Israel-AS Disebut Sasar Khamenei dan Presiden Pezeshkian dalam Serangan ke Iran
DURASITIMES.COM – Serangan gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) disebut menargetkan dua pemimpin tertinggi negara itu, yakni Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian. Informasi tersebut muncul dari laporan lembaga penyiaran publik Israel, Kan, yang mengutip sumber internal keamanan. “Israel-AS Disebut Sasar Khamenei dan Presiden Pezeshkian dalam Serangan ke Iran,”

Serangan dilakukan ketika ketegangan kedua negara kembali meningkat beberapa bulan terakhir, mengikuti rangkaian insiden serangan lintas batas, operasi rahasia, dan jatuhnya beberapa tokoh penting di Iran. Pemerintah Iran menyebut aksi militer ini sebagai bentuk agresi yang melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara.
Sumber pemerintah yang mengetahui operasi militer itu mengatakan kepada Reuters bahwa Khamenei telah dipindahkan dari Teheran ke lokasi aman sebelum rudal-rudal ditembakkan ke sejumlah titik strategis. Namun, lokasi persis keberadaannya tidak diungkapkan secara resmi.
Di saat bersamaan, media pemerintah Iran memastikan bahwa Presiden Pezeshkian berada dalam kondisi baik. IRNA melaporkan bahwa sang Presiden “aman dan sehat” setelah serangan dini hari tersebut. Laporan serupa muncul dari kantor berita Mehr dan ISNA.
Kementerian Luar Negeri Iran memberi respons keras dengan menyebut serangan AS-Israel sebagai upaya yang “mengancam perdamaian global”. Dalam pernyataannya, Iran menegaskan haknya untuk merespons berdasarkan Pasal 51 Piagam United Nations. “Agresi militer ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” tulis pernyataan resmi itu.
Kementerian tersebut menegaskan bahwa rakyat Iran memiliki sejarah panjang menghadapi tekanan asing. “Sejarah menunjukkan bahwa rakyat Iran tidak pernah tunduk pada agresi,” demikian bunyi salah satu kutipan dalam pernyataan tersebut.
Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman dari Iran. “Waktunya telah tiba bagi rakyat Iran untuk melepaskan belenggu tirani,” ujar Netanyahu dalam sebuah video yang dirilis pada Sabtu.
Pernyataan tegas juga datang dari Presiden AS Donald Trump, yang menyebut operasi militer ini sebagai bagian dari upaya melindungi warga Amerika. “Tujuan kami adalah menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran,” katanya dalam pesan video yang dibagikan melalui media sosial.
Serangan yang berlangsung selama beberapa jam itu menyebabkan Iran dan Israel menutup wilayah udara masing-masing. Negara tetangga seperti Irak dan Kuwait juga menghentikan akses udara untuk sementara. Maskapai internasional, termasuk Flydubai, melaporkan pembatalan sejumlah penerbangan akibat penutupan tersebut.
Beberapa pejabat Iran menyebut sejumlah komandan senior Islamic Revolutionary Guard Corps turut menjadi korban dalam serangan tersebut, meski kabar ini belum dikonfirmasi secara independen. Media Iran menuduh serangan itu menyasar tidak hanya fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil di beberapa kota.
Ketegangan Iran-Israel sendiri memiliki sejarah panjang. Sejak Revolusi Iran 1979, hubungan kedua negara memburuk drastis dan berlanjut pada konflik tidak langsung di Lebanon, Suriah, Irak, hingga kawasan Teluk. Sementara itu, keterlibatan AS dalam ketegangan ini telah berlangsung sejak krisis sandera Teheran 1979 dan semakin meningkat ketika Washington menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir.
Pada tataran nasional, Iran pernah menghadapi serangan langsung sebelumnya, termasuk pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pada 2020, yang dituding dilakukan oleh Israel. Peristiwa-peristiwa ini membentuk latar belakang historis yang memperkuat persepsi ancaman di mata pemerintah Iran.
baca juga:
- Rudal Iran Hantam Teluk; Pangkalan AS Diserang, Ruang Udara Ditutup
- Basarnas Terjunkan Tim SAR Baubau Cari Dua Warga Mawasangka Hilang Kontak di Laut …
Hingga Minggu pagi, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran mengenai kemungkinan respons militer lanjutan. Namun, beberapa analis menilai potensi eskalasi tetap tinggi. “Iran kemungkinan tidak akan membiarkan serangan ini berlalu tanpa pembalasan,” kata seorang analis Timur Tengah yang diwawancarai Reuters.
Sementara itu, masyarakat internasional menyerukan pengendalian diri dari kedua belah pihak. Beberapa negara memperingatkan bahwa konflik terbuka antara Iran dan Israel dapat memicu ketidakstabilan besar di kawasan dan mengganggu jalur energi global.(*)
baca berita lainnya:
Sirene Darurat Menggema di Israel, Konflik Regional Memasuki Fase Rawan
DURASITIMES.COM – Situasi keamanan di Israel memasuki fase rawan setelah sirene darurat kembali berbunyi di berbagai kota pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyusul eskalasi militer besar-besaran antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Peta peringatan yang dirilis oleh akun resmi Pasukan Pertahanan Israel, Israel Defense Forces (IDF), menunjukkan perluasan area ancaman hanya dalam hitungan jam. “Sirene Darurat Menggema di Israel, Konflik Regional Memasuki Fase Rawan,”

Pada saat yang hampir bersamaan, laporan internasional menyebut serangan udara gabungan Israel-AS menghantam sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk area penting di ibu kota Tehran. Ledakan terdengar hingga radius luas dan memicu kepanikan warga setempat.
“Sirene kembali berbunyi di seluruh Israel,” tulis IDF melalui platform X dalam pernyataan publik yang menandai peningkatan risiko ancaman langsung. Lembaga pertahanan negeri itu memerintahkan warga untuk segera mengakses ruang perlindungan.
Peta aktivitas ancaman menunjukkan simbol-simbol merah yang sebelumnya tersebar secara terpisah kini menumpuk di sebagian besar kawasan perkotaan. Hanya tiga jam sebelumnya, tanda bahaya tersebut masih terkonsentrasi di wilayah utara dan selatan Israel.
Serangan itu merupakan bagian dari operasi pendahuluan pre-emptive strike yang oleh pemerintah Israel disebut sebagai upaya menetralkan ancaman militer Iran, terutama terkait perkembangan program rudal dan nuklir negara tersebut. Pemerintah AS mengonfirmasi keterlibatannya dengan alasan keamanan nasional.
Dalam pernyataan resminya, pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa tindakan tersebut diperlukan untuk “mencegah Iran memperoleh kapabilitas ofensif yang membahayakan stabilitas kawasan.” Di sisi lain, Washington menuding Teheran gagal menunjukkan itikad baik dalam negosiasi nuklir internasional.
Operasi gabungan yang menggunakan sandi Lion’s Roar atau Epic Fury itu dilaporkan melibatkan misil jarak jauh serta serangan udara terarah yang menarget fasilitas militer, landasan rudal, dan titik logistik penting Iran. Perencanaan operasi disebut telah berlangsung selama beberapa bulan.
Aksi militer lintas negara ini mengingatkan pada sejumlah eskalasi serupa dalam sejarah konflik Timur Tengah, termasuk serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Osirak Irak pada 1981, serta ketegangan nuklir Iran pasca-sanksi Dewan Keamanan PBB pada 2006–2010. Pola serangan pendahuluan dianggap menjadi ciri operasi strategis Israel sejak dekade 1970-an.
Dampak di Iran langsung terlihat setelah laporan menyebut kepulan asap membubung di beberapa wilayah strategis Teheran. Masyarakat dilaporkan bergegas menuju lokasi evakuasi, sementara pihak berwenang setempat meningkatkan status waspada nasional.
Di tengah eskalasi tersebut, tragedi besar terjadi di kota Minab, Provinsi Hormozgan, ketika sebuah sekolah dasar perempuan menjadi sasaran serangan udara. Menurut kantor berita resmi IRNA, sedikitnya 40 siswa meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.
Sejumlah media internasional seperti Anadolu Agency dan Premium Times melaporkan bahwa serangan terjadi ketika kegiatan belajar baru dimulai. “Kami mendengar dentuman besar, kemudian asap memenuhi ruangan,” ujar seorang tenaga pendidik yang selamat dari insiden tersebut.
Pemerintah Iran mengecam keras serangan tersebut dan menuding Israel serta Amerika Serikat melanggar hukum humaniter internasional. “Ini merupakan tindakan brutal terhadap warga sipil,” kata otoritas setempat dalam pernyataan publik.
Sebagai respons, warga di beberapa kota Iran turun ke jalan memprotes serangan serta menuntut pembalasan. Ketegangan domestik meningkat setelah kabar bahwa sejumlah titik penting negara itu diserang serentak.
Masyarakat internasional mulai mengeluarkan reaksi keras atas perkembangan ini. Beberapa negara menyerukan penghentian operasi militer dan meminta semua pihak menahan diri agar konflik tidak merembet ke kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa eskalasi saat ini dapat menyeret kawasan ke dalam konflik lebih besar. “Ini adalah titik balik yang sangat mengkhawatirkan,” ujar seorang analis keamanan Timur Tengah. “Jika respons berlanjut, spiralisasi kekerasan sangat mungkin terjadi.”
baca juga:
- Serangan AS–Israel dan Klaim Kematian Komandan IRGC: Iran Bantah, Situasi Memanas
- BPS Mencatat Ekonomi Busel Tumbuh 4,94 Persen, Kemiskinan dan Pengangguran Menurun
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang mengonfirmasi pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan di Minab. Israel dan AS belum memberikan penjelasan rinci mengenai target operasi mereka.
Situasi lapangan masih berkembang cepat, dan pemerintah di berbagai negara tengah memantau potensi peningkatan ancaman regional. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas insiden ini dalam waktu dekat.(*)

