
Program BERAKSI Bapas Baubau Perkuat Pencegahan Kenakalan Remaja
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Baubau memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS/MAPENALING) untuk memperkuat pendidikan karakter melalui Road Show BERAKSI (Bersama cEgah kekeRasan Anak di seKolah dengan edukaSI). Pada hari keempat pelaksanaan, Kamis (16/7/2026), sebanyak 387 siswa baru di SMK Negeri 6 Baubau dan SMA Negeri 4 Baubau mendapatkan edukasi mengenai pencegahan kekerasan dan perundungan (bullying) sebagai langkah preventif agar anak terhindar dari persoalan hukum. “Program BERAKSI Bapas Baubau Perkuat Pencegahan Kenakalan Remaja,”

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Sekolah Binaan Pemasyarakatan tersebut diikuti 35 siswa baru SMKN 6 Baubau dan 352 siswa baru SMAN 4 Baubau. Para Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Baubau menyampaikan materi secara interaktif dengan menekankan pentingnya membangun lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan saling menghormati sejak hari pertama peserta didik memasuki dunia pendidikan.
“Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi setiap anak untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut terhadap kekerasan maupun perundungan,” ujar tim Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Baubau saat memberikan materi kepada para peserta.
Dalam sesi edukasi, siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari kekerasan fisik, verbal, psikologis hingga perundungan di ruang digital. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai dampak yang dapat dialami korban maupun pelaku, serta pentingnya keberanian melaporkan setiap tindakan kekerasan kepada pihak sekolah atau pihak yang berwenang.
“Mencegah kekerasan tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi harus dimulai dari kepedulian, rasa saling menghargai, dan keberanian untuk melindungi teman yang menjadi korban,” kata narasumber dalam kegiatan tersebut.
Program BERAKSI merupakan wujud komitmen Bapas Kelas II Baubau dalam memperkuat sinergi dengan dunia pendidikan. Pendekatan edukatif dipilih sebagai strategi pencegahan kenakalan remaja sekaligus mengurangi potensi anak berhadapan dengan hukum melalui pembentukan karakter sejak dini.
Secara historis, perhatian terhadap perlindungan anak di Indonesia semakin menguat setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang kemudian diperbarui melalui berbagai perubahan untuk memperkuat hak-hak anak dari segala bentuk kekerasan. Di tingkat internasional, perlindungan anak juga menjadi komitmen global sejak Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Convention on the Rights of the Child/CRC) diadopsi pada 20 November 1989, yang menegaskan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan dalam lingkungan yang aman dan bebas dari diskriminasi maupun kekerasan.
“Melalui edukasi seperti ini kami berharap para siswa mampu menjadi pelopor terciptanya budaya sekolah yang damai, saling menghormati, dan berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk kekerasan,” ungkap tim Bapas Baubau. Mereka menegaskan bahwa kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan, sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan berkarakter.
baca juga:
- Mewakili Wali Kota Baubau, Dr Moh Tasdik Tutup Kejuaraan Angkat Berat Sultra 2026, Atlet Diminta Jadikan Podium sebagai Awal Prestasi
- Kejuaraan Angkat Berat Sultra 2026 Resmi Ditutup Walikota Baubau Yang Diwakili Dr Moh Tasdik, Pembinaan Atlet …
Road Show BERAKSI diharapkan terus memperluas jangkauan edukasi di berbagai sekolah di Kota Baubau melalui Program Sekolah Binaan Pemasyarakatan. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi preventif untuk menumbuhkan generasi muda yang berintegritas, menghormati hak sesama, serta mampu menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan sehingga tercipta iklim pendidikan yang aman dan kondusif.(*)
baca berita lainnya:
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dorong Pelestarian Benteng Keraton Buton, Sebut Mahakarya Peradaban Nusantara
BAUBAU, DURASITIMES.COM – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Fadli Zon, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat pelestarian warisan budaya Kesultanan Buton saat mengunjungi Kawasan Cagar Budaya Benteng Keraton Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Minggu (12/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menyebut benteng bersejarah itu sebagai mahakarya arsitektur asli Nusantara yang menjadi bukti kemajuan peradaban masyarakat Buton sekaligus aset budaya nasional yang harus dikembangkan secara berkelanjutan. “Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dorong Pelestarian Benteng Keraton Buton, Sebut Mahakarya Peradaban Nusantara,”

Menurut Fadli Zon, Benteng Keraton Buton yang telah berstatus Cagar Budaya Nasional merupakan hasil karya masyarakat Buton tanpa campur tangan bangsa kolonial. Benteng sepanjang sekitar 2.750 meter itu diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-5 dan hingga kini dikenal sebagai salah satu benteng terluas di dunia yang dibangun oleh masyarakat lokal. “Benteng ini dibangun bukan oleh Belanda ataupun Portugis, tetapi oleh masyarakat Buton sendiri. Ini menunjukkan kemampuan dan kehebatan orang Nusantara dalam membangun sistem pertahanan yang luar biasa,” ujar Fadli Zon.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kebudayaan didampingi Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen (Purn) Andi Sumangerukka, Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim, S.E., serta Wakil Wali Kota Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc. Rombongan meninjau sejumlah situs penting di kawasan benteng, antara lain Makam Sultan Murhum, batu air yang digunakan sebagai tempat pemandian calon sultan, batu pijakan (Popaua) untuk prosesi pengambilan sumpah Sultan, serta meriam-meriam kuno yang masih terpelihara di sepanjang benteng.
Fadli Zon mengatakan pemerintah tengah membuka peluang pengusulan Sultan Buton ke-20 dan Sultan Buton ke-23 sebagai Pahlawan Nasional. Selain itu, sejumlah situs bersejarah, termasuk kompleks Makam Sultan Murhum, juga diproyeksikan untuk diusulkan menjadi bagian dari kawasan Cagar Budaya Nasional. “Kita berharap ke depan dapat bekerja sama untuk kemajuan nasional melalui pelindungan, konservasi, pengembangan, dan pemanfaatan situs-situs bersejarah ini,” katanya.
Ia juga mengapresiasi kualitas konstruksi Benteng Keraton Buton yang memanfaatkan batu karang dan batu kapur sebagai material utama. Benteng tersebut diperkuat dengan 12 lawa atau pintu gerbang serta 16 baluarte yang berfungsi sebagai sistem pertahanan. Menurutnya, tata ruang kawasan yang berada di puncak bukit menunjukkan kemampuan masyarakat Buton dalam merancang sistem pertahanan sekaligus pusat pemerintahan yang terencana. “Warisan seperti ini harus terus dijaga karena menjadi identitas bangsa Indonesia di mata dunia,” tegasnya.
Secara historis, Benteng Keraton Buton dibangun secara bertahap sejak abad ke-16 pada masa kejayaan Kesultanan Buton dan menjadi pusat pemerintahan, pertahanan, serta penyebaran Islam di wilayah Kepulauan Buton. Dalam sejarah dunia, benteng-benteng besar umumnya dibangun oleh kekuatan kolonial atau kerajaan besar di Eropa dan Asia. Keberadaan Benteng Keraton Buton menjadi istimewa karena lahir dari kemampuan masyarakat lokal Nusantara dengan teknologi dan sumber daya sendiri, sehingga memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi perkembangan peradaban maritim Indonesia.
Kunjungan kerja Menteri Kebudayaan ditutup dengan ramah tamah bersama pemerintah daerah dan masyarakat. Fadli Zon beserta rombongan menikmati kuliner khas Buton berupa jagung rebus dan kambuse yang disajikan sebagai produk unggulan PRJ Sorawolio. Sehari sebelumnya, Sabtu (11/7/2026), Pemerintah Kota Baubau juga menggelar malam ramah tamah bersama Menteri Kebudayaan RI dan Menteri Haji dan Umrah di Istana Malige sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja di Baubau.
baca juga:
- Baubau Tuan Rumah Kejuaraan Angkat Berat Sultra 2026, Diikuti 11 Daerah, Atlet Terbaik Disiapkan ke Nasional
- HUT ke-58 BPJS Kesehatan, Ratusan Peserta Ramaikan Semarak Gerak Sehat Prolanis di Kotamara Baubau
Melalui kunjungan tersebut, pemerintah berharap sinergi antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Pemerintah Kota Baubau semakin kuat dalam menjaga, mengembangkan, serta memanfaatkan warisan sejarah Kesultanan Buton. Langkah itu diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya nasional, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata sejarah Indonesia di tingkat internasional.(*)

