INTERNASIONAL

Jepang Pertimbangkan Sapu Ranjau Hormuz Demi Stabilitas Energi Global

DURASITIMES.COM — Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meluas setelah serangan rudal Iran menghantam wilayah selatan Israel, menyebabkan puluhan korban luka dan kerusakan bangunan, sekaligus menandai fase baru yang dinilai lebih berbahaya dalam perang kawasan. “Jepang Pertimbangkan Sapu Ranjau Hormuz Demi Stabilitas Energi Global,”

Jepang Pertimbangkan Sapu Ranjau Hormuz Demi Stabilitas Energi Global
Jepang Pertimbangkan Sapu Ranjau Hormuz Demi Stabilitas Energi Global

Militer Israel melaporkan bahwa sejumlah rudal berhasil menembus sistem pertahanan udara dan menghantam wilayah Dimona dan Arad, yang berada tidak jauh dari fasilitas strategis di gurun Negev.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut situasi tersebut sebagai kondisi yang sangat berat. “Ini adalah malam yang sangat sulit,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran. Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

“AS akan menghancurkan berbagai fasilitas energi Iran jika jalur tersebut tidak dibuka,” kata Trump dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media sosialnya.

Ancaman tersebut segera dibalas oleh komando militer Iran, yang memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi mereka akan dibalas dengan penargetan fasilitas energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS di kawasan.

Ketegangan ini berdampak langsung pada jalur pelayaran global, khususnya di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi selat sempit tersebut.

Dalam konteks ini, Jepang mulai mempertimbangkan langkah strategis. Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, menyatakan bahwa negaranya membuka kemungkinan melakukan penyapuan ranjau laut jika situasi memungkinkan.

“Jika terjadi gencatan senjata total, maka hal-hal seperti penyapuan ranjau dapat dipertimbangkan,” ujar Motegi.

Ia menegaskan bahwa langkah tersebut masih bersifat hipotetis dan hanya akan dilakukan jika ranjau laut benar-benar menjadi penghambat utama pelayaran internasional.

Pemerintah Jepang juga menegaskan belum memiliki rencana langsung untuk mengerahkan kapal militer guna mengawal kapal-kapalnya di kawasan tersebut.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyatakan bahwa setiap keputusan harus mengacu pada konstitusi pasifis Jepang serta undang-undang keamanan yang direvisi pada 2015.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Jepang terkait kemungkinan memberikan akses terbatas bagi kapal-kapal Jepang untuk melintasi selat tersebut.

Jepang sendiri sangat bergantung pada jalur ini, dengan sekitar 90 persen impor minyaknya berasal dari kawasan yang melewati Selat Hormuz.

Lonjakan harga minyak global akibat konflik ini memaksa Jepang dan sejumlah negara lain untuk mengeluarkan cadangan energi strategis guna menjaga stabilitas pasokan domestik.

Secara historis, Selat Hormuz telah lama menjadi titik rawan konflik. Pada era 1980-an, kawasan ini menjadi pusat ketegangan dalam “Perang Tanker” selama konflik Iran-Irak, di mana kapal-kapal minyak menjadi target serangan.

Selain itu, ketegangan serupa juga terjadi pada 2019 ketika Iran menyita sejumlah kapal tanker asing, memicu kekhawatiran global terhadap keamanan jalur energi.

Bagi Jepang, keterlibatan militer di luar negeri merupakan isu sensitif sejak berakhirnya Perang Dunia II, yang melahirkan konstitusi pasifis dan membatasi penggunaan kekuatan militer.

Namun, perubahan kebijakan keamanan pada 2015 memberikan ruang bagi Jepang untuk berperan lebih aktif dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama jika kepentingan nasionalnya terancam.

baca juga:

  1. Kepala Bapas Baubau Nasirudin Paparkan Reformasi Hukum, Promosikan Sanksi Alternatif di Panggung Konferensi Internasional ARCC 2026 Thailand
  2. DPRD Baubau Terima Kunjungan Legislatif dan Mahasiswa Korea Selatan, Zahari Minta Negeri

 

Situasi terkini menunjukkan bahwa konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga mengancam stabilitas energi global.

Jika gencatan senjata tercapai, keterlibatan Jepang dalam operasi penyapuan ranjau dapat menjadi bagian dari upaya internasional untuk memulihkan keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.(*)

baca berita lainnya:

Bapas Baubau Go International, Butonik jadi Souvenir pada ASEAN Regional Correctional Conference di Thailand Menarik Perhatian Delegasi ARCC 2026

BAUBAU, DT — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Baubau memperkenalkan produk lokal hasil karya klien pemasyarakatan dalam ajang 3rd ASEAN Regional Correctional Conference (ARCC) 2026 yang berlangsung di Bangsaen, Thailand. Produk tersebut dibawa sebagai souvenir bagi para delegasi dari negara-negara anggota ASEAN serta mitra internasional yang menghadiri forum pemasyarakatan tingkat regional tersebut. “Bapas Baubau Go International, Butonik jadi Souvenir pada ASEAN Regional Correctional Conference di Thailand Menarik Perhatian Delegasi ARCC 2026,”

Bapas Baubau Go International, Butonik jadi Souvenir pada ASEAN Regional Correctional Conference di Thailand Menarik Perhatian Delegasi ARCC 2026
Bapas Baubau Go International, Butonik jadi Souvenir pada ASEAN Regional Correctional Conference di Thailand Menarik Perhatian Delegasi ARCC 2026

Kepala Bapas Baubau Nasirudin mengatakan bahwa produk yang diperkenalkan berasal dari program pembimbingan kemandirian klien pemasyarakatan yang selama ini dijalankan oleh Bapas Baubau. Produk tersebut dipasarkan melalui brand Butonik yang menjadi identitas karya kreatif dari para klien pemasyarakatan.

“Produk yang kami bawa bukan sekadar souvenir, tetapi merupakan hasil pembimbingan yang menunjukkan bahwa klien pemasyarakatan mampu berkarya dan mandiri,” kata Nasirudin dalam keterangan yang disampaikan di sela kegiatan konferensi tersebut.

Dalam forum internasional tersebut, Bapas Baubau memperkenalkan sejumlah produk unggulan daerah. Di antaranya kampuruy dan selendang yang merupakan tenunan khas Buton, kopi lokal Sulawesi Tenggara, kacang mete, serta gantungan kunci hasil kerajinan tangan klien pemasyarakatan.

Produk-produk tersebut dipilih karena dinilai mewakili potensi budaya dan sumber daya alam daerah sekaligus mencerminkan keterampilan yang dikembangkan dalam program pembinaan kemandirian di Bapas Baubau.

Menurut Nasirudin, partisipasi dalam konferensi tersebut tidak hanya menjadi ajang pertukaran pengetahuan mengenai sistem pemasyarakatan di kawasan ASEAN, tetapi juga peluang untuk memperkenalkan karya klien kepada komunitas internasional.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan karya klien pemasyarakatan kepada dunia serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, produk yang diperkenalkan mendapat perhatian dari para delegasi yang berasal dari berbagai negara, seperti Thailand, Hong Kong, hingga Inggris. Para peserta konferensi menunjukkan ketertarikan terhadap nilai budaya serta cerita pembinaan yang melatarbelakangi produk-produk tersebut.

“Banyak delegasi yang mengapresiasi karena produk ini bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menggambarkan proses pembinaan sosial yang positif,” kata Nasirudin.

1 8

Secara historis, program pembinaan kemandirian bagi warga binaan dan klien pemasyarakatan telah menjadi bagian penting dari sistem pemasyarakatan di Indonesia sejak diberlakukannya konsep Sistem Pemasyarakatan pada 1964 yang digagas oleh Menteri Kehakiman Sahardjo. Konsep tersebut menekankan pendekatan pembinaan, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial bagi warga binaan agar mampu kembali ke masyarakat secara produktif.

Di tingkat internasional, upaya pembinaan serupa juga menjadi perhatian global, salah satunya melalui standar United Nations Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners (Nelson Mandela Rules) yang mendorong negara-negara untuk menyediakan program pelatihan kerja dan pendidikan bagi narapidana serta klien pemasyarakatan.

Sementara itu, ASEAN juga secara berkala menggelar forum kerja sama pemasyarakatan melalui ASEAN Regional Correctional Conference untuk memperkuat kolaborasi, berbagi praktik terbaik, serta meningkatkan standar pembinaan di negara-negara kawasan.

Dalam konteks tersebut, keikutsertaan Bapas Baubau dalam ARCC 2026 dinilai menjadi langkah strategis untuk menunjukkan bahwa program pembimbingan klien pemasyarakatan di daerah mampu menghasilkan karya yang bernilai ekonomi sekaligus sosial.

Melalui kegiatan ini, Bapas Baubau berharap karya klien pemasyarakatan dapat semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.

baca juga:

  1. Kepala Bapas Baubau Nasirudin Bergabung Delegasi RI di Konferensi ASEAN Thailand, Indonesia Soroti Keamanan dan Reformasi Lapas
  2. Indonesia Dorong Reformasi Pemasyarakatan ASEAN dalam ARCC 2026 Thailand

“Dengan pembimbingan yang tepat, mereka dapat kembali ke masyarakat sebagai individu yang produktif dan memberikan kontribusi positif,” ujar Nasirudin.

Momentum konferensi ini juga diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperluas jaringan promosi produk lokal sekaligus memperkuat citra positif program pemasyarakatan Indonesia di mata dunia.(*)

Visited 15 times, 3 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *