Ribuan Warga Kendari Padati Pawai Budaya HUT ke-62 Sultra, Gubernur Sultra ASR Saksikan Semarak Pawai Budaya di Kawasan MTQ
SULTRA, DURASITIMES.COM – Ribuan masyarakat larut dalam tarian lulo massal yang menjadi penutup rangkaian Pawai Budaya Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara di kawasan MTQ Kendari, Jumat (24/4/2026). Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan penuh nuansa kebersamaan. “Ribuan Warga Kendari Padati Pawai Budaya HUT ke-62 Sultra, Gubernur Sultra ASR Saksikan Semarak Pawai Budaya di Kawasan MTQ,”

Lulo massal yang melibatkan peserta pawai dan masyarakat umum menjadi simbol persatuan lintas budaya di Sulawesi Tenggara. Tradisi ini sejak lama dikenal sebagai tarian pergaulan khas masyarakat Tolaki yang mencerminkan nilai kebersamaan dan kesetaraan.
Sebelumnya, pawai budaya digelar dengan menampilkan beragam kekayaan tradisi dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. Iring-iringan peserta memulai perjalanan dari UPTD Museum dan Taman Budaya Sultra menuju venue utama MTQ Kendari.
Sepanjang rute, masyarakat tampak antusias menyaksikan penampilan peserta yang mengenakan pakaian adat serta menampilkan seni pertunjukan khas daerah. Suasana semakin semarak dengan kehadiran berbagai kelompok seni dan organisasi.
Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka hadir langsung menyaksikan kegiatan tersebut bersama Ketua DPRD Sultra, unsur Forkopimda, Ketua TP PKK, serta para kepala daerah se-Sulawesi Tenggara.
Dari tribun utama, gubernur memberikan apresiasi atas partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam memeriahkan peringatan hari jadi provinsi tersebut.
“Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk memperkuat identitas budaya dan persatuan masyarakat Sulawesi Tenggara,” ujar Andi Sumangerukka.
Pawai budaya secara resmi dilepas oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, Muhammad Fadlansyah. Ia menegaskan pentingnya pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
“Pawai budaya dalam rangka HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara secara resmi saya nyatakan dilepas,” kata Fadlansyah.
Peserta pawai berasal dari berbagai unsur, mulai dari Paskibraka, Polri, komunitas Tamalaki, hingga organisasi seperti PKK, Dekranasda, BKMT, dan pelaku UMK. Selain itu, turut tampil marching band dari SMA Negeri 4 Kendari dan SMAN 13 Konawe Selatan.
Keterlibatan seluruh pemerintah kabupaten dan kota menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya daerah sebagai bagian dari pembangunan identitas daerah.
Secara historis, Provinsi Sulawesi Tenggara resmi terbentuk pada tahun 1964 sebagai hasil pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sejak saat itu, perayaan hari ulang tahun provinsi menjadi momentum penting untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman etnis, seperti Tolaki, Buton, Muna, dan Wakatobi.
Dalam konteks nasional, pawai budaya dan festival daerah telah lama menjadi bagian dari strategi pelestarian budaya, sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam menjaga keberagaman yang juga diakui dunia melalui konsep “Bhinneka Tunggal Ika”.
baca juga:
- TP-PKK Buton Tengah Tampilkan Olahan Non-Beras Buton Tengah Bersinar di Ajang Kuliner
- Sinergi Daerah dan KKP, HMNI Sultra Targetkan Seluruh Wilayah Terlibat Program KNMP Termasuk…
Sementara itu, secara global, kegiatan serupa juga dilakukan di berbagai negara sebagai bentuk diplomasi budaya, seperti festival budaya di Asia dan Eropa yang memperkuat identitas sekaligus menarik sektor pariwisata.
Ketua TP PKK Sultra dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci suksesnya kegiatan.
“Partisipasi masyarakat sangat luar biasa, ini menunjukkan kecintaan terhadap budaya lokal masih sangat kuat,” ujarnya.
Dengan mengusung tema “Produktif untuk Sultra Sejahtera”, peringatan HUT ke-62 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga mendorong pembangunan berbasis budaya.
Kegiatan pawai budaya dan lulo massal ini pun menjadi bukti bahwa kekayaan tradisi lokal tetap relevan di tengah perkembangan zaman, sekaligus memperkuat jati diri daerah di kancah nasional maupun internasional.(*)
baca berita lainnya:
Cooking Competition Syariah Warnai HUT Sultra, Bupati Buton Selatan H Muh Adios Dukung UMKM di Festival HUT ke-62 Sultra di Bokori
SULTRA, Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara berlangsung semarak melalui berbagai kegiatan yang dipusatkan di Pulau Bokori, Sabtu (25/4/2026). Festival kuliner berbasis syariah menjadi salah satu agenda utama yang menarik perhatian masyarakat dan pelaku usaha. “Cooking Competition Syariah Warnai HUT Sultra, BGupati Buton Selatan H Muh Adios Dukung UMKM di Festival HUT ke-62 Sultra di Bokori,”

Festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Harmoni Sultra 2026 yang bertujuan memperkuat sektor ekonomi kreatif, khususnya UMKM berbasis kuliner halal, sekaligus mendorong digitalisasi sistem pembayaran di wilayah timur Indonesia.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, secara resmi membuka kegiatan Halal Cooking Competition yang merupakan bagian dari Festival Syariah Kawasan Timur Indonesia 2026.
“Kegiatan ini bukan hanya ajang lomba, tetapi menjadi sarana edukasi dan penguatan ekonomi syariah yang berkelanjutan,” ujar Gubernur dalam sambutannya.
Kompetisi memasak tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari Tim Penggerak PKK se-Sultra, pelajar, hingga profesional kuliner. Kegiatan ini digagas oleh Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi syariah.
Kehadiran chef nasional, Juna Rorimpandey, sebagai juri utama turut menambah daya tarik acara. Ia menilai peserta berdasarkan aspek cita rasa, kreativitas, serta teknik penyajian.
“Saya melihat potensi kuliner lokal Sultra sangat besar untuk dikembangkan ke tingkat nasional bahkan internasional,” kata Chef Juna saat memberikan penilaian.
Selain menjadi juri, Chef Juna juga menampilkan demonstrasi memasak yang disambut antusias oleh pengunjung yang memadati kawasan wisata tersebut.
Bupati Buton Selatan, H. Muhammad Adios, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan UMKM dan sektor pariwisata.
“Kegiatan ini sangat positif karena membuka ruang promosi bagi produk lokal dan memperkuat sektor ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Buton Selatan siap bersinergi dengan pemerintah provinsi untuk meningkatkan daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Momentum festival ini juga dimanfaatkan untuk memperluas jejaring antar pelaku usaha serta memperkenalkan potensi wisata daerah kepada masyarakat luas.
Dalam rangkaian kegiatan, Gubernur bersama jajaran pejabat dan TP PKK Provinsi Sultra melakukan penanaman pohon bintaro di kawasan Pulau Bokori sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan.
Selain itu, pelepasan perahu nelayan yang mengelilingi Pulau Bokori menjadi simbol kemeriahan perayaan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara yang melibatkan masyarakat pesisir.
Atraksi flying board turut memeriahkan suasana dan menjadi daya tarik wisata bahari yang memperkuat citra Pulau Bokori sebagai destinasi unggulan di Sulawesi Tenggara.
baca juga:
- Bupati H Muh Adios Pimpin Kontingen Buton Selatan Semarakkan HUT Sultra ke 62 dengan Nuansa Budaya Khas Sekaligus Jadi Ajang Promosi
- Hadiri HUT ke-62 Sultra, Sekda Buton Selatan La Ode Harwanto Tegaskan Komitmen Sinergi
Secara historis, pengembangan ekonomi berbasis syariah di Indonesia mulai mendapat perhatian serius sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada 1991, yang menjadi tonggak awal pertumbuhan industri keuangan syariah nasional.
Di tingkat global, industri halal terus berkembang pesat dengan nilai ekonomi mencapai triliunan dolar, mencakup sektor makanan, pariwisata, hingga keuangan, yang menjadikan festival seperti ini relevan dalam konteks persaingan internasional.
Sementara itu, Pulau Bokori sendiri telah lama dikenal sebagai destinasi wisata unggulan di Sulawesi Tenggara setelah direvitalisasi pemerintah daerah pada dekade 2010-an untuk mendukung sektor pariwisata bahari.
Dengan berbagai rangkaian kegiatan tersebut, perayaan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum strategis dalam memperkuat ekonomi daerah berbasis potensi lokal dan kearifan budaya.(*)


