
Bupati Buton Selatan H Muh Adios Tegaskan ASN Terlibat Narkoba dan Korupsi Akan Dipecat dan Diproses Hukum
BUTON SELATAN, DURASITIMES.COM – Bupati Buton Selatan, H. Muhammad Adios, S.Sos., M.B.A., menegaskan komitmen Pemerintah kabupaten Buton Selatan dalam membangun birokrasi yang bersih dan berintegritas dengan memberikan sanksi tegas kepada aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat penyalahgunaan narkoba, korupsi, maupun penyalahgunaan jabatan. Pelanggar dipastikan akan diproses sesuai ketentuan hukum hingga diberhentikan sebagai ASN. “Bupati Buton Selatan H Muh Adios Tegaskan ASN Terlibat Narkoba dan Korupsi Akan Dipecat dan Diproses Hukum,”

Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Adios saat ditemui Baubau Post di Rumah Jabatan Bupati, Sabtu (1/8/2026). Ia menegaskan bahwa seluruh proses pengangkatan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Buton Selatan dilakukan secara transparan tanpa praktik jual beli jabatan. Menurutnya, jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan negara.
“Jabatan di Buton Selatan gratis, tidak pakai uang. Jangan pernah menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi karena konsekuensinya adalah diproses sesuai aturan yang berlaku,” tegas Muhammad Adios.
Selain menekankan integritas pejabat, Bupati mengungkapkan bahwa seluruh pejabat yang telah dilantik diwajibkan menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk komitmen untuk tidak melakukan korupsi maupun penyalahgunaan jabatan. Hingga saat ini, selama masa kepemimpinannya, ia menyebut belum ditemukan ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Buton Selatan yang terlibat penyalahgunaan narkoba.
Bupati juga memberikan perhatian khusus terhadap pengelolaan keuangan daerah. Ia mengingatkan bendahara dan pengelola keuangan pada setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar bekerja secara cermat, mematuhi seluruh ketentuan administrasi, serta tidak melakukan pembayaran terhadap kegiatan yang belum memenuhi persyaratan hukum. Menurutnya, kelalaian dalam pengelolaan anggaran dapat berujung pada persoalan pidana.
“Bendahara harus lebih teliti. Jangan melakukan pembayaran terhadap anggaran yang belum memenuhi ketentuan. Jika ada keraguan, segera lakukan koordinasi. Jangan sampai penyalahgunaan anggaran berujung pada persoalan hukum,” ujarnya.
Muhammad Adios juga mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi perilaku ASN. Ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan memberikan perlindungan kepada pegawai yang terbukti melanggar hukum, terutama dalam kasus penyalahgunaan narkotika.
“Kalau ada ASN yang menggunakan narkoba, laporkan kepada saya. Saya tidak akan memberikan ampun. Akan saya ajukan untuk diproses sesuai ketentuan hukum hingga diberhentikan,” katanya.
Komitmen tersebut sejalan dengan kebijakan nasional dalam memperkuat reformasi birokrasi. Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara menempatkan integritas, profesionalisme, dan sistem merit sebagai fondasi utama manajemen ASN. Di sisi lain, pemberantasan korupsi tetap menjadi agenda prioritas nasional melalui penguatan pengawasan internal pemerintah, sementara perang terhadap narkotika terus digencarkan melalui sinergi antara pemerintah daerah, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan aparat penegak hukum.
baca juga:
- Percepat Persiapan PLTS, Buton Selatan Pacu Pemerataan Listrik 24 Jam di Wilayah Kepulauan
- Ketua TP PKK Buton Selatan Ny Hj Siti Norma Adios Ajak Semua Pihak Percepat Penurunan Stunting …
Secara global, upaya pemberantasan korupsi dan narkotika merupakan bagian dari komitmen internasional. Indonesia telah meratifikasi United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) sejak 2006 sebagai landasan kerja sama internasional dalam pencegahan dan penindakan korupsi. Sementara itu, pengendalian narkotika menjadi bagian dari implementasi konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang narkotika yang mendorong setiap negara memperkuat tata kelola pemerintahan, penegakan hukum, dan integritas aparatur. Melalui langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan berharap seluruh ASN semakin profesional, taat hukum, serta mampu menghadirkan pelayanan publik yang bersih, transparan, dan akuntabel.(*)
baca berita lainnya:
Kasuami, Air Mata, dan Doa, Ketika Harapan Seorang Ibu Bertemu Kepedulian Bupati H Muh Adios, Anak Petani Desa Bola di Buton Selatan Akhirnya Menjemput Mimpi Menjadi Prajurit TNI
DI SEBUAH rumah sederhana yang berdiri di Desa Bola, Kabupaten Buton Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara harapan itu tumbuh tanpa banyak suara. Dinding rumah yang masih sederhana, halaman yang dipenuhi rerumputan, serta kehidupan yang bergantung pada hasil kebun menjadi saksi perjalanan panjang seorang pemuda bernama La Ode Deni Darusman. Dari tempat itulah, mimpi seorang anak petani akhirnya mengantarkannya mengenakan seragam kebanggaan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Kasuami, Air Mata, dan Doa, Ketika Harapan Seorang Ibu Bertemu Kepedulian Bupati H Muh Adios, Anak Petani Desa Bola di Buton Selatan Akhirnya Menjemput Mimpi Menjadi Prajurit TNI,”

Rumah yang tampak dari dinding kayu itu tidak menunjukkan kemewahan. Bangunannya sederhana dengan dinding yang belum sepenuhnya permanen, atap seng yang menaungi seluruh bagian rumah, dan halaman depan yang masih berupa tanah bercampur rumput. Tidak ada pagar megah maupun kendaraan mewah di halaman. Namun, dari rumah itulah lahir semangat yang tidak pernah surut untuk mengubah masa depan keluarga.
Di dalam rumah tersebut, seorang perempuan berhijab cokelat duduk dengan tatapan teduh. Wajahnya menyimpan gurat perjuangan sekaligus keteguhan hati. Dialah Mastiah (46), ibu dari La Ode Deni Darusman. Sorot matanya seolah menceritakan perjalanan panjang seorang ibu yang harus menerima kenyataan hidup dalam keterbatasan, tetapi tidak pernah kehilangan harapan terhadap masa depan anak-anaknya.
Bagi Mastiah dan suaminya La Ode Rusman (47), hidup bukanlah perkara mudah. Sang suami bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara Mastiah sesekali berjualan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dalam kesehariannya, keluarga ini lebih sering mengonsumsi nasi dan kasuami sebagai makanan pokok. Lauk berupa ikan baru bisa dinikmati ketika hasil kebun atau pekerjaan harian memberikan tambahan penghasilan.
Di tengah keterbatasan itu, La Ode Deni tumbuh dengan mimpi yang tidak biasa. Sejak kecil, anak ketiga sekaligus bungsu dari tiga bersaudara itu telah bercita-cita menjadi seorang prajurit TNI. Keinginan tersebut tidak pernah berubah meski kondisi ekonomi keluarganya jauh dari kata berkecukupan.
Harapan itu sempat hampir padam ketika Deni menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Bola pada 2023. Saat menyampaikan keinginannya mengikuti seleksi TNI, ibunya tidak mampu menyembunyikan kesedihan. “Kita tidak ada uang, Nak. Tidak usah tes,” ucap Mastiah sambil meneteskan air mata, ketika ditemui Baubau Post-Durasitimes di rumahnya, Sabtu 01 Agustus 2026.
Kalimat sederhana itu bukan lahir karena tidak mendukung cita-cita anaknya, melainkan karena kenyataan ekonomi yang dihadapi keluarga. Bagi mereka, biaya perjalanan, perlengkapan, hingga kebutuhan selama mengikuti seleksi terasa begitu berat untuk dipenuhi.
Deni akhirnya memilih mengalah. Pada 2025, ia merantau ke Morowali demi mencari pekerjaan. Selama kurang lebih enam bulan bekerja di daerah industri tersebut, keinginan menjadi seorang tentara tidak pernah hilang. Setiap kali melihat anggota TNI, semangatnya justru semakin besar untuk kembali mengejar cita-cita yang sempat tertunda.
Tahun 2026 menjadi titik balik kehidupannya. Deni memutuskan pulang ke Desa Bola. Meski sempat disarankan kakaknya agar bekerja di sebuah perusahaan, pemuda kelahiran 2006 itu tetap memilih memperjuangkan impian masa kecilnya.
Melihat tekad putranya yang tidak pernah berubah, Mastiah kemudian memberanikan diri menemui Bupati Buton Selatan H Muhammad Adios SSos MBA. Ia datang bukan meminta anaknya diluluskan, melainkan berharap Deni mendapat kesempatan mengikuti proses seleksi TNI sebagaimana peserta lainnya. Dan itu mendapat dukungan penuh dari sang bupati.
Keinginan itu akhirnya terwujud. Pada April 2026, Deni mengikuti seleksi TNI Tamtama Gelombang II. Sejak jauh hari, ia telah mempersiapkan diri dengan menjaga kebugaran tubuh, rutin berolahraga, serta membangun disiplin sebagai bekal menghadapi setiap tahapan seleksi.
“Saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk bisa lulus. Yang saya siapkan hanya kemampuan, kesehatan, dan doa orang tua,” ungkap Deni.
Perjuangan panjang itu akhirnya beruah manis. Deni dinyatakan lulus dan kini menjalani pendidikan militer di Malino, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam salah satu foto yang diabadikan keluarganya, ia tampak mengenakan kemeja putih sambil memegang papan bertuliskan rasa syukur atas kelulusannya sebagai anggota TNI. Di balik senyumnya tersimpan perjalanan panjang yang tidak pernah diketahui banyak orang.
Kabar kelulusan itu segera disampaikan keluarga kepada Bupati Buton Selatan H Muh Adios sebagai bentuk rasa syukur. Mastiah juga menyampaikan apresiasi kepada Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, karena menurut pengalaman keluarganya, seluruh proses seleksi berlangsung tanpa pungutan biaya.
“Kalau ingin tes TNI, baik Bintara maupun Tamtama, jangan berpikir harus menyiapkan uang untuk lulus. Yang terpenting adalah mempersiapkan kemampuan, kesehatan, dan terus berusaha,” ujar Mastiah.
Kisah Deni menjadi pengingat bahwa seleksi prajurit TNI pada prinsipnya mengedepankan sistem rekrutmen yang terbuka dan berbasis kemampuan. Dalam beberapa tahun terakhir, TNI terus mengampanyekan proses seleksi yang transparan serta bebas dari praktik percaloan maupun pungutan liar. Pesan tersebut terus disampaikan agar masyarakat tidak mudah percaya kepada pihak-pihak yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang.
Secara historis, semangat pengabdian sebagai tentara telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia sejak berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia. Sejarah mencatat bahwa banyak prajurit Indonesia lahir dari keluarga sederhana, bahkan dari kalangan petani dan buruh, yang mengabdikan diri untuk mempertahankan kedaulatan negara. Fenomena serupa juga terlihat di berbagai negara, di mana profesi militer sering menjadi jalan mobilitas sosial bagi generasi muda yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
baca juga:
- Ketua TP PKK Buton Selatan Ny Hj Siti Norma Adios Dorong Penguatan Jejaring Layanan KIA dan Kespro untuk Percepat Penurunan Stunting
- Klarifikasi Isu Tolak Alumni IPDN, Bupati Buton Selatan H Muh Adios Temui Dirjen Kemendagri …
Bagi keluarga La Ode Rusman dan Mastiah, keberhasilan Deni bukan sekadar pencapaian pribadi. Kelulusan itu menjadi simbol bahwa mimpi dapat diraih tanpa harus dikalahkan oleh kemiskinan. Rumah sederhana di Desa Bola kini menyimpan cerita besar tentang keteguhan, doa seorang ibu, dan kerja keras seorang anak yang memilih terus berjalan ketika banyak orang mengira jalannya telah tertutup.(*)


