KABUPATEN BUTONSULTRA

Buton Intensifkan Pembinaan Kafilah Jelang MTQ Sultra 2026 di Konawe

BUTON, DURASITIMES.CO — Pemerintah Kabupaten Buton mengintensifkan persiapan menghadapi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara dengan menggelar Pembinaan MTQ Tahun 2026 bagi qori, qoriah, hafiz, dan hafizah yang akan menjadi duta daerah. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 12–14 Juni 2026, di salah satu hotel di Pasarwajo, Kabupaten Buton. “Buton Intensifkan Pembinaan Kafilah Jelang MTQ Sultra 2026 di Konawe,”

"Buton Intensifkan Pembinaan Kafilah Jelang MTQ Sultra 2026 di Konawe,"
“Buton Intensifkan Pembinaan Kafilah Jelang MTQ Sultra 2026 di Konawe,”

Pembinaan yang diselenggarakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Buton bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Baznas Buton itu dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Buton, La Ode Syamsudin, S.Pd., M.Si., mewakili Bupati Buton pada Jumat (12/6/2026). Hadir pula Plt Kepala Kemenag Buton Drs. La Diri, M.A., Ketua Baznas Buton, para asisten, kepala OPD, kepala KUA, serta pelatih.

Dalam sambutannya, Sekda Buton menegaskan bahwa pembinaan MTQ bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai Al-Qur’an. “Saya salut kepada penyelenggara, kepada Bagian Kesra dan Kementerian Agama yang telah memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini yang bermuara pada peningkatan kualitas SDM Qur’ani,” ujar La Ode Syamsudin.

Ia menambahkan, penguatan literasi menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, Al-Qur’an merupakan sumber literasi utama yang membentuk karakter dan moral masyarakat. “Oleh karena itu, literasi harus kita kuatkan, dan sebaik-baik literasi itu adalah Al-Qur’an,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buton, Drs. La Diri, M.A., menyebut kegiatan tersebut sebagai wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat layanan keagamaan. “Para peserta akan menjadi duta-duta Kabupaten Buton dalam rangka MTQ Provinsi Sultra di Konawe,” ujarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Buton atas dukungannya terhadap pembinaan generasi Qurani.

Kemenag Buton menargetkan daerah tersebut mampu meraih prestasi pada MTQ Provinsi Sulawesi Tenggara yang dijadwalkan berlangsung pada 23–28 Juni 2026 di Kabupaten Konawe. Para peserta diharapkan memanfaatkan pembinaan secara optimal dengan bimbingan pelatih yang kompeten agar mampu bersaing dengan kabupaten dan kota lain di Sulawesi Tenggara.

Secara historis, MTQ Nasional pertama kali diselenggarakan di Makassar pada 1968 dan sejak itu berkembang menjadi agenda rutin yang tidak hanya memperkuat syiar Islam, tetapi juga menjadi sarana pembinaan karakter bangsa. Di tingkat internasional, berbagai negara seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Iran juga rutin menggelar kompetisi tilawah Al-Qur’an yang menjadi wadah pengembangan seni baca Al-Qur’an dan hafalan bagi generasi muda Muslim dunia.

baca juga:

  1. Bawaslu Buton Raih Penghargaan KPPN atas Tata Kelola Keuangan Terbaik
  2. Bupati Buton Alvin Akawijaya Dukung UMKM di HUT ke-62 Sultra

Bagi Kabupaten Buton, pembinaan berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas kafilah daerah. Kehadiran pemerintah, Kemenag, dan Baznas dalam proses pembinaan menunjukkan sinergi lintas lembaga dalam membangun generasi Qurani yang berdaya saing dan berakhlak.

Melalui pembinaan ini, Pemerintah Kabupaten Buton berharap para peserta tidak hanya mampu mengharumkan nama daerah di ajang MTQ Provinsi Sultra, tetapi juga menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. “Insya Allah Kabupaten Buton akan menorehkan banyak prestasi pada MTQ Provinsi Sultra,” kata La Diri.(*)

baca berita lainnya:

Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62

SULTRA, DURASITIMES.COM – Pemerintah Kabupaten Buton menampilkan fragmen sejarah Kesultanan Buton dalam karnaval budaya memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara yang digelar di kawasan Eks MTQ Kendari, Jumat (25/4/2026) sore. Penampilan tersebut menonjolkan kisah kepemimpinan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. “Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62,”

Referensi Geografis
Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62
Angkat Heroisme Oputa Yi Koo, Barisan Pawai Budaya Buton Semarakkan HUT Sultra ke-62

Partisipasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Buton dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan kembali warisan budaya kepada masyarakat luas, baik di tingkat regional maupun nasional. Karnaval budaya menjadi ruang ekspresi kolektif yang mempertemukan sejarah, seni, dan identitas daerah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Buton La Ode Syamsudin yang hadir mewakili Bupati Buton Alvin Akawijaya menegaskan pentingnya momentum tersebut. “Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga sarana edukasi sejarah bagi generasi muda,” ujarnya di sela kegiatan.

Dalam pawai itu, Buton mengusung tema “Barisan Pawai Budaya Harmoni Sultra” dengan menghadirkan dramatik perjalanan Sultan Buton ke wilayah Kadie-kadie. Fragmen ini menggambarkan hubungan antara pusat kekuasaan dengan wilayah-wilayah adat dalam struktur Kesultanan Buton.

Secara historis, Oputa Yi Koo memerintah pada 1752–1776 dan dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih melawan dominasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perlawanan selama kurang lebih 24 tahun menjadikannya simbol keteguhan dalam mempertahankan kedaulatan lokal di tengah ekspansi kolonial Belanda di Nusantara.

Fenomena perlawanan lokal seperti yang dilakukan Oputa Yi Koo sejajar dengan berbagai gerakan anti-kolonial di dunia pada abad ke-18, seperti perjuangan kemerdekaan di Amerika Serikat (1776) yang menandai gelombang perlawanan terhadap imperialisme global. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan Kesultanan Buton memiliki konteks historis yang lebih luas.

Barisan pawai diawali oleh dua Kapitalao, yakni Sukanaeo dan Matanaeo, yang tampil bersama dua Bonto dengan membawakan Tarian Mangaru. Tarian ini merepresentasikan keberanian, solidaritas, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman.

“Nilai-nilai keberanian dan persatuan yang ditampilkan dalam tarian ini masih relevan hingga saat ini,” kata salah satu peserta pawai, menegaskan makna simbolik yang terkandung dalam pertunjukan tersebut.

Pada barisan utama, sosok Sultan Buton ditampilkan dengan busana kebesaran, diikuti perangkat adat seperti Sapati, Kenepulu, Bonto Ogena, Lakina, dan Bonto. Kehadiran mereka memperkuat rekonstruksi visual sistem pemerintahan Kesultanan Buton yang terorganisasi dan berlapis.

Selain itu, barisan perempuan dengan pakaian adat khas Buton turut memperkaya estetika pawai. Keindahan busana yang ditampilkan mencerminkan identitas budaya sekaligus peran perempuan dalam menjaga tradisi.

La Ode Syamsudin menambahkan, “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya Buton bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi pembangunan masa depan.” Pernyataan ini menegaskan hubungan antara pelestarian budaya dan pembangunan daerah.

baca juga:

  1. Pemda Buton Apresiasi Edukasi OJK, Fokus Cegah SCAM dan Investasi
  2. Pemda Buton Dapat Program Bedah Rumah, 38 Unit di Kombeli Diverifikasi Oleh PT SMF

Partisipasi Buton dalam karnaval ini juga sejalan dengan semangat pembangunan daerah bertajuk “Buton Bersinar” yang diusung oleh Bupati Alvin Akawijaya Putra dan Wakil Bupati Syarifudin Saafa. Pembangunan tersebut diarahkan pada keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan pelestarian nilai budaya.

Karnaval budaya HUT Sultra sendiri menjadi agenda tahunan yang tidak hanya memperingati berdirinya Provinsi Sulawesi Tenggara, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman budaya daerah. Tahun ini, perayaan menekankan harmoni sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.

Dengan menampilkan sejarah lokal dalam panggung publik, Kabupaten Buton berupaya menegaskan identitasnya sebagai daerah yang kaya akan tradisi dan nilai historis. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat rasa kebanggaan masyarakat sekaligus menarik perhatian generasi muda terhadap akar budaya mereka.(*)

 

Visited 7 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *