
Senioritas Jadi Alasan Yamal Tak Kenakan Nomor 10 di La Roja Untuk Piala Dunia 2026
DURASITIMES.COM — Bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, dipastikan tidak mengenakan nomor punggung 10 bersama Timnas Spanyol meski di level klub bersama Barcelona ia identik dengan nomor tersebut. Keputusan itu berkaitan dengan sistem senioritas yang telah lama diterapkan dalam skuad La Roja menjelang Piala Dunia 2026. “Senioritas Jadi Alasan Yamal Tak Kenakan Nomor 10 di La Roja Untuk Piala Dunia 2026,”

Nomor punggung 10 Timnas Spanyol saat ini tetap menjadi milik gelandang serang Dani Olmo. Pemain Barcelona itu memperoleh hak menggunakan nomor tersebut karena lebih dahulu menjadi bagian penting skuad nasional dan memiliki jumlah penampilan internasional yang lebih banyak.
Dalam sistem internal Timnas Spanyol, pembagian nomor punggung dilakukan berdasarkan senioritas dan pengalaman bermain. Pemain yang telah lebih lama membela negara mendapat prioritas memilih nomor yang tersedia.
Hingga saat ini, Olmo telah mengoleksi sekitar 50 penampilan bersama Spanyol. Sementara itu, Yamal yang menjalani debut internasional pada 2023 telah mencatatkan sekitar 25 caps dan terus menambah pengalamannya di level senior.
“Tidak ada pemain yang lebih besar dari tim nasional, dan aturan berlaku untuk semua pemain,” demikian prinsip yang selama ini dipegang dalam lingkungan Timnas Spanyol.
Meski berstatus sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di lini serang La Roja, Yamal memilih menghormati tradisi yang telah lama diterapkan. Pemain berusia 18 tahun tersebut tetap menggunakan nomor 19, nomor yang juga dikenakannya saat membantu Spanyol menjuarai Euro 2024.
Keputusan itu menunjukkan kuatnya budaya kolektif yang dibangun pelatih Luis de la Fuente. Filosofi tersebut menempatkan kepentingan tim di atas status individu maupun popularitas pemain.
“Kami membangun tim berdasarkan rasa hormat dan kebersamaan,” menjadi semangat yang terus digaungkan dalam skuad Spanyol di bawah kepemimpinan De la Fuente.
Secara historis, nomor punggung 10 memiliki makna istimewa dalam sepak bola dunia. Sejumlah legenda seperti Pele, Diego Maradona, Zinedine Zidane, Roberto Baggio, hingga Lionel Messi pernah menjadikan nomor tersebut simbol kreativitas dan kepemimpinan di lapangan.
Dalam sejarah sepak bola Spanyol, nomor 10 juga pernah dikenakan sejumlah pemain besar seperti Cesc Fabregas dan Thiago Alcantara. Namun, berbeda dengan banyak negara lain, Spanyol lebih menekankan sistem tim dibanding kultus individu.
Di Barcelona, Yamal justru telah membuktikan kemampuannya memikul beban nomor 10 yang sebelumnya identik dengan Lionel Messi. Pada musim terakhir, ia mencatatkan 24 gol dan 17 assist dari 45 pertandingan, menjadikannya salah satu pemain muda paling bersinar di Eropa.
“Nomor punggung tidak bermain di lapangan, pemainlah yang menentukan pertandingan,” menjadi pandangan yang berkembang di lingkungan sepak bola modern terhadap simbol nomor jersey.
Pengalaman Barcelona juga menjadi pelajaran penting. Setelah kepergian Messi pada 2021, nomor 10 sempat diberikan kepada Ansu Fati. Namun, serangkaian cedera membuat sang pemain kesulitan memenuhi ekspektasi besar yang melekat pada nomor tersebut.
Situasi berbeda dialami Yamal. Alih-alih terbebani, pemain jebolan akademi La Masia itu mampu berkembang pesat dan menjadi salah satu kandidat bintang sepak bola dunia pada era berikutnya.
Dari sisi bisnis olahraga, nomor punggung 10 memiliki nilai komersial tinggi karena mampu meningkatkan penjualan jersey dan memperkuat citra pemasaran tim. Kendati demikian, Federasi Sepak Bola Spanyol tetap mempertahankan aturan yang berlaku demi menjaga keharmonisan skuad.
“Saya hanya ingin membantu tim menang, apa pun nomor yang saya pakai,” menjadi gambaran sikap profesional yang selama ini melekat pada sosok Yamal.
baca juga:
- Havertz Bersinar, Jerman Hajar Curacao 7-1 dan Kirim Sinyal Kuat di Piala Dunia 2026
- Dishub Baubau Perketat Pengawasan Parkir, Tata Ulang Parkir Tepi Jalan dan kawasan
Bagi Timnas Spanyol, keputusan mempertahankan sistem senioritas merupakan bagian dari identitas tim yang telah membawa mereka meraih berbagai prestasi internasional, termasuk gelar Piala Dunia 2010 dan tiga trofi Piala Eropa pada 1964, 2008, dan 2012.
Dengan demikian, absennya nomor 10 di punggung Lamine Yamal bukan disebabkan oleh kurangnya kualitas atau pengaruh sang pemain. Sebaliknya, keputusan tersebut mencerminkan budaya sepak bola Spanyol yang menempatkan rasa hormat, senioritas, dan kepentingan kolektif di atas kepentingan individu.(*)
baca berita lainnya:
Jepang Paksa Belanda Bermain Imbang 2-2 Berkat Gol Menit Akhir di Grup F
DURASITIMES.COM – Harapan Belanda mengawali kiprah di Grup F Piala Dunia 2026 dengan kemenangan sirna pada menit-menit akhir setelah Jepang mencetak gol penyama kedudukan dan memaksa pertandingan berakhir 2-2 di Dallas Stadium, Senin (15/6) dini hari WIB. Hasil tersebut membuat kedua tim harus puas berbagi satu poin pada laga pembuka turnamen. ‘Jepang Paksa Belanda Bermain Imbang 2-2 Berkat Gol Menit Akhir di Grup F’

Belanda sebenarnya dua kali berada di atas angin sepanjang babak kedua. Namun, daya juang Jepang yang tidak mengendur hingga peluit panjang berbunyi menjadi pembeda dalam pertandingan yang berlangsung dengan tempo tinggi tersebut.
Gol penyeimbang lahir pada menit ke-89 melalui aksi Daichi Kamada. Gelandang Jepang itu sukses memanfaatkan momentum di depan gawang untuk mengubah skor menjadi 2-2 sekaligus membuyarkan kemenangan yang sudah berada di depan mata De Oranje.
“Kami tidak pernah berhenti percaya sampai pertandingan benar-benar selesai,” menjadi kalimat yang mencerminkan perjuangan Jepang sepanjang laga, terutama setelah dua kali tertinggal sebelum akhirnya mengamankan hasil imbang.
Sebelum drama di penghujung pertandingan terjadi, Belanda lebih dahulu membuka keunggulan pada menit ke-50. Berawal dari umpan Ryan Gravenberch, Virgil van Dijk berhasil menuntaskan peluang dengan penyelesaian yang membawa timnya unggul 1-0.
Keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Jepang merespons tujuh menit kemudian melalui serangan cepat yang diawali tembakan keras Takefusa Kubo dan berubah arah setelah mengenai Keito Nakamura. Bola yang berbelok membuat kiper Belanda tidak mampu mengantisipasi sehingga skor berubah menjadi 1-1.
Belanda kembali menunjukkan kualitas serangannya pada menit ke-64. Crysencio Summerville memanfaatkan umpan Gravenberch, menusuk dari sektor sayap sebelum melepaskan tendangan melengkung yang bersarang di gawang Zion Suzuki untuk membawa timnya kembali memimpin 2-1.
“Kami mampu menciptakan peluang dan kembali unggul, tetapi gagal menjaga hasil hingga akhir pertandingan,” menjadi gambaran situasi yang dialami kubu Belanda setelah kehilangan keunggulan pada menit-menit krusial.
Jika menilik jalannya babak pertama, Belanda sebenarnya sudah mendominasi permainan. Donyell Malen memperoleh peluang emas sejak menit ketiga dan kembali mengancam melalui sundulan pada menit ke-34 setelah menerima sepak pojok Tijjani Reijnders. Namun, seluruh peluang tersebut berhasil dipatahkan penampilan gemilang Zion Suzuki di bawah mistar Jepang.
Di sisi lain, Jepang juga sempat menciptakan ancaman menjelang turun minum. Shunsuke Nakamura gagal memanfaatkan peluang pada menit ke-43, disusul percobaan Ayase Ueda yang belum menemui sasaran sehingga skor 0-0 bertahan hingga jeda.
Memasuki paruh kedua, pelatih Jepang melakukan sejumlah perubahan komposisi dengan memasukkan Junya Ito, Yukinari Sugawara, dan Koki Ogawa untuk meningkatkan agresivitas lini depan. Pergantian tersebut terbukti efektif karena tekanan yang dibangun akhirnya menghasilkan gol penyama kedudukan pada menit ke-89.
“Perubahan di lini depan memberikan energi baru bagi tim, dan hasilnya terlihat pada fase akhir pertandingan,” menjadi kesimpulan yang sesuai dengan jalannya laga setelah pergantian pemain mampu mengubah dinamika permainan Samurai Biru.
Secara historis, Belanda dikenal sebagai salah satu kekuatan tradisional sepak bola dunia dengan tiga kali tampil sebagai finalis Piala Dunia pada edisi 1974, 1978, dan 2010, meski belum pernah mengangkat trofi juara. Sementara itu, Jepang terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak pertama kali tampil di Piala Dunia 1998 dan kini rutin menjadi wakil Asia yang mampu bersaing di level tertinggi.
Dalam konteks sepak bola Asia, hasil imbang melawan tim sekelas Belanda memperlihatkan peningkatan kualitas kompetitif Jepang di panggung internasional. Samurai Biru dalam beberapa dekade terakhir juga konsisten melahirkan pemain yang berkarier di kompetisi elite Eropa dan mampu bersaing menghadapi negara-negara besar.
baca juga:
- Lisa BLACKPINK Tuai Pujian dan Kritik di Pembukaan Piala Dunia 2026
- Polres Baubau Tegaskan Kasus Asmar Sebagai Korban Pembacokan dan Tersangka …
Bagi Belanda, kegagalan mempertahankan keunggulan menjadi catatan penting untuk dievaluasi menjelang pertandingan berikutnya di fase grup. Sebaliknya, Jepang dapat menjadikan satu poin ini sebagai modal berharga untuk menjaga peluang lolos ke babak selanjutnya.
Laga yang berlangsung di Dallas Stadium tersebut akhirnya ditutup dengan skor 2-2, sebuah hasil yang mencerminkan ketatnya persaingan di Grup F sekaligus menegaskan bahwa Jepang memiliki mental bertanding kuat untuk bangkit hingga detik-detik terakhir pertandingan.(*)
Susuanan Pemain
Belanda (4-3-3): Bart Verbruggen; Denzel Dumfries, Jan Paul van Hecke, Virgil van Dijk, Micky van de Ven; Tijjani Reijnders, Frenkie de Jong, Ryan Gravenberch; Crysencio Summerville, Donyell Malen, Cody Gakpo.
Pelatih: Ronald Koeman.
Jepang (3-4-3): Zion Suzuki; Hiroki Ito, Shogo Taniguchi, Tsuyoshi Watanabe; Ritsu Doan, Kaishu Sano, Daichi Kamada, Keito Nakamura; Takefusa Kubo, Ayase Ueda, Daizen Maeda.
Pelatih: Hajime Moriyasu.

