ARTIS

Ruben Onsu Tempuh Jalur Hukum untuk Selesaikan Konflik Pascacerai Dua tahun Dengan Sarwendah

DURASITIMES.COM – Presenter dan pengusaha ternama, Ruben Onsu, memutuskan menunjuk pengacara Minola Sebayang untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang masih berlangsung dengan mantan istrinya, Sarwendah, hampir dua tahun setelah keduanya resmi bercerai pada 24 September 2024. “Ruben Onsu Tempuh Jalur Hukum untuk Selesaikan Konflik Pascacerai Dua tahun Dengan Sarwendah,”

 

Ruben Onsu Tempuh Jalur Hukum untuk Selesaikan Konflik Pascacerai Dua tahun Dengan Sarwendah
Ruben Onsu Tempuh Jalur Hukum untuk Selesaikan Konflik Pascacerai Dua tahun Dengan Sarwendah

Langkah tersebut diambil Ruben setelah menilai sejumlah kesepakatan yang pernah dibuat pascaperceraian tidak berjalan sesuai harapannya. Selain itu, ia juga ingin memberikan klarifikasi terhadap sejumlah isu yang berkembang di ruang publik, termasuk tudingan bahwa dirinya tidak lagi memberikan nafkah kepada anak-anaknya sejak 2025.

Dalam keterangannya yang dikutip dari kanal YouTube Intens Investigasi, Senin (1/6/2026), Ruben mengaku selama ini memilih untuk tidak banyak menanggapi berbagai pemberitaan yang beredar mengenai kehidupan pribadinya.

“Dua tahun terakhir saya memilih banyak diam. Saya pikir ini akan usai, tapi kok kayaknya menjadi bola liar terus,” ujar Ruben.

Menurut Ruben, upaya komunikasi langsung dengan Sarwendah sebenarnya telah dilakukan melalui pesan WhatsApp. Namun, komunikasi tersebut dinilai tidak menghasilkan penyelesaian yang diharapkan dan justru berujung pada situasi yang semakin menyakitkan bagi kedua belah pihak.

Karena itu, ia memilih menggunakan jasa kuasa hukum agar komunikasi dapat berlangsung lebih terstruktur dan objektif. Ruben berharap langkah tersebut dapat membuka ruang dialog yang lebih sehat sekaligus menjadi jalan tengah bagi semua pihak yang terlibat.

“Saya sudah mencoba berkomunikasi lewat WhatsApp. Tapi kalau komunikasi langsung ujung-ujungnya tidak baik dan saling menyakitkan, makanya lewat pengacara untuk memilih jalan tengahnya,” kata Ruben.

Selain persoalan komunikasi dengan mantan istrinya, isu mengenai hubungan Ruben dengan anak-anaknya turut menjadi perhatian publik. Minola Sebayang mengungkapkan bahwa kliennya disebut belum bertemu dengan kedua putrinya sejak Desember 2025.

Meski demikian, komunikasi melalui pesan singkat masih berlangsung. Namun, menurut Minola, respons yang diterima Ruben dari anak-anaknya kerap membutuhkan waktu cukup lama sehingga menimbulkan kekecewaan tersendiri bagi sang ayah.

Sebagai contoh, Minola memperlihatkan percakapan Ruben dengan salah satu putrinya, Thalia. Pada 30 Desember 2025, Ruben mengirim pesan dan mendapatkan balasan pada hari yang sama. Namun, pesan yang dikirim kembali pada 25 April 2026 baru memperoleh jawaban pada 15 Mei 2026.

“Jadi kalau enggak ketemunya itu sudah dari Desember. Ada komunikasi, tetapi balasannya cukup lama,” ujar Minola.

Meski menghadapi situasi tersebut, Minola menegaskan Ruben bukan sosok yang akan memohon atau mengemis untuk memperoleh perhatian. Ia menggambarkan kliennya sebagai pribadi yang tetap berusaha bersikap tenang dalam menghadapi persoalan keluarga yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Ruben menekankan bahwa langkah yang diambilnya bukan untuk menentukan siapa yang benar atau salah dalam konflik tersebut. Menurutnya, yang terpenting adalah meluruskan informasi yang dianggap tidak sesuai dengan fakta yang dialaminya.

“Tidak ada siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi saya menggunakan hak jawab saya saja,” tutur Ruben.

Perceraian Ruben dan Sarwendah pada 2024 sempat menjadi perhatian luas masyarakat Indonesia. Pasangan yang menikah pada 2013 itu selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu keluarga selebritas yang harmonis dan aktif membagikan aktivitas keluarga melalui berbagai platform media sosial maupun program televisi.

baca juga:

  1. Reaksi Byun Woo Seok Usai Dengar Panggilan Sayang Vata Viral!
  2. Bupati Buton Selatan H Muh Adios Sebut Festival Kuliner Momentum Promosi Daerah, Pulau Bokori Jadi

Secara historis, persoalan komunikasi pascaperceraian bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, sengketa mengenai hak asuh anak, pola komunikasi orang tua, serta pengaturan kunjungan merupakan isu yang paling sering muncul setelah perceraian. Data sejumlah lembaga keluarga internasional menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi antara mantan pasangan menjadi faktor penting dalam menjaga hubungan orang tua dan anak setelah perpisahan.

Di Indonesia sendiri, berbagai penelitian mengenai keluarga menunjukkan bahwa proses perceraian tidak selalu mengakhiri persoalan antara mantan pasangan. Tantangan justru kerap muncul pada fase pascaperceraian, terutama terkait pengasuhan anak, komunikasi keluarga, serta persepsi publik terhadap masing-masing pihak.

Kasus yang kini melibatkan Ruben dan Sarwendah kembali memperlihatkan bahwa penyelesaian konflik keluarga memerlukan komunikasi yang efektif, keterbukaan, dan pendekatan hukum yang proporsional agar kepentingan seluruh pihak, terutama anak-anak, tetap menjadi prioritas utama.(*)

baca berita lainnya:

Pelayanan Berubah Setelah Dikenali, Cinta Laura Kritik Standar Layanan Bandara

DURASITIMES.COM – Aktris dan penyanyi Cinta Laura Kiehl mengungkap pengalaman kurang menyenangkan yang dialaminya saat berada di sebuah bandara di Indonesia. Melalui unggahan di Instagram Story pada Senin (26/5/2026), ia menyoroti dugaan adanya perbedaan perlakuan dalam pelayanan yang diterimanya sebelum dan sesudah identitasnya dikenali oleh petugas maskapai penerbangan. “Pelayanan Berubah Setelah Dikenali, Cinta Laura Kritik Standar Layanan Bandara,”

Pelayanan Berubah Setelah Dikenali, Cinta Laura Kritik Standar Layanan Bandara
Pelayanan Berubah Setelah Dikenali, Cinta Laura Kritik Standar Layanan Bandara

Pengalaman tersebut menjadi perhatian publik karena tidak hanya menyangkut pelayanan terhadap seorang figur publik, tetapi juga menyinggung isu yang lebih luas mengenai kesetaraan pelayanan bagi seluruh penumpang tanpa memandang status sosial maupun tingkat popularitas.

Dalam keterangannya, Cinta mengaku sengaja membagikan pengalaman tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas pelayanan pelanggan di sektor transportasi udara. Menurutnya, setiap penumpang berhak memperoleh bantuan dan perlakuan yang sama ketika menghadapi kendala dalam perjalanan.

“Saya sangat sadar akan privilege yang saya miliki. Justru karena sadar akan hal itu, saya merasa punya tanggung jawab untuk speak up ketika melihat perlakuan seperti ini,” tulis Cinta melalui akun media sosialnya.

Peristiwa itu bermula ketika dirinya dipanggil melalui pengeras suara bandara untuk menjalani proses verifikasi bagasi. Saat itu, Cinta sedang melakukan perjalanan pribadi dan berusaha tidak menarik perhatian publik dengan mengenakan masker serta kacamata hitam.

Pemanggilan tersebut membuatnya kebingungan karena tidak memahami prosedur yang harus dijalani. Di sisi lain, ia mengaku khawatir proses verifikasi bagasi akan membuatnya tertinggal penerbangan yang telah dijadwalkan.

Untuk memperoleh informasi, Cinta kemudian mendatangi sejumlah petugas maskapai yang bertugas di area bandara. Namun, menurut pengakuannya, ia justru diarahkan dari satu petugas ke petugas lain tanpa memperoleh penjelasan yang memadai mengenai langkah yang harus dilakukan.

“Awalnya aku sempat bingung harus ke mana dan aku dilempar dari satu staf ke staf lain,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan sempat meminta bantuan kepada seorang petugas untuk memastikan dirinya tidak tertinggal penerbangan selama proses pemeriksaan bagasi berlangsung. Akan tetapi, respons yang diterimanya dinilai kurang membantu dan tidak memberikan kepastian yang dibutuhkan dalam situasi tersebut.

Menurut Cinta, perubahan sikap petugas baru terlihat setelah dirinya membuka masker dan kacamata hitam yang dikenakan. Setelah identitasnya dikenali, pelayanan yang diberikan disebut berubah secara signifikan.

“Dan lucunya, baru setelah aku buka kacamata dan dia sadar aku siapa, attitude-nya langsung berubah total. Tiba-tiba jadi jauh lebih ramah, helpful, dan attentive,” tulisnya.

Merasa tidak puas dengan situasi tersebut, Cinta mengaku sempat menyampaikan keberatannya kepada petugas yang bersangkutan. Ia menegaskan bahwa apabila petugas tidak dapat membantu, dirinya bersedia meminta bantuan kepada staf lain yang tersedia.

Setelah percakapan tersebut berlangsung, petugas akhirnya mengantarkan Cinta kepada person in charge (PIC) yang bertanggung jawab atas proses pemeriksaan bagasi sehingga persoalan yang dihadapinya dapat diselesaikan.

Meski demikian, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Cinta. Ia menilai perubahan perlakuan yang terjadi setelah identitasnya diketahui menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pelayanan yang diterima masyarakat umum yang tidak memiliki pengaruh atau popularitas serupa.

“Customer, guest, manusia. Semua pantas diperlakukan dengan hormat dan ketulusan,” tegasnya.

Pengamat layanan pelanggan menilai konsistensi pelayanan merupakan salah satu indikator utama profesionalisme dalam industri penerbangan. Organisasi penerbangan internasional selama bertahun-tahun juga mendorong maskapai dan pengelola bandara untuk mengedepankan prinsip pelayanan yang setara kepada seluruh pelanggan.

Secara historis, isu pelayanan penumpang telah menjadi perhatian industri penerbangan global sejak dekade 1980-an ketika meningkatnya jumlah pengguna transportasi udara memunculkan tuntutan terhadap standar pelayanan yang lebih transparan dan berorientasi pada pelanggan. Berbagai maskapai internasional kemudian mengembangkan standar pelayanan terpadu guna memastikan seluruh penumpang memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi.

baca juga:

  1. Haji Faisal Bongkar Soal Pernikahan Fuji, Ternyata Belum Mau Cepat Nikah!
  2. Tabungan Kurban Personel Brimob Hasilkan 28 Ekor Sapi, Daging Dibagikan ke Masyarakat

 

Di Indonesia, peningkatan kualitas pelayanan penumpang juga menjadi salah satu fokus pembenahan sektor transportasi udara dalam dua dekade terakhir. Berbagai regulasi dan standar operasional diterapkan untuk memperkuat aspek keselamatan, kenyamanan, serta pelayanan kepada pengguna jasa penerbangan.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak maskapai maupun pengelola bandara terkait pengalaman yang disampaikan Cinta Laura. Namun, unggahan tersebut telah memicu diskusi luas di media sosial mengenai pentingnya profesionalisme dan kesetaraan pelayanan dalam industri jasa.

Kasus yang diungkap Cinta Laura menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya diukur dari kemampuan menyelesaikan masalah pelanggan, tetapi juga dari konsistensi sikap petugas dalam melayani setiap individu tanpa memandang identitas, penampilan, maupun status sosialnya.(*)

Visited 10 times, 10 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *