Bupati Buton Selatan H Muh Adios Gandeng Kadin Perkuat Sinergi Investasi, Ketua Kadin Busel Muh …

Melalui percepatan penyelesaian seluruh aspek administrasi dan legalitas tersebut, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan berharap pembangunan PLTS di wilayah kepulauan segera memasuki tahap konstruksi sehingga masyarakat dapat menikmati layanan listrik yang lebih andal selama 24 jam. Proyek ini juga diharapkan menjadi penggerak pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan energi bersih yang berkelanjutan.(*)

 

Visited 158 times, 158 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *