
Thomas Partey Gagal Masuk Kanada, Ghana Kehilangan Pilar di Piala Dunia
DURASITIMES.COM – Tim nasional Ghana dipastikan kehilangan salah satu pemain paling berpengalaman pada laga pembuka Grup L Piala Dunia 2026 setelah gelandang Thomas Partey tidak memperoleh izin memasuki Kanada. Putusan tersebut membuat skuad berjuluk Black Stars harus menghadapi Panama tanpa sosok yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung lini tengah mereka. “Thomas Partey Gagal Masuk Kanada, Ghana Kehilangan Pilar di Piala Dunia,”

Kepastian absennya Partey muncul setelah Pengadilan Federal di Toronto menolak permohonan banding darurat yang diajukan pihak pemain. Hakim Roger Lafreniere menyatakan tidak terdapat alasan hukum yang cukup untuk memberikan pengecualian terhadap ketentuan imigrasi Kanada sehingga permohonan tersebut tidak dapat dikabulkan.
Dengan keputusan itu, Partey masih berada di Amerika Serikat dan belum dapat bergabung bersama rekan-rekannya di Kanada. Pemain berusia 32 tahun tersebut baru berpeluang tampil ketika Ghana menghadapi Inggris pada pertandingan kedua fase grup yang dijadwalkan berlangsung di Foxborough pada 23 Juni 2026.
Pelatih Ghana, Carlos Queiroz, mengakui absennya Partey menjadi tantangan tersendiri, tetapi menegaskan timnya tetap harus fokus menghadapi pertandingan. “Tugas saya adalah memainkan kartu yang ada di tangan saya,” ujarnya kepada awak media menjelang laga.
Persoalan bermula dari proses pengajuan visa yang dilakukan sang pemain. Dalam dokumen yang diserahkan kepada otoritas Kanada, Partey disebut menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menghadapi dakwaan pidana di negara mana pun.
Namun, berdasarkan informasi yang menjadi pertimbangan pihak berwenang, terdapat ketidaksesuaian antara pernyataan tersebut dengan catatan hukum yang tersedia. Kondisi itulah yang kemudian menjadi alasan utama penolakan izin masuk ke wilayah Kanada.
Pihak Imigrasi, Pengungsi, dan Kewarganegaraan Kanada (IRCC) menegaskan bahwa setiap permohonan akan diproses secara individual sesuai fakta dan ketentuan hukum yang berlaku. “Setiap orang yang ingin datang ke Kanada akan dinilai secara individual berdasarkan fakta yang tersedia dan hukum yang berlaku, dengan keselamatan serta keamanan warga Kanada sebagai prioritas utama,” demikian bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut.
Menurut informasi yang beredar, Partey saat ini masih menghadapi proses hukum di Inggris atas sejumlah dakwaan pidana, termasuk tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual. Meski telah menyatakan tidak bersalah dalam persidangan sebelumnya, status hukum tersebut tetap menjadi bagian dari evaluasi dalam proses pemeriksaan imigrasi.
Secara historis, negara-negara tuan rumah ajang olahraga internasional tetap memiliki kewenangan penuh dalam menerapkan aturan imigrasi nasional. Dalam berbagai edisi kompetisi dunia sebelumnya, sejumlah atlet dan ofisial juga pernah mengalami kendala administrasi perjalanan akibat persoalan visa maupun persyaratan hukum domestik yang tidak dapat dikesampingkan.
Bagi Ghana, kehilangan Partey menjadi pukulan signifikan mengingat pengalamannya di level internasional sangat dibutuhkan. Sejak menjalani debut bersama tim nasional senior, ia telah tampil dalam berbagai turnamen besar dan menjadi salah satu figur penting dalam upaya menjaga keseimbangan permainan di sektor tengah.
Dari sisi performa tim, Black Stars memang tengah berada dalam periode yang kurang meyakinkan. Dalam tujuh pertandingan terakhir di berbagai kompetisi, Ghana dikabarkan menelan enam kekalahan sehingga laga melawan Panama memiliki arti penting sebagai momentum kebangkitan sebelum menghadapi Inggris dan Kroasia.
Kondisi tersebut membuat pemain seperti Mohammed Kudus, Jordan Ayew, dan Antoine Semenyo diperkirakan akan memikul tanggung jawab lebih besar. Kehadiran mereka diharapkan mampu menutup kekosongan yang ditinggalkan Partey sekaligus menjaga peluang Ghana bersaing di Grup L.
baca juga:
- Haaland Antar Norwegia Bungkam Irak 4-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026
- Dishub Baubau Perketat Pengawasan Parkir, Tata Ulang Parkir Tepi Jalan dan kawasan …
Di tengah situasi sulit itu, dukungan suporter terus mengalir kepada skuad Black Stars. Ratusan penggemar dilaporkan berkumpul di luar hotel tim di Toronto menjelang pertandingan sebagai bentuk motivasi bagi para pemain yang akan memulai perjalanan di Piala Dunia tanpa salah satu pemimpin mereka di lapangan.
Sejarah sepak bola Ghana menunjukkan bahwa negara tersebut beberapa kali mampu bangkit dari situasi yang tidak menguntungkan. Pencapaian menembus perempat final Piala Dunia 2010 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah sepak bola Afrika dan menjadi pengingat bahwa Black Stars memiliki tradisi menghadirkan kejutan di panggung dunia. “Kami harus tetap fokus pada pertandingan dan memaksimalkan pemain yang tersedia,” menjadi pesan yang mencerminkan sikap optimistis kubu Ghana menghadapi tantangan tersebut.(*)
baca berita lainnya:
Arti Selebrasi Seruling Mbappe Terkuak Setelah Prancis Tekuk Senegal 3-1
DURASITIMES.COM – Tim Nasional Prancis mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Senegal. Sorotan utama tidak hanya tertuju pada dua gol yang dicetak Kylian Mbappe, tetapi juga selebrasi unik berupa aksi berpura-pura meniup seruling yang ternyata memiliki kisah khusus di baliknya. “Arti Selebrasi Seruling Mbappe Terkuak Setelah Prancis Tekuk Senegal 3-1,”

Kemenangan tersebut sekaligus menegaskan peran penting Mbappe sebagai pemimpin lini serang Les Bleus. Penyerang Real Madrid itu mencetak gol pembuka sebelum menambah satu gol spektakuler dari luar kotak penalti untuk mengamankan tiga poin bagi negaranya.
Selebrasi meniup seruling yang dilakukan Mbappe segera menjadi perbincangan publik dan media internasional. Banyak pihak mempertanyakan makna di balik gestur tersebut karena berbeda dari selebrasi khas yang biasa diperagakan sang bintang.
Belakangan diketahui bahwa aksi tersebut merupakan realisasi janji Mbappe kepada komedian dan presenter Inggris, James Corden, ketika tampil dalam program “After Hours” beberapa waktu sebelum turnamen berlangsung.
Dalam acara tersebut, Mbappe mengungkapkan bahwa semasa kecil dirinya pernah mempelajari alat musik seruling sebagai bagian dari pendidikan yang didorong kedua orang tuanya. “Saya mencoba banyak hal ketika kecil karena orang tua saya ingin saya mengeksplorasi berbagai bidang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Mbappe.
Mendengar cerita itu, James Corden kemudian mengeluarkan sebuah seruling dan menantang kapten Prancis tersebut untuk melakukan selebrasi bermain seruling apabila berhasil mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Mbappe menerima tantangan tersebut dan menyatakan, “Saya akan melakukannya pada pertandingan pertama jika mendapat kesempatan mencetak gol.”
Janji itu benar-benar ditepati di New Jersey. Sesaat setelah membobol gawang Senegal yang dikawal Edouard Mendy, Mbappe berlari ke sisi lapangan dan memperagakan gerakan memainkan seruling di hadapan para penonton.
Selain membawa kemenangan, dua gol tersebut memiliki arti historis bagi perjalanan karier internasional Mbappe. Tambahan gol itu membuat koleksi golnya bersama Timnas Prancis mencapai 57 dan 58 gol, sekaligus melampaui rekor Olivier Giroud sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Les Bleus.
Prestasi tersebut semakin memperkuat posisi Mbappe dalam sejarah sepak bola Prancis. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah menjadi salah satu figur sentral yang mengantarkan negaranya meraih berbagai pencapaian di level internasional, termasuk tampil sebagai juara Piala Dunia 2018 dan peraih Sepatu Emas Piala Dunia 2022.
Sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian individu tersebut, Mbappe juga tampil mengenakan emblem khusus di jersey Timnas Prancis yang menandai statusnya sebagai peraih penghargaan Sepatu Emas Piala Dunia 2022.
Di balik kemenangan Prancis, pertandingan sempat diwarnai kontroversi ketika Mbappe terjatuh di area terlarang setelah mendapat kontak dari kapten Senegal, Sadio Mané. Meski insiden tersebut ditinjau melalui Video Assistant Referee (VAR), wasit Alireza Faghani memutuskan tidak memberikan hadiah penalti kepada Prancis.
Keputusan itu memicu protes dari sebagian suporter yang hadir di stadion. Setelah meninjau tayangan ulang di monitor tepi lapangan, Faghani tetap mempertahankan keputusan awalnya. “Keputusan di lapangan tetap berlaku setelah proses peninjauan VAR,” menjadi hasil akhir evaluasi yang dijalankan perangkat pertandingan.
baca juga:
- FIFA Buka Peluang Donald Trump Jadi Penyerah Trofi Piala Dunia 2026
- Polres Baubau Tegaskan Kasus Asmar Sebagai Korban Pembacokan dan Tersangka
Secara historis, Prancis memang dikenal sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia dengan koleksi gelar Piala Dunia 1998 dan 2018 serta beberapa kali mencapai fase akhir turnamen besar. Di sisi lain, Senegal merupakan negara Afrika yang terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak mencapai perempat final Piala Dunia 2002, pencapaian terbaik negara tersebut di ajang tersebut.
Kemenangan atas Senegal menjadi modal penting bagi Prancis dalam menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya di fase grup. Penampilan impresif Mbappe sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di sepak bola internasional saat ini dan kandidat kuat untuk kembali bersaing dalam perebutan gelar top skor Piala Dunia. (*)
