KOTA BAUBAUSULTRA

MTQ XIV Baubau Sukses Digelar, Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah Tutup MTQ XIV Dengan Meriah, Murhum Tampil sebagai Juara Umum

BAUBAU, DURASITIMES.COM– Kecamatan Murhum keluar sebagai juara umum dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Ke-XIV tingkat Kota Baubau tahun 2026 yang resmi ditutup pada Jumat (1/5/2026) malam di Lapangan Lembah Hijau. “MTQ XIV Baubau Sukses Digelar, Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah Tutup MTQ XIV Dengan Meriah, Murhum Tampil sebagai Juara Umum,”

MTQ XIV Baubau Sukses Digelar, Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah Tutup MTQ XIV Dengan Meriah, Murhum Tampil sebagai Juara Umum
MTQ XIV Baubau Sukses Digelar, Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah Tutup MTQ XIV Dengan Meriah, Murhum Tampil sebagai Juara Umum

Penutupan ajang keagamaan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Baubau, Ir Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc, sekaligus menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang berlangsung meriah, terbuka, dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Dalam perhelatan itu, Kecamatan Murhum tampil dominan dengan meraih sejumlah gelar juara di berbagai cabang lomba, sehingga mengantarkannya sebagai peraih predikat juara umum tahun ini.

Pada malam penutupan, panitia juga mengumumkan para pemenang terbaik dari sejumlah kategori bergengsi, mulai dari cabang tartil, tilawah, hingga qiraat Al-Qur’an.

Untuk cabang tartil golongan kanak-kanak putra, juara pertama diraih La Ode Dzaki Khairullah dari Kecamatan Wolio, sedangkan kategori putri dimenangkan Nadira Izma Tafana dari Kecamatan Sorawolio.

Sementara itu, pada cabang tilawah golongan anak-anak, juara pertama putra diraih Muh. Habibu Rahman dan putri diraih Khairur Rizkiyah, keduanya berasal dari Kecamatan Wolio.

Adapun cabang tilawah golongan remaja, juara pertama putra diraih Muh. Yasin dari Kecamatan Murhum dan kategori putri diraih Nuramalia dari Kecamatan Kokalukuna.

Pada cabang tilawah golongan dewasa, juara pertama putra diraih Muhammad Sadam H dari Kecamatan Murhum dan putri dimenangkan Eri Fitria dari Kecamatan Sorawolio.

Sedangkan pada cabang qiraat Al-Qur’an mujawwad, juara pertama putra diraih Bernyamin dari Kecamatan Murhum dan juara putri diraih Fitri Khoirunnisa dari Kecamatan Wolio.

Wakil Wali Kota Baubau dalam sambutannya menegaskan bahwa pelaksanaan MTQ tahun ini merupakan hasil pembenahan konsep agar lebih terbuka dan bermartabat.

“Jika kegiatan seni dan olahraga bisa dibuat meriah, maka MTQ juga harus tampil lebih layak dan terbuka. Malam ini menjadi bukti komitmen tersebut,” ujar Wa Ode Hamsinah Bolu.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan, termasuk bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam memberikan pelayanan publik.

“Kita ingin nilai kejujuran, keikhlasan, dan kebenaran dari Al-Qur’an menjadi fondasi dalam bekerja melayani masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan antara Iman dan Takwa (Imtak) serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dalam membentuk generasi muda.

“Generasi kita harus cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat secara moral dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup,” tambahnya.

Ia juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta bahwa ajang MTQ bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari ibadah.

“Dalam mencintai Al-Qur’an, tidak ada yang kalah. Semua bernilai ibadah,” tuturnya.

Secara historis, MTQ di Indonesia pertama kali diselenggarakan secara nasional pada tahun 1968 di Makassar, yang kemudian berkembang menjadi agenda rutin dari tingkat daerah hingga nasional sebagai sarana syiar Islam.

Dalam konteks global, kegiatan serupa juga berkembang di berbagai negara Muslim seperti Malaysia dan Mesir yang memiliki tradisi kuat dalam penyelenggaraan lomba tilawah Al-Qur’an bertaraf internasional.

baca juga:

  1. Terima Rekomendasi DPRD, Wali Kota Baubau H Yusran Fahim Tekankan Perbaikan Kinerja
  2. Ratusan Siswa Baubau Ikuti Pra-OSN 2026, Sekda La Ode Darussalam Tekankan Integritas

Di Kota Baubau sendiri, penyelenggaraan MTQ tahun ini menjadi momentum kebangkitan tradisi syiar Islam yang lebih terbuka, setelah sebelumnya kegiatan serupa cenderung berlangsung sederhana dan terbatas di lingkungan masjid.

Partisipasi aktif sekolah dan pondok pesantren sejak pawai taaruf hingga pelaksanaan lomba menjadi salah satu indikator meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan keagamaan tersebut.

Pemerintah Kota Baubau berharap, melalui penyelenggaraan MTQ yang lebih representatif ini, akan lahir generasi Qurani yang mampu bersaing di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional.(*)

Galeri Foto

baca Berita Lainnya:

Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja

BAUBAU, DURASITIMES.COM — Upaya menekan angka stunting di Kota Baubau kini memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi Remaja Milenial Sehat (REMILA). Inovasi ini diproyeksikan menjadi instrumen penting dalam mendeteksi dini faktor risiko stunting pada remaja secara cepat dan akurat. “Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja,”

Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja
Dinkes Baubau Gandeng Akademisi Hadirkan REMILA untuk Percepat Deteksi Risiko Stunting di Kalangan Remaja

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dinas  Kesehatan Kota Baubau bersama Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kendari di Aula Puskesmas Katobengke, Kamis (30/4/2026).

Kesehatan

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Djainudin Ishak, menegaskan bahwa transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pelayanan  kesehatan.

“Melalui REMILA, kami berharap deteksi dini terhadap faktor risiko stunting pada remaja dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan berbasis data,” ujarnya.

Kegiatan ini melibatkan pengelola program kesehatan remaja dan gizi tingkat kota, perwakilan seluruh puskesmas di Baubau, tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kendari, serta tenaga medis Puskesmas Katobengke.

FGD juga menjadi ruang bertukar pengalaman lapangan terkait kondisi kesehatan remaja, termasuk berbagai kendala teknis dalam pelaporan data kesehatan yang selama ini masih dilakukan secara manual.

Ketua tim peneliti Poltekkes Kendari, Rasmaniar, SKM, M.Kes, menjelaskan bahwa REMILA dirancang sebagai sistem surveilans kesehatan remaja berbasis digital yang mampu memantau kondisi secara real-time.

“Aplikasi ini fokus pada pemantauan status gizi, kesehatan reproduksi, dan pencegahan anemia yang menjadi salah satu akar persoalan stunting,” kata Rasmaniar.

Ia menambahkan, intervensi pada masa remaja menjadi kunci dalam memutus rantai stunting antargenerasi.

“Jika remaja sehat dan bebas anemia, maka potensi melahirkan generasi stunting dapat ditekan sejak awal,” ujarnya.

Dalam diskusi, peserta juga menyoroti pentingnya kemudahan akses aplikasi agar dapat digunakan langsung oleh remaja secara mandiri.

Selain itu, integrasi data dengan sistem layanan kesehatan di puskesmas dinilai penting agar informasi yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pengambilan kebijakan.

Aspek edukasi menjadi perhatian lain, terutama terkait perlunya pelatihan operator serta sosialisasi berkelanjutan ke sekolah-sekolah.

“Tanpa pemahaman yang baik dari pengguna, teknologi ini tidak akan berjalan maksimal,” kata salah satu peserta FGD.

Secara historis, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional sempat berada di atas 30 persen pada 2018 sebelum menurun menjadi sekitar 21,6 persen pada 2022.

Pemerintah menargetkan penurunan angka tersebut hingga 14 persen, sejalan dengan komitmen global dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk menghapus segala bentuk malnutrisi pada 2030.

baca juga:

  1. Sekda Baubau La Ode Darussalam Buka Pra-OSN 2026, Dorong Lahirnya Generasi Kompetitif
  2. Pembukaan MTQ XIV Baubau Meriah, Jadi Ajang Syiar dan Prestasi Qurani

Di tingkat global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 148 juta anak di bawah lima tahun mengalami stunting pada 2022, menjadikan persoalan ini sebagai isu kesehatan lintas negara yang membutuhkan pendekatan inovatif.

Karena itu, pemanfaatan teknologi digital seperti REMILA dinilai sejalan dengan tren global dalam memperkuat sistem kesehatan berbasis data.

Djainudin Ishak menyatakan, hasil penelitian REMILA nantinya diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Baubau, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain di Sulawesi Tenggara.

“Kami melihat ini sebagai model inovasi yang bisa dikembangkan lebih luas dalam mendukung program percepatan penurunan stunting,” ujarnya.

Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan, Baubau berupaya membangun fondasi kesehatan generasi muda melalui pendekatan yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. (*)

Visited 15 times, 15 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *