Ketua TP PKK Buton Selatan Ny Sitti Norma Adios Gencarkan Aksi Cegah dan Lawan Stunting di Batuatas Melalui Kesadaran Gizi
BUTON SELATAN, – Upaya percepatan penurunan stunting kembali digencarkan di wilayah kepulauan. Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Buton Selatan Ny Sitti Norma Adios memimpin langsung kegiatan Gerakan Pencegahan Stunting di Kecamatan Batuatas, Jumat (27/3/2026), sebagai bagian dari penguatan pembangunan sumber daya manusia sejak dini. “Ketua TP PKK Buton Selatan Ny Sitti Norma Adios Gencarkan Aksi Cegah dan Lawan Stunting di Batuatas Melalui Kesadaran Gizi,”

Kegiatan ini menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi gizi, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan peran keluarga dalam mencegah stunting. Program tersebut juga selaras dengan agenda pembangunan nasional dalam Nawa Cita yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama.
Dalam pelaksanaannya, gerakan ini melibatkan kader PKK, tenaga kesehatan, serta masyarakat Batuatas. Sasaran utama kegiatan adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga yang memiliki anak usia di bawah dua tahun atau periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga. Edukasi tentang gizi seimbang dan pola asuh menjadi kunci agar anak tumbuh sehat dan optimal,” ujar Sitti Norma Adios dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, melainkan berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan belajar. Kondisi ini, menurutnya, dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Secara historis, isu stunting telah menjadi perhatian global. Organisasi World Health Organization mencatat bahwa stunting merupakan salah satu indikator utama kekurangan gizi kronis pada anak. Secara global, jutaan anak di berbagai negara berkembang masih mengalami kondisi ini akibat keterbatasan akses pangan bergizi dan layanan kesehatan.
Di Indonesia, perhatian terhadap stunting mulai diperkuat sejak satu dekade terakhir. Pemerintah melalui berbagai kebijakan nasional, termasuk strategi percepatan penurunan stunting sejak 2018, terus menargetkan penurunan prevalensi secara signifikan di berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan seperti di Kecamatan Batuatas, Kabupaten Buton Selatan. Berdasarkan Data E PPGM Buton Selatan, angka prevalensi stanting di Kecamatan Batuatas pada tahun 2025 sebesar 24,5 %.
“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak di Batuatas mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan kuat, meskipun berada di wilayah kepulauan,” tambahnya.
Program yang dilaksanakan di Batuatas mencakup pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pemberian suplemen gizi, imunisasi anak, serta pemantauan tumbuh kembang melalui Posyandu. Selain itu, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang pentingnya sanitasi dan kebersihan lingkungan.
Gerakan ini juga mendorong perubahan perilaku hidup sehat, seperti kebiasaan mencuci tangan, penggunaan air bersih, serta konsumsi makanan bergizi seimbang. Hal tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya kekurangan gizi kronis pada anak.
“Perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan anak. Ini yang terus kami dorong kepada masyarakat,” ujarnya.
baca juga:
- BPOM Baubau Awasi Ketat Peredaran Pangan Selama Ramadan hingga Lebaran 1447 H, Temukan 10 Persen Produk Tak Layak
- Tanpa Posko Mudik, Layanan BPJS Kesehatan Baubau Tetap Buka Saat Lebaran
Upaya ini diharapkan mampu menurunkan angka prevalensi stunting di Kabupaten Buton Selatan secara bertahap. Pemerintah daerah bersama PKK berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program hingga ke wilayah terpencil.
“Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dalam pertumbuhan hanya karena kurangnya pengetahuan atau akses layanan kesehatan,” tegasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah, kader PKK, dan masyarakat, gerakan ini diyakini dapat memberikan dampak nyata dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Hal ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi emas Indonesia khususnya di Buton Selatan pada masa mendatang.(*)
baca berita lainnya:
Gubernur Sultra ASR Tinjau RSUD Baubau, Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Untuk Wilayah Kepton
BAUBAU, DURASITIMES.COM— Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau pada Jumat (6/3/2026) pagi. Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan sekaligus mendorong penguatan peran rumah sakit sebagai rujukan utama bagi wilayah kepulauan. “Gubernur Sultra ASR Tinjau RSUD Baubau, Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Untuk Wilayah Kepton,”

Kunjungan itu juga menjadi bagian dari langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam mempersiapkan infrastruktur pelayanan dasar jika rencana pembentukan Provinsi Kepulauan Buton (Kepton) sebagai daerah otonomi baru terealisasi.
Dalam agenda tersebut, gubernur meninjau sejumlah fasilitas layanan kesehatan di RSUD Baubau, antara lain ruang tindakan medis, ruang Intensive Care Unit (ICU), serta poli paru. Ia juga berdialog dengan tenaga medis dan menyapa pasien yang sedang menjalani perawatan.
“Kami ingin memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik. Rumah sakit ini memiliki peran penting bagi masyarakat kepulauan sehingga fasilitasnya harus terus diperkuat,” ujar Andi Sumangerukka saat berdialog dengan tenaga medis di rumah sakit tersebut.
RSUD Kota Baubau selama ini menjadi rumah sakit rujukan bagi berbagai puskesmas di wilayah kepulauan sekitar. Posisi strategis tersebut membuat peningkatan kapasitas pelayanan rumah sakit dinilai penting agar masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang cepat dan memadai.
Menurut gubernur, peningkatan status RSUD Baubau dari tipe C menjadi tipe B menjadi salah satu langkah yang tengah didorong oleh pemerintah provinsi. Proses tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan agar persyaratan peningkatan status rumah sakit dapat dipenuhi, baik dari sisi fasilitas maupun sumber daya manusia,” katanya.
Selain itu, pemerintah provinsi juga membuka peluang pemanfaatan lahan milik Pemprov Sultra untuk mendukung pengembangan RSUD Baubau di masa mendatang.
“Jika diperlukan, lahan milik pemerintah provinsi bisa dimanfaatkan untuk pengembangan rumah sakit agar kapasitas pelayanan semakin besar,” ujar Andi Sumangerukka.
Penguatan fasilitas kesehatan tersebut dinilai penting karena Baubau berada pada posisi strategis sebagai pusat pelayanan bagi wilayah kepulauan di Sulawesi Tenggara, khususnya kawasan Buton dan sekitarnya.
Dalam konteks rencana pemekaran wilayah, pemerintah menilai bahwa kesiapan infrastruktur pelayanan dasar seperti rumah sakit rujukan menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan daerah otonomi baru.
Sejarah menunjukkan bahwa penguatan layanan kesehatan sering menjadi indikator kesiapan daerah dalam menjalankan fungsi pemerintahan baru. Di Indonesia, misalnya, pengembangan rumah sakit rujukan menjadi bagian dari persiapan pembentukan sejumlah provinsi baru setelah era otonomi daerah yang dimulai pada awal 2000-an.
Secara nasional, peningkatan klasifikasi rumah sakit juga menjadi bagian dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat sistem rujukan kesehatan. Kebijakan ini semakin diperkuat setelah pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2014 yang menuntut ketersediaan fasilitas kesehatan yang lebih merata.
baca juga:
- Libur Lebaran, BPJS Baubau Jamin Layanan UGD Faskes Tetap Siaga 24 Jam
- Kabid Kesmas Buton Selatan Wa Ode Mahazura Tinjau Faskes Batuatas, Medan Ekstrem Menuju…
Di tingkat global, penguatan rumah sakit regional juga menjadi strategi yang diterapkan banyak negara kepulauan untuk memastikan akses kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil.
Karena itu, menurut Andi Sumangerukka, pengembangan RSUD Baubau tidak hanya penting bagi pelayanan kesehatan saat ini, tetapi juga sebagai bagian dari kesiapan wilayah menghadapi perkembangan tata kelola pemerintahan di masa depan.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat di wilayah kepulauan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, mudah diakses, dan berkualitas,” kata dia.
Dengan dukungan peningkatan fasilitas, kapasitas tenaga medis, serta kemungkinan perluasan area layanan, RSUD Baubau diharapkan dapat menjadi pusat rujukan kesehatan yang mampu melayani masyarakat secara optimal di kawasan kepulauan Sulawesi Tenggara.(*)


