KESEHATANKOTA BAUBAUSULTRA

Pemkot Baubau Perluas Program DASHAT Hingga 40 Kelurahan Untuk Tekan Angka Stunting

BAUBAU, DURASITIMES.COM — Pemerintah Kota Baubau memperluas pelaksanaan Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) hingga mencakup 40 kelurahan pada 2026. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi mempercepat penurunan angka stunting melalui penguatan peran keluarga dan edukasi gizi masyarakat. “Pemkot Baubau Perluas Program DASHAT Hingga 40 Kelurahan Untuk Tekan Angka Stunting,”

Pemkot Baubau Perluas Program DASHAT Hingga 40 Kelurahan Untuk Tekan Angka Stunting
Pemkot Baubau Perluas Program DASHAT Hingga 40 Kelurahan Untuk Tekan Angka Stunting

Perluasan program itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Baubau Abdul Rahman, S.Pd., M.Si dalam kegiatan Fasilitasi Pengelolaan DASHAT di Kampung Keluarga Berkualitas Tingkat Kota Baubau yang berlangsung di Aula Palagimata Kantor Wali Kota Baubau, Senin (25/05/2026).

Menurut Abdul Rahman, pelaksanaan DASHAT tahun ini meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya menjangkau 10 kelurahan. “Tahun 2026 program DASHAT telah menjangkau 40 kelurahan di Kota Baubau. Diharapkan program ini mampu membantu menyelesaikan persoalan stunting yang masih menjadi tantangan bersama,” ujarnya.

Wali Kota Baubau yang diwakili Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darus Salam, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa persoalan stunting tidak bisa dipandang sebagai masalah kesehatan semata, melainkan ancaman serius bagi kualitas generasi masa depan daerah.

“Anak-anak merupakan benih unggul yang dititipkan Tuhan dan menjadi penentu masa depan Kota Baubau. Namun itu tidak akan terwujud jika kita semua abai terhadap tumbuh kembang mereka,” kata La Ode Darus Salam dalam sambutannya.

Ia menambahkan, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurut dia, dapur keluarga memiliki posisi penting dalam membangun pola makan sehat dan pemenuhan gizi anak sejak dini. “Kegiatan ini sesungguhnya adalah ikhtiar menyalakan harapan dari jantung keluarga, yakni dari dapur di rumah-rumah keluarga,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, pengelola DASHAT diminta mengedepankan pendekatan humanis kepada keluarga sasaran. Edukasi mengenai pola konsumsi sehat, pengolahan makanan bergizi, serta pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak diharapkan dapat menekan potensi stunting secara bertahap.

baca juga:

  1. Fasilitas Lengkap, Laboratorium Kesehatan Baubau Layani Pemeriksaan Klinik hingga Lingkungan untuk Wilayah Kepulauan Buton
  2. Ny Siti Norma Adios Pastikan Posyandu 6 SPM Berjalan Rutin di Desa

Secara nasional, pemerintah Indonesia menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14 persen sebagaimana tercantum dalam Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting nasional pada 2021 berada di kisaran 24,4 persen dan terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir melalui intervensi lintas sektor.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri sejak lama menempatkan stunting sebagai persoalan global yang memengaruhi kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, hingga tingkat kesehatan masyarakat suatu negara. UNICEF mencatat, jutaan anak di dunia mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan pola asuh yang belum optimal, terutama di negara berkembang.(*)

baca berita lainnya:

40 Calon Relawan MBG di Wilayah Pulau Makasar Wajib Periksa Hepatitis A dan TB yang Dilakukan Dinkes dan Laboratorium Kesehatan Baubau

BAUBAU, DURASITIMES.COM – UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Baubau bersama Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap para relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau relawan MBG yang berada di wilayah Kelurahan Liwuto, Pulau Makassar. “40 Calon Relawan MBG di Wilayah Pulau Makasar Wajib Periksa Hepatitis A dan TB yang Dilakukan Dinkes dan Laboratorium Kesehatan Baubau,”

Kepala UPTD Labkesda Kota Baubau Asriani Lanto AMK
Kepala UPTD Labkesda Kota Baubau Asriani Lanto AMK

Kepala UPTD Labkesda Kota Baubau, Asriani Lanto, AMK., menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut merupakan salah satu syarat utama bagi relawan sebelum terlibat langsung dalam pelayanan makanan.

“Pemeriksaan yang dilakukan meliputi tes TST atau tes mantoux untuk mendeteksi TB serta pemeriksaan hepatitis A melalui sampel darah,” ujar Asriani pada media Baubau Post, Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan, pemeriksaan hepatitis A menjadi perhatian khusus karena penyakit tersebut dapat menular melalui makanan, sehingga sangat penting bagi relawan yang berhubungan langsung dengan pengolahan dan distribusi makanan.

“Tujuan pemeriksaan hepatitis A ini sebagai langkah pencegahan, karena relawan MBG bersentuhan langsung dengan makanan,” katanya.

Sebanyak 40 relawan mengikuti pemeriksaan kesehatan tersebut. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, seluruh peserta dinyatakan negatif hepatitis A dan memenuhi syarat untuk menjadi relawan MBG.

“Alhamdulillah hasil pemeriksaan hepatitis A semuanya negatif, jadi memenuhi syarat untuk menjadi relawan,” jelasnya.

Sementara itu, untuk hasil pemeriksaan TST atau tes mantoux, pembacaan dilakukan Dua hari setelah pemeriksaan dan berada di bawah penanganan Puskesmas bersama Dinas Kesehatan.

2 12

Asriani menambahkan, pemeriksaan kesehatan bagi relawan MBG dilakukan secara berkala setiap enam bulan selama program berjalan.

“Dalam satu tahun dilakukan dua kali pemeriksaan atau setiap enam bulan, baik tes TB maupun hepatitis A,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pemeriksaan relawan lebih difokuskan pada hepatitis B. Namun, seiring meningkatnya perhatian terhadap keamanan makanan, kini pemeriksaan hepatitis A diwajibkan bagi seluruh relawan MBG.

“Karena mereka berhubungan langsung dengan makanan, maka pemeriksaan hepatitis A diwajibkan,” katanya.

baca juga:

  1. Ketua TP Posyandu 6 SPM Buton Selatan Tinjau Layanan Terpadu di Sejumlah Desa
  2. Ketua TP PKK Baubau Hj Sitti Aryati Yusran Ajak Orang Tua Lengkapi Imunisasi Anak Demi Perlindungan …

Menurutnya, pernah ditemukan satu kasus relawan yang terdeteksi positif hepatitis A. Relawan tersebut langsung dirumahkan sementara dan menjalani terapi pengobatan selama enam bulan.

“Kalau setelah pengobatan hasilnya sudah negatif, maka bisa kembali bekerja tergantung kebijakan SPPG,” jelasnya.

Asriani juga menyebutkan bahwa pemeriksaan hepatitis A di Kota Baubau saat ini hanya dapat dilakukan di Labkesda Kota Baubau karena fasilitas pemeriksaannya belum tersedia di tempat lain.

“Kalau hepatitis A, pemeriksaannya hanya ada di Labkesda, ” tutupnya.(*)

Visited 5 times, 5 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *