KORAN ONLINE

Koran Online Baubau Post Edisi 28 Juli 2026

 

Koran Online Baubau Post Edisi 28 Juli 2026
 

baca Koran Online Baubau Post Edisi 28 Juli 2026 Versi PDF

 

baca Koran Online Baubau Post Edisi 28 Juli 2026

01 7 02 8 03 8 04 8 05 8 06 8 07 8 08 8

baca juga Koran Online Baubau Post Edisi lainnya:
  1. Koran Online Baubau Post Edisi 27 Juli 2026
  2. Epaper Koran Harian Baubau Post Edisi 23 Juli 2026
baca berita lainnya:

Pasar Amerika Serikat Dongkrak Ekspor Tuna dari Pulau Buton

BAUBAU, DURASITIMES.COM  – Meningkatnya permintaan pasar internasional, terutama dari Amerika Serikat, mendorong pertumbuhan ekspor komoditas perikanan asal Pulau Buton. Kondisi tersebut tidak hanya memperkuat posisi tuna sebagai komoditas unggulan ekspor dari Kota Baubau dan wilayah Kepulauan Buton, tetapi juga meningkatkan harga jual hasil tangkapan nelayan serta membuka peluang pengembangan industri perikanan daerah. “Pasar Amerika Serikat Dongkrak Ekspor Tuna dari Pulau Buton,”

Pantai & Kepulauan

01 Pimpinan CV Buton Indo Tuna Hedyanto

Pimpinan CV Buton Indo Tuna, Hedyanto, mengatakan sekitar 80 persen produk perikanan yang diekspor perusahaannya dipasarkan ke Amerika Serikat melalui jalur distribusi Jakarta sebelum diberangkatkan ke negara tujuan. Sementara sisanya dipasarkan ke sejumlah negara lain, termasuk Jepang. Seluruh produksi dilakukan menggunakan sistem by order atau berdasarkan permintaan pembeli dari luar negeri sehingga volume produksi menyesuaikan kebutuhan pasar.

“Produk unggulan kami tetap tuna. Namun sekarang permintaan untuk jenis ikan lain juga semakin tinggi sehingga kami mulai meningkatkan produksinya,” kata Hedyanto saat ditemui di Baubau, Kamis (23/7).

Selain tuna, perusahaan kini mengembangkan ekspor berbagai komoditas lain seperti tenggiri, lemadang, julung-julung, ikan jenggot, tiko-tiko, waho, dan gurita. Tahun lalu, pembeli dari luar negeri menetapkan target pengiriman minimal satu kontainer tuna setiap bulan dengan kapasitas sekitar 15 hingga 17 ton. Di luar itu, perusahaan juga mengirim satu kontainer campuran berisi berbagai jenis ikan sesuai kebutuhan pasar internasional.

Pasokan bahan baku sebagian besar berasal dari nelayan Pulau Buton yang beroperasi di Pasarwajo, Siompu, Lasalimu, hingga wilayah perairan lainnya. Sementara nelayan Kota Baubau lebih banyak memasok tenggiri, waho, gurita, dan hasil tangkapan lain dari kawasan pesisir, termasuk Kelurahan Sulaa yang selama ini dikenal sebagai sentra nelayan gurita. Menurut Hedyanto, perbedaan jenis tangkapan dipengaruhi oleh fasilitas, alat tangkap, kemampuan nelayan, dan karakteristik perairan tempat mereka melaut. “Kemungkinan yang membedakan adalah fasilitas dan alat tangkap yang dimiliki nelayan, termasuk keterampilan mereka dalam menangkap jenis ikan tertentu,” ujarnya.

Lonjakan permintaan ekspor turut mendongkrak harga ikan di tingkat nelayan. Tuna kini dibeli sekitar Rp70 ribu per kilogram, waho sekitar Rp35 ribu per kilogram, sedangkan gurita berukuran di atas dua kilogram mencapai Rp80 ribu per kilogram. Gurita berukuran lebih kecil dihargai antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Adapun lemadang berukuran di atas empat kilogram dibeli sekitar Rp30 ribu per kilogram, sedangkan ukuran sekitar dua kilogram berkisar Rp20 ribu per kilogram. “Dulu harga lemadang hanya sekitar Rp7.000 sampai Rp10.000 per kilogram. Setelah ada permintaan ekspor, sekarang bisa mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram,” ungkap Hedyanto.

Perusahaan menerapkan sistem pembayaran tunai kepada nelayan setelah hasil tangkapan diterima dan ditimbang. Pada musim paceklik, volume pembelian berkisar 3–5 ton per bulan, sedangkan ketika musim ikan mencapai puncaknya meningkat menjadi 10–20 ton per bulan. Musim penangkapan di wilayah Kepulauan Buton umumnya berlangsung pada Agustus hingga Januari dan kembali terjadi pada Maret hingga Juni. Daerah penangkapan utama meliputi perairan Batu Atas, Lasalimu, hingga Kabaena yang dikenal sebagai kawasan potensial penghasil tuna, lemadang, dan berbagai ikan pelagis. “Kami membayar hasil tangkapan nelayan secara tunai setelah diterima dan ditimbang sehingga perputaran ekonomi masyarakat pesisir dapat berlangsung lebih cepat,” kata Hedyanto.

Secara historis, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil tuna terbesar di dunia dengan wilayah penangkapan yang membentang di Samudra Hindia, Laut Banda, Laut Maluku, hingga Samudra Pasifik. Selama dua dekade terakhir, komoditas tuna menjadi penyumbang utama devisa sektor perikanan nasional. Amerika Serikat dan Jepang secara konsisten tercatat sebagai dua pasar ekspor terbesar bagi produk tuna Indonesia karena tingginya kebutuhan industri pengolahan dan konsumsi makanan laut di kedua negara. Di tingkat regional, perairan Sulawesi Tenggara, termasuk Kepulauan Buton, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi.

baca juga:

  1. Musim Haji Picu Kenaikan Paspor, Imigrasi Baubau Tetap Buka Layanan Dengan Perkuat Layanan Jemput Bola
  2. Gandeng BMKG dan PMI, Plt Kalaksa BPBD Baubau Dr Moh Tasdik Buka Sosialisasi Komunikasi, …

Meningkatnya permintaan pasar global menjadi momentum bagi sektor perikanan Baubau dan Kepulauan Buton untuk memperkuat daya saing ekspor. Selain meningkatkan nilai perdagangan daerah, tren tersebut diharapkan mendorong investasi pada industri pengolahan hasil perikanan, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui harga jual yang lebih kompetitif di pasar internasional.(*)

Visited 19 times, 19 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *