
Arti Selebrasi Seruling Mbappe Terkuak Setelah Prancis Tekuk Senegal 3-1
DURASITIMES.COM – Tim Nasional Prancis mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Senegal. Sorotan utama tidak hanya tertuju pada dua gol yang dicetak Kylian Mbappe, tetapi juga selebrasi unik berupa aksi berpura-pura meniup seruling yang ternyata memiliki kisah khusus di baliknya. “Arti Selebrasi Seruling Mbappe Terkuak Setelah Prancis Tekuk Senegal 3-1,”

Kemenangan tersebut sekaligus menegaskan peran penting Mbappe sebagai pemimpin lini serang Les Bleus. Penyerang Real Madrid itu mencetak gol pembuka sebelum menambah satu gol spektakuler dari luar kotak penalti untuk mengamankan tiga poin bagi negaranya.
Selebrasi meniup seruling yang dilakukan Mbappe segera menjadi perbincangan publik dan media internasional. Banyak pihak mempertanyakan makna di balik gestur tersebut karena berbeda dari selebrasi khas yang biasa diperagakan sang bintang.
Belakangan diketahui bahwa aksi tersebut merupakan realisasi janji Mbappe kepada komedian dan presenter Inggris, James Corden, ketika tampil dalam program “After Hours” beberapa waktu sebelum turnamen berlangsung.
Dalam acara tersebut, Mbappe mengungkapkan bahwa semasa kecil dirinya pernah mempelajari alat musik seruling sebagai bagian dari pendidikan yang didorong kedua orang tuanya. “Saya mencoba banyak hal ketika kecil karena orang tua saya ingin saya mengeksplorasi berbagai bidang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Mbappe.
Mendengar cerita itu, James Corden kemudian mengeluarkan sebuah seruling dan menantang kapten Prancis tersebut untuk melakukan selebrasi bermain seruling apabila berhasil mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Mbappe menerima tantangan tersebut dan menyatakan, “Saya akan melakukannya pada pertandingan pertama jika mendapat kesempatan mencetak gol.”
Janji itu benar-benar ditepati di New Jersey. Sesaat setelah membobol gawang Senegal yang dikawal Edouard Mendy, Mbappe berlari ke sisi lapangan dan memperagakan gerakan memainkan seruling di hadapan para penonton.
Selain membawa kemenangan, dua gol tersebut memiliki arti historis bagi perjalanan karier internasional Mbappe. Tambahan gol itu membuat koleksi golnya bersama Timnas Prancis mencapai 57 dan 58 gol, sekaligus melampaui rekor Olivier Giroud sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Les Bleus.
Prestasi tersebut semakin memperkuat posisi Mbappe dalam sejarah sepak bola Prancis. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah menjadi salah satu figur sentral yang mengantarkan negaranya meraih berbagai pencapaian di level internasional, termasuk tampil sebagai juara Piala Dunia 2018 dan peraih Sepatu Emas Piala Dunia 2022.
Sebagai bentuk penghormatan atas pencapaian individu tersebut, Mbappe juga tampil mengenakan emblem khusus di jersey Timnas Prancis yang menandai statusnya sebagai peraih penghargaan Sepatu Emas Piala Dunia 2022.
Di balik kemenangan Prancis, pertandingan sempat diwarnai kontroversi ketika Mbappe terjatuh di area terlarang setelah mendapat kontak dari kapten Senegal, Sadio Mané. Meski insiden tersebut ditinjau melalui Video Assistant Referee (VAR), wasit Alireza Faghani memutuskan tidak memberikan hadiah penalti kepada Prancis.
Keputusan itu memicu protes dari sebagian suporter yang hadir di stadion. Setelah meninjau tayangan ulang di monitor tepi lapangan, Faghani tetap mempertahankan keputusan awalnya. “Keputusan di lapangan tetap berlaku setelah proses peninjauan VAR,” menjadi hasil akhir evaluasi yang dijalankan perangkat pertandingan.
baca juga:
- FIFA Buka Peluang Donald Trump Jadi Penyerah Trofi Piala Dunia 2026
- Polres Baubau Tegaskan Kasus Asmar Sebagai Korban Pembacokan dan Tersangka
Secara historis, Prancis memang dikenal sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia dengan koleksi gelar Piala Dunia 1998 dan 2018 serta beberapa kali mencapai fase akhir turnamen besar. Di sisi lain, Senegal merupakan negara Afrika yang terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak mencapai perempat final Piala Dunia 2002, pencapaian terbaik negara tersebut di ajang tersebut.
Kemenangan atas Senegal menjadi modal penting bagi Prancis dalam menghadapi pertandingan-pertandingan berikutnya di fase grup. Penampilan impresif Mbappe sekaligus mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di sepak bola internasional saat ini dan kandidat kuat untuk kembali bersaing dalam perebutan gelar top skor Piala Dunia. (*)
baca berita lainnya:
Haaland Antar Norwegia Bungkam Irak 4-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026
DURASITIMES.COM – Tim Nasional Norwegia memulai kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan meyakinkan setelah menundukkan Irak 4-1 pada laga fase grup yang berlangsung di Boston Stadium, Rabu (17/6/2026) pagi WIB. Penyerang andalan Erling Haaland menjadi bintang lapangan dengan mencetak dua gol dan membawa negaranya meraih tiga poin penting di pertandingan pembuka. “Haaland Antar Norwegia Bungkam Irak 4-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026,”

Kemenangan tersebut memiliki arti historis bagi Norwegia. Selain menjadi modal penting dalam persaingan di Grup J, hasil ini juga mengakhiri penantian panjang selama hampir tiga dekade untuk kembali meraih kemenangan di putaran final Piala Dunia sejak terakhir kali tampil pada edisi 1998 di Prancis.
Pelatih Stale Solbakken menurunkan komposisi terbaik dengan mengandalkan duet Erling Haaland dan Alexander Sørloth di lini depan serta Martin Ødegaard sebagai motor permainan. Di kubu Irak, pelatih Graham Arnold mempercayakan lini serang kepada Aymen Hussein dan Ali Al Hamadi untuk membongkar pertahanan lawan.
Sejak menit awal, Norwegia tampil dominan dalam penguasaan bola, tetapi cuaca panas di Foxborough membuat tempo permainan berjalan tidak ideal. Irak memanfaatkan kondisi tersebut dengan bertahan rapat dan sesekali melancarkan serangan balik yang cukup merepotkan.
Kebuntuan akhirnya pecah setelah Antonio Nusa membangun serangan dari sisi sayap dan mengalirkan bola kepada David Møller Wolfe. Bek kiri Norwegia itu kemudian mengirimkan umpan silang yang diselesaikan Haaland menjadi gol pembuka pertandingan.
“Kami harus tetap sabar karena peluang pasti akan datang, dan akhirnya kami mampu memanfaatkannya,” demikian gambaran pendekatan permainan Norwegia yang tercermin dari jalannya laga.
Keunggulan tersebut tidak berlangsung lama. Irak mampu menyamakan skor menjadi 1-1 ketika Amir Al-Ammari mengirimkan umpan dari sektor kiri yang berhasil disundul Aymen Hussein tanpa mampu diantisipasi penjaga gawang Norwegia.
“Kami menunjukkan bahwa Irak mampu memberikan perlawanan dan tidak menyerah begitu saja,” menjadi cerminan semangat tim Asia tersebut setelah berhasil menyamakan kedudukan pada babak pertama.
Momentum pertandingan berubah menjelang turun minum. Kiper Jalal Hassan melakukan kesalahan saat hendak menyapu bola dari area pertahanannya. Tendangannya justru membentur lutut Haaland yang sedang melakukan tekanan sehingga bola memantul masuk ke gawang dan membawa Norwegia kembali memimpin 2-1.
Pada babak kedua, Norwegia terus mengendalikan jalannya pertandingan meski tidak banyak menciptakan peluang bersih. Irak beberapa kali mencoba memanfaatkan ruang melalui serangan balik, namun organisasi pertahanan tim Skandinavia tampil semakin solid.
Gol ketiga lahir menjelang akhir pertandingan melalui sundulan Leo Østigård setelah menerima umpan akurat dari Martin Ødegaard. Keunggulan tersebut praktis memupus harapan Irak untuk mengejar ketertinggalan.
“Kami terus menekan hingga menit terakhir dan tidak berhenti setelah unggul,” menjadi gambaran mentalitas permainan Norwegia yang akhirnya berbuah gol tambahan pada penghujung laga.
Penderitaan Irak semakin lengkap ketika sebuah gol bunuh diri menutup pertandingan dengan skor 4-1 untuk kemenangan Norwegia. Hasil ini menempatkan Norwegia sebagai salah satu tim yang mencuri perhatian pada laga pembuka fase grup.
Secara historis, Norwegia bukanlah langganan peserta putaran final Piala Dunia. Sebelum tampil pada edisi 2026, penampilan terakhir mereka terjadi pada 1998 ketika berhasil lolos hingga babak 16 besar. Setelah itu, generasi demi generasi gagal membawa negara tersebut kembali ke panggung tertinggi sepak bola dunia hingga munculnya era yang dipimpin Erling Haaland dan Martin Ødegaard.
Bagi Irak, kekalahan ini menjadi tantangan berat dalam upaya bersaing di Grup J. Meski demikian, wakil Asia tersebut memiliki sejarah membanggakan dengan tampil di Piala Dunia 1986 dan beberapa kali menunjukkan perkembangan signifikan di level Asia, termasuk keberhasilan menjuarai Piala Asia 2007 yang menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola nasional mereka.
baca juga:
- Ditolak Masuk AS, Wasit Somalia Omar Artan Tetap Terima Hak Finansial dari FIFA
- Kerugian Miliaran Rupiah, Polres Baubau Tahan Pelaku dan Penadah Emas Curian
Di level internasional, kemenangan empat gol atau lebih pada laga pembuka Piala Dunia kerap menjadi indikator awal performa menjanjikan sebuah tim. Namun, sejarah turnamen juga menunjukkan bahwa konsistensi sepanjang fase grup menjadi faktor utama untuk melangkah jauh, sehingga Norwegia masih harus menjaga performanya pada pertandingan-pertandingan berikutnya.
Dengan kemenangan telak ini, Norwegia mengirimkan pesan kuat kepada para pesaing bahwa mereka siap menjadi kekuatan baru di Piala Dunia 2026. Ketajaman Haaland, kreativitas Ødegaard, serta organisasi permainan yang semakin matang menjadi modal penting untuk melanjutkan perjalanan di turnamen paling bergengsi tersebut.
Pelatih: Graham Arnold.
Norwegia: Orjan Nyland; David Moller Wolfe, Torbjorn Heggem, Kristoffer Ajer, Julian Ryerson; Fredrik Aursnes, Sander Berge, Martin Odegaard; Antonio Nusa, Erling Haaland, Alexander Sorloth.
Pelatih: Stale Solbakken.
