Koran Online Baubau Post Edisi 04 Mei 2026
Koran Online Baubau Post Edisi 04 Mei 2026
baca Koran Online Baubau Post Edisi 04 Mei 2026 Versi PDF
baca Koran Online Baubau Post Edisi 04 Mei 2026
baca juga Koran Online Baubau Post Edisi lainnya
baca berita lainnya:
Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja
BAUBAU, DURASITIMES.COM — Upaya menekan angka stunting di Kota Baubau kini memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi Remaja Milenial Sehat (REMILA). Inovasi ini diproyeksikan menjadi instrumen penting dalam mendeteksi dini faktor risiko stunting pada remaja secara cepat dan akurat. “Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja,”

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dinas Kesehatan Kota Baubau bersama Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kendari di Aula Puskesmas Katobengke, Kamis (30/4/2026).
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Djainudin Ishak, menegaskan bahwa transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pelayanan kesehatan.
“Melalui REMILA, kami berharap deteksi dini terhadap faktor risiko stunting pada remaja dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berbasis data,” ujarnya.
Kegiatan ini melibatkan pengelola program kesehatan remaja dan gizi tingkat kota, perwakilan seluruh puskesmas di Baubau, tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kendari, serta tenaga medis Puskesmas Katobengke.
FGD juga menjadi ruang bertukar pengalaman lapangan terkait kondisi kesehatan remaja, termasuk berbagai kendala teknis dalam pelaporan data kesehatan yang selama ini masih dilakukan secara manual.
Ketua tim peneliti Poltekkes Kendari, Rasmaniar, SKM, M.Kes, menjelaskan bahwa REMILA dirancang sebagai sistem surveilans kesehatan remaja berbasis digital yang mampu memantau kondisi secara real-time.
“Aplikasi ini fokus pada pemantauan status gizi, kesehatan reproduksi, dan pencegahan anemia yang menjadi salah satu akar persoalan stunting,” kata Rasmaniar.
Ia menambahkan, intervensi pada masa remaja menjadi kunci dalam memutus rantai stunting antargenerasi.
“Jika remaja sehat dan bebas anemia, maka potensi melahirkan generasi stunting dapat ditekan sejak awal,” ujarnya.
Dalam diskusi, peserta juga menyoroti pentingnya kemudahan akses aplikasi agar dapat digunakan langsung oleh remaja secara mandiri.
Selain itu, integrasi data dengan sistem layanan kesehatan di puskesmas dinilai penting agar informasi yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pengambilan kebijakan.
Aspek edukasi menjadi perhatian lain, terutama terkait perlunya pelatihan operator serta sosialisasi berkelanjutan ke sekolah-sekolah.
“Tanpa pemahaman yang baik dari pengguna, teknologi ini tidak akan berjalan maksimal,” kata salah satu peserta FGD.
Secara historis, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional sempat berada di atas 30 persen pada 2018 sebelum menurun menjadi sekitar 21,6 persen pada 2022.
Pemerintah menargetkan penurunan angka tersebut hingga 14 persen, sejalan dengan komitmen global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk menghapus segala bentuk malnutrisi pada 2030.
baca juga:
- Sekda Baubau La Ode Darussalam Buka Pra-OSN 2026, Dorong Lahirnya Generasi Kompetitif
- Pembukaan MTQ XIV Baubau Meriah, Jadi Ajang Syiar dan Prestasi Qurani
Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 148 juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting pada 2022, menjadikan persoalan ini sebagai isu kesehatan lintas negara yang membutuhkan pendekatan inovatif.
Karena itu, pemanfaatan teknologi digital seperti REMILA dinilai sejalan dengan tren global dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis data.
Djainudin Ishak menyatakan, hasil penelitian REMILA nantinya diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Baubau, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain di Sulawesi Tenggara.
“Kami melihat ini sebagai model inovasi yang bisa dikembangkan lebih luas dalam mendukung program percepatan penurunan stunting,” ujarnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan, Baubau berupaya membangun fondasi kesehatan generasi muda melalui pendekatan yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. (*)









