
Finis Ketiga dan Lolos Liga Champions, MU Diminta Tetap Membumi, Rooney Nilai MU Belum Siap Rebut Gelar Premier League Musim 2026/2027
DURASITIMES.COM – Legenda Manchester United, Wayne Rooney, meminta para pendukung Setan Merah untuk tetap realistis dalam menatap musim kompetisi 2026/2027. Di tengah meningkatnya optimisme setelah kebangkitan tim di bawah pelatih Michael Carrick, Rooney menilai Manchester United masih membutuhkan waktu untuk kembali menjadi kekuatan dominan di Inggris maupun Eropa. “Finis Ketiga dan Lolos Liga Champions, MU Diminta Tetap Membumi, Rooney Nilai MU Belum Siap Rebut Gelar Premier League Musim 2026/2027,”

Pernyataan tersebut disampaikan Rooney dalam wawancara dengan talkSPORT setelah Manchester United menutup musim 2025/2026 di posisi ketiga klasemen akhir Premier League. Hasil itu sekaligus memastikan klub kembali tampil di Liga Champions setelah sempat absen dari kompetisi elite Eropa tersebut.
Menurut Rooney, pencapaian Manchester United pada musim lalu sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Namun, ia menilai target paling realistis bagi klub saat ini adalah menjaga konsistensi performa dan melanjutkan proses pembangunan tim yang sedang berjalan.
“Saya pikir beberapa tahun terakhir sangat sulit bagi para penggemar Manchester United untuk menemukan kebahagiaan. Namun sejak Michael datang, harapan dan keyakinan itu kembali muncul,” kata Rooney.
Kebangkitan Manchester United tidak lepas dari peran Michael Carrick yang ditunjuk sebagai pelatih pada Januari 2026. Mantan gelandang The Red Devils tersebut berhasil mengubah performa tim secara drastis dalam waktu singkat.
Selama masa kepemimpinannya, Carrick mencatatkan 39 poin di Premier League. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh klub peserta liga dalam periode yang sama. Catatan impresif itu membuat manajemen klub memberikan kontrak permanen berdurasi dua tahun kepada Carrick.
Selain membawa tim finis di posisi ketiga, Carrick juga berhasil mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan memperbaiki atmosfer di lingkungan klub. Keberhasilan tersebut menjadi fondasi penting bagi proyek jangka panjang Manchester United.
Rooney turut memberikan apresiasi terhadap aktivitas transfer yang dilakukan manajemen. Ia menilai sebagian besar pemain yang direkrut mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan performa tim sepanjang musim.
“Finis di posisi ketiga merupakan pencapaian yang sangat baik. Saya pikir sebagian besar pemain yang didatangkan juga tampil cukup bagus. Sekarang mereka kembali ke Liga Champions dan semoga bisa merekrut beberapa pemain lagi untuk membantu tim naik ke level berikutnya,” ujarnya.
Meski demikian, Rooney mengingatkan bahwa ekspektasi untuk langsung menjuarai Premier League atau Liga Champions masih terlalu tinggi. Menurutnya, persaingan di level tertinggi sepak bola saat ini semakin ketat sehingga membutuhkan proses yang berkelanjutan.
“Saya berbicara dengannya pekan lalu. Tentu ekspektasi di Manchester United selalu berusaha memenangkan semua kompetisi yang diikuti. Namun, kita juga harus realistis,” ujar mantan kapten tim nasional Inggris tersebut.
Rooney menegaskan bahwa capaian seperti kembali finis di empat besar Premier League, bersaing memperebutkan trofi domestik seperti Piala FA, serta tampil kompetitif di Liga Champions sudah dapat dianggap sebagai kemajuan nyata bagi klub.
“Jika United bisa finis di empat besar lagi musim depan, mungkin memenangkan Piala FA dan tampil baik di Liga Champions, saya rasa itu sudah merupakan bentuk perkembangan yang nyata,” katanya.
Secara historis, Manchester United merupakan klub tersukses dalam sejarah Premier League dengan koleksi 20 gelar Liga Inggris. Namun, gelar liga terakhir mereka diraih pada musim 2012/2013, yang juga menjadi musim terakhir Sir Alex Ferguson sebelum pensiun. Sejak saat itu, United mengalami beberapa kali pergantian pelatih dan belum mampu kembali merebut trofi liga domestik.
Dalam rentang lebih dari satu dekade tersebut, Manchester United sempat ditangani sejumlah pelatih seperti David Moyes, Louis van Gaal, José Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Erik ten Hag, hingga akhirnya Michael Carrick. Meski sempat meraih trofi domestik dan kompetisi Eropa, klub belum berhasil mengembalikan dominasi yang pernah mereka bangun selama era Ferguson.
baca juga:
- Barcelona Intensif Kejar Julian Alvarez dari Atletico Madrid Tawarkan Rp1,8 Triliun
- Dinkes dan Laboratorium Kesehatan Baubau Lakukan Pemeriksaan Hepatitis A dan TB …
Di tingkat internasional, tantangan yang dihadapi Manchester United juga semakin berat. Klub-klub seperti Manchester City, Liverpool, Arsenal, dan sejumlah raksasa Eropa lainnya terus memperkuat skuad mereka dengan investasi besar serta sistem pembinaan yang semakin modern.
Saat ini Manchester United juga dikabarkan semakin dekat untuk merekrut gelandang Ederson dari Atalanta. Kehadiran pemain baru diharapkan mampu menambah kedalaman skuad dan meningkatkan daya saing tim pada musim mendatang.
Bagi Rooney, keberhasilan terbesar Manchester United saat ini bukan sekadar posisi klasemen, melainkan keberadaan sosok pelatih yang mampu memberikan arah jelas bagi masa depan klub. Musim 2026/2027 pun dipandang sebagai momentum penting untuk mengukur sejauh mana proyek pembangunan yang dipimpin Carrick dapat berkembang.(*)
baca berita lainnya:
PSG Pertahankan Gelar Liga Champions Setelah Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti
DURASITIMES.COM – Paris Saint-Germain (PSG) berhasil mempertahankan gelar Liga Champions Eropa musim 2025/2026 setelah mengalahkan Arsenal melalui adu penalti 4-3 pada partai final di Puskás Aréna, Budapest, Hungaria, Sabtu (30/5/2026) malam waktu setempat. Kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit sebelum pemenang ditentukan melalui babak tos-tosan. “PSG Pertahankan Gelar Liga Champions Setelah Kalahkan Arsenal Lewat Adu Penalti,”

Keberhasilan tersebut menjadikan PSG meraih trofi Liga Champions kedua secara beruntun setelah pada musim 2024/2025 klub asal Prancis itu juga keluar sebagai juara dengan kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan di partai final. Capaian tersebut menegaskan posisi PSG sebagai salah satu kekuatan dominan sepak bola Eropa dalam dua musim terakhir.
Arsenal sebenarnya memulai pertandingan dengan sangat baik. Tim asal London itu unggul lebih dahulu melalui gol cepat Kai Havertz pada menit keenam. Gol tersebut membuat The Gunners mengendalikan permainan pada fase awal dan membuka peluang untuk meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Namun, PSG yang diasuh Luis Enrique menunjukkan mental juara dengan terus menekan sepanjang pertandingan. Dominasi penguasaan bola yang mereka tampilkan akhirnya membuahkan hasil pada babak kedua ketika Ousmane Dembele sukses mengeksekusi penalti dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
“PSG kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai tim besar dengan tetap tenang saat berada di bawah tekanan,” demikian penilaian sejumlah pengamat sepak bola Eropa seusai pertandingan. Sementara itu, “Gol penalti Dembele menjadi titik balik yang mengubah arah pertandingan,” tulis sejumlah media olahraga internasional dalam laporan pascalaga.
Hingga waktu normal dan babak tambahan berakhir, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Kedua tim tampil disiplin dan berhati-hati sehingga pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti. Pada momen krusial tersebut, para eksekutor PSG tampil lebih tenang dibandingkan pemain Arsenal.
Momen penentu terjadi ketika bek Arsenal, Gabriel, gagal menuntaskan tugasnya sebagai penendang penalti. Tendangannya melambung di atas mistar gawang sehingga memastikan kemenangan PSG dengan skor 4-3 dalam adu penalti. “Kegagalan itu menjadi titik akhir perjuangan Arsenal di final,” tulis laporan pertandingan yang beredar setelah laga usai.
baca juga:
- PSG Juara Liga Champions Usai Bantai Inter Milan 5-0, Enrique Menangis Saat Fans PSG Bentangkan Mural Mendiang Putrinya
- Harmoni Sultra 2026 Resmi Dibuka Gubernur ASR, Momentum Bangkitkan Ekonomi Daerah
Bagi Arsenal, hasil ini kembali menghadirkan kekecewaan di panggung tertinggi Eropa. Klub berjuluk The Gunners itu sebelumnya juga gagal meraih trofi Liga Champions saat kalah dari Barcelona pada final tahun 2006. “Kami sangat dekat dengan sejarah, tetapi harus menerimanya dengan lapang dada,” menjadi gambaran umum suasana kubu Arsenal setelah pertandingan berakhir.
Secara historis, keberhasilan mempertahankan gelar Liga Champions merupakan pencapaian yang jarang terjadi. Sebelum PSG, klub terakhir yang mampu memenangkan kompetisi ini secara beruntun adalah Real Madrid pada periode 2016, 2017, dan 2018. Sementara bagi sepak bola Prancis, keberhasilan PSG memperkuat posisi negara tersebut di peta sepak bola Eropa, melanjutkan jejak klub-klub Prancis yang pernah mencatatkan prestasi besar di kompetisi antarklub Benua Biru.(*)
