KOTA BAUBAUPARIWISATASULTRA

Pesan Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah di Kande-Kandea Tampuna, Pembangunan Harus Menjangkau Semua Wilayah Hingga Dipinngiran

BAUBAU, DURASITIMRS.COM – Wakil Wali Kota Baubau, Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc, menegaskan komitmen pemerataan pembangunan hingga ke wilayah pinggiran saat menghadiri pesta adat Kande-Kandea di Baruga Tampuna, Senin malam (6/4/2026). “Pesan Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah di Kande-Kandea Tampuna, Pembangunan Harus Menjangkau Semua Wilayah Hingga Dipinngiran,”

Pesan Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah di Kande-Kandea Tampuna, Pembangunan Harus Menjangkau Semua Wilayah Hingga Dipinngiran
Pesan Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah di Kande-Kandea Tampuna, Pembangunan Harus Menjangkau Semua Wilayah Hingga Dipinngiran

Penegasan tersebut disampaikan di hadapan masyarakat Kelurahan Tampuna yang menyambut kehadiran pemerintah daerah dalam suasana penuh kekeluargaan. Momentum budaya ini dimanfaatkan sebagai ruang dialog antara pemerintah dan warga terkait arah pembangunan daerah.

Dalam sambutannya, Wawali menekankan bahwa Kota Baubau yang terdiri dari 43 kelurahan harus dibangun secara adil tanpa memandang letak geografis.

“Kami tidak akan melupakan wilayah yang berada di ujung kota. Pembangunan harus merata dan dirasakan seluruh masyarakat,” ujar Wa Ode Hamsinah Bolu.

Ia menjelaskan, pemerintah kota saat ini tengah memprioritaskan sejumlah sektor dasar, di antaranya penerangan jalan untuk meningkatkan keamanan lingkungan, pembangunan irigasi guna mendukung pertanian, serta perbaikan akses jalan bagi wilayah pinggiran.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka menengah pemerintah dalam mengurangi kesenjangan antarwilayah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Dalam konteks ketahanan pangan, Tampuna dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu basis produksi pertanian di Kota Baubau. Hal ini menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan bahan pangan lokal.

“Kita belajar dari pengalaman, ketika pasokan bergantung dari luar daerah, harga bisa melonjak. Kita ingin produksi lokal diperkuat,” katanya.

Ia mencontohkan lonjakan harga telur yang sempat mencapai Rp100.000 per rak menjelang Idulfitri akibat keterbatasan pasokan dari luar daerah.

1 1

Fenomena tersebut, menurutnya, bukan hanya terjadi di Baubau, tetapi juga mencerminkan tantangan nasional dalam menjaga stabilitas harga pangan. Secara historis, Indonesia beberapa kali mengalami gejolak harga pangan, termasuk saat krisis ekonomi 1998 dan gangguan distribusi global pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020–2022.

Di tingkat global, ketahanan pangan juga menjadi isu strategis. Organisasi Pangan Dunia (FAO) mencatat bahwa krisis pangan dunia kerap dipicu oleh konflik, perubahan iklim, serta gangguan rantai pasok internasional.

Karena itu, Wawali menilai penguatan produksi lokal menjadi langkah penting untuk menciptakan kemandirian daerah sekaligus menjaga stabilitas harga.

Selain isu pembangunan, Wawali juga mengapresiasi pelaksanaan tradisi Kande-Kandea yang dinilai sarat nilai kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.

“Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk syukur atas panen, kesehatan, dan keamanan yang kita rasakan bersama,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Tampuna kali ini merupakan yang kedua, sekaligus menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menjaga kedekatan dengan masyarakat.

Sejumlah capaian pembangunan juga mulai dirasakan warga, salah satunya kehadiran infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) yang meningkatkan akses komunikasi di wilayah tersebut.

Meski demikian, ia mengakui masih ada harapan masyarakat yang belum sepenuhnya terpenuhi. Pemerintah, kata dia, terus berupaya merealisasikan program pembangunan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran.

“Kami memahami masih ada kekurangan. Namun, semua sedang berproses dan akan terus kami perjuangkan,” tuturnya.

baca juga:

  1. Bus Wisata Gratis, Dishub Baubau Dongkrak Kunjungan Libur Idulfitri 2026 ke Pantai Nirwana dan Batu Sori Yang Jadi Favorit Warga dan Wisatawan
  2. Malona Kadiri Jadi Simbol Spiritualitas Masyarakat Buton di Akhir Ramadan

Pesta adat Kande-Kandea sendiri merupakan tradisi masyarakat Buton yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan keberkahan hidup. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga sekaligus menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang kuat secara sosial dan ekonomi.

Sinergi antara budaya dan pembangunan, menurut Wawali, menjadi kunci dalam menciptakan kemajuan daerah yang berkelanjutan.(*)

baca berita lainnya:

Pemkot Baubau Dorong Kasambu-sambu Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

BAUBAU, DURASITIMES.COM- – Pemerintah Kota Baubau mengapresiasi pelaksanaan tradisi Kasambu-sambu yang digelar masyarakat Kelurahan Kolese, Kecamatan Lea-Lea, sebagai upaya menjaga warisan budaya leluhur di tengah arus modernisasi yang kian kuat. “Pemkot Baubau Dorong Kasambu-sambu Jadi Daya Tarik Wisata Budaya,”

Pemkot Baubau Dorong Kasambu-sambu Jadi Daya Tarik Wisata Budaya
Pemkot Baubau Dorong Kasambu-sambu Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Kegiatan adat yang sarat nilai spiritual dan sosial tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darus Salam, yang mewakili Wali Kota Baubau. Kehadiran pemerintah menjadi simbol dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Sekda menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai penjaga keberlangsungan budaya. Ia mengingatkan bahwa identitas suatu daerah tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kekuatan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Jangan biarkan identitas kita luntur. Kenali tradisimu, banggalah dengan bahasamu, dan lestarikan adatmu,” ujar La Ode Darus Salam di hadapan warga.

Tradisi Kasambu-sambu sendiri merupakan ritual makan bersama yang mengandung makna filosofis mendalam. Dalam praktiknya, seluruh masyarakat duduk bersama tanpa memandang status sosial, mencerminkan nilai kesetaraan dalam adat Pobinci-binci Kuli.

Menurut Sekda, nilai-nilai seperti Pooma-maasiaka (saling menyayangi), Pangkat ngkataka (saling menghormati), dan Pomae-maeaka (saling menjaga martabat) menjadi fondasi utama dalam kehidupan sosial masyarakat Buton.

“Kasambu-sambu bukan sekadar makan bersama, tetapi simbol penguatan karakter dan persatuan masyarakat,” katanya.

Dari sisi pengembangan daerah, pemerintah melihat tradisi ini memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Kelurahan Kolese dinilai dapat menjadi salah satu destinasi unggulan jika dikelola secara profesional tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

“Jika dikemas dengan baik, tradisi ini bisa menarik wisatawan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Secara historis, tradisi makan bersama sebagai simbol persatuan bukan hanya ditemukan di Buton. Di berbagai daerah di Indonesia, seperti tradisi “megibung” di Bali atau “kenduri” di Sumatra, praktik serupa telah lama menjadi bagian dari budaya kolektif masyarakat Nusantara.

Bahkan secara internasional, konsep communal dining atau makan bersama juga dikenal luas dalam berbagai peradaban, seperti dalam budaya Timur Tengah dan Afrika, yang menjadikan aktivitas tersebut sebagai simbol persaudaraan dan solidaritas sosial.

Di Indonesia sendiri, pengakuan terhadap pentingnya budaya lokal semakin menguat sejak ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mendorong pelestarian tradisi sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Sejalan dengan itu, Pemerintah Kota Baubau menilai pelestarian Kasambu-sambu tidak hanya penting secara kultural, tetapi juga strategis dalam memperkuat identitas daerah di tingkat nasional maupun global.

baca juga:

  1. Pergantian Katuko Masjid Agung Keraton Buton Berlangsung Sakral, Wali Kota Baubau HYF Serahkan Secara Adat
  2. Wawali Baubau Lepas Enam Bus Wisata Gratis, Wa Ode Hamsinah Bolu: Pak Kadis Perhubungan

Pelaksanaan tradisi ini juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk memahami akar budaya mereka. Keterlibatan pemuda dalam setiap prosesi dinilai sebagai langkah konkret dalam menjaga kesinambungan tradisi.

Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan doa bersama, sebagai bentuk harapan akan keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Baubau ke depan.

Dengan tetap terjaganya tradisi Kasambu-sambu, masyarakat Kolese menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu berarti meninggalkan budaya, melainkan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai luhur.(*)

Visited 36 times, 7 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *