
Iran Gempur Sejumlah Pangkalan AS di Teluk, Eskalasi Timur Tengah Memuncak, Berikut Daftarnya
DURASITIMES.COM – Ketegangan kawasan Timur Tengah kembali mencapai puncaknya setelah Republik Islam Iran melancarkan serangan misil dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk Persia pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan tersebut merupakan respons langsung atas operasi udara gabungan AS–Israel yang lebih dahulu menghantam beberapa wilayah strategis Iran. “Iran Gempur Sejumlah Pangkalan AS di Teluk, Eskalasi Timur Tengah Memuncak, Berikut Daftarnya,”

Eskalasi ini menandai salah satu peningkatan konflik terbesar sejak krisis Teluk 1991 dan konfrontasi nuklir Iran–Barat pada 2010. Para analis menyebut situasi terbaru berpotensi membuka babak baru ketegangan geopolitik global.
Menurut laporan yang dikutip dari The Economic Times dan sumber resmi negara-negara Teluk, empat pangkalan utama AS—di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain—menjadi sasaran utama serangan balasan Iran. Serangan berlangsung beberapa jam setelah Iran menuduh AS dan Israel melakukan “agresi tanpa dasar” terhadap fasilitas sipil dan militer di wilayahnya.
Pemerintah Qatar menjadi salah satu pihak pertama yang mengonfirmasi upaya intercept misil yang diarahkan ke Al-Udeid Air Base, yang merupakan pusat operasi udara terbesar AS di Timur Tengah. “Sistem pertahanan udara kami berhasil menangkal sebagian besar ancaman,” kata pejabat keamanan Qatar dalam pernyataan resminya.
Di Kuwait, sirene peringatan berbunyi ketika misil Iran terdeteksi mengarah ke Al-Salem Air Base. Pemerintah Kuwait hanya menyebut adanya “aktivitas pertahanan terbatas” tanpa menjelaskan tingkat kerusakan.
Sementara itu di Uni Emirat Arab, sejumlah proyektil yang menargetkan Al-Dhafra Air Base dilaporkan berhasil diintersep. Serangan tersebut memicu aktivasi bunker darurat di sekitar Abu Dhabi sebagai langkah pencegahan.
Serangan paling signifikan dilaporkan terjadi di US Navy Fifth Fleet, markas armada laut AS yang berbasis di Bahrain. Media pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa “sejumlah fasilitas mengalami kerusakan akibat hantaman misil.”
Iran menyebut serangan balasan ini sebagai langkah yang “sepenuhnya sah”. Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran menegaskan, “Kami membalas sesuai proporsi dan mampu melanjutkan operasi bila agresi tidak dihentikan.”
Sebelumnya, serangan udara AS–Israel menyebabkan kerusakan berat di beberapa wilayah Iran, termasuk Kota Minab, di mana sebuah sekolah dasar perempuan hancur akibat misil yang menghantam kawasan tersebut. Laporan resmi menyebut sedikitnya 51 siswi tewas dan 45 lainnya luka-luka. Tragedi Minab kini memicu kecaman internasional karena dinilai melanggar hukum humaniter.
Kerusakan parah juga dilaporkan terjadi di kompleks resmi milik Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Citra satelit memperlihatkan sebagian bangunan runtuh dan kawasan sekitarnya terbakar hebat. Belum ada kepastian apakah pemimpin Iran itu berada di lokasi saat serangan terjadi.
Di Israel, sirene darurat kembali berbunyi di berbagai wilayah. Melalui akun resmi Israel Defense Forces (IDF), militer setempat menyatakan bahwa “ancaman proyektil dari Iran dan sekutunya meningkat signifikan dalam beberapa jam terakhir.”
Serangan gabungan AS–Israel yang memicu balasan Iran itu disebut sebagai pre-emptive strike untuk menetralkan potensi ancaman nuklir dan rudal Iran. Operasi tersebut diberi nama “Lion’s Roar” atau “Epic Fury” dan diduga telah direncanakan selama berbulan-bulan.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat menegaskan bahwa keterlibatan militer AS bertujuan “melindungi kepentingan nasional dan mencegah Iran memperoleh kemampuan nuklir ofensif.” Pernyataan itu memperkuat pandangan bahwa AS memandang Iran sebagai ancaman langsung bagi stabilitas global.
baca juga:
- Sirene Darurat Menggema di Israel, Konflik Regional Memasuki Fase Rawan
- Operasi Ramadhan, PKL Pasar Karya Nugraha Ditata Satpol PP Baubau
Sejumlah negara dunia menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi perang skala besar di Timur Tengah. Badan internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa diperkirakan akan menggelar sidang darurat untuk membahas legalitas operasi militer tersebut dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.
Hingga berita ini diturunkan, rincian jumlah korban dan tingkat kerusakan di pangkalan AS maupun wilayah Iran masih terus diperbarui. Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi cepat yang dapat menyeret pihak-pihak lain di kawasan.(*)
baca berita lainnya:
Israel-AS Disebut Sasar Khamenei dan Presiden Pezeshkian dalam Serangan ke Iran
DURASITIMES.COM – Serangan gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) disebut menargetkan dua pemimpin tertinggi negara itu, yakni Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian. Informasi tersebut muncul dari laporan lembaga penyiaran publik Israel, Kan, yang mengutip sumber internal keamanan. “Israel-AS Disebut Sasar Khamenei dan Presiden Pezeshkian dalam Serangan ke Iran,”

Serangan dilakukan ketika ketegangan kedua negara kembali meningkat beberapa bulan terakhir, mengikuti rangkaian insiden serangan lintas batas, operasi rahasia, dan jatuhnya beberapa tokoh penting di Iran. Pemerintah Iran menyebut aksi militer ini sebagai bentuk agresi yang melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara.
Sumber pemerintah yang mengetahui operasi militer itu mengatakan kepada Reuters bahwa Khamenei telah dipindahkan dari Teheran ke lokasi aman sebelum rudal-rudal ditembakkan ke sejumlah titik strategis. Namun, lokasi persis keberadaannya tidak diungkapkan secara resmi.
Di saat bersamaan, media pemerintah Iran memastikan bahwa Presiden Pezeshkian berada dalam kondisi baik. IRNA melaporkan bahwa sang Presiden “aman dan sehat” setelah serangan dini hari tersebut. Laporan serupa muncul dari kantor berita Mehr dan ISNA.
Kementerian Luar Negeri Iran memberi respons keras dengan menyebut serangan AS-Israel sebagai upaya yang “mengancam perdamaian global”. Dalam pernyataannya, Iran menegaskan haknya untuk merespons berdasarkan Pasal 51 Piagam United Nations. “Agresi militer ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” tulis pernyataan resmi itu.
Kementerian tersebut menegaskan bahwa rakyat Iran memiliki sejarah panjang menghadapi tekanan asing. “Sejarah menunjukkan bahwa rakyat Iran tidak pernah tunduk pada agresi,” demikian bunyi salah satu kutipan dalam pernyataan tersebut.
Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman dari Iran. “Waktunya telah tiba bagi rakyat Iran untuk melepaskan belenggu tirani,” ujar Netanyahu dalam sebuah video yang dirilis pada Sabtu.
Pernyataan tegas juga datang dari Presiden AS Donald Trump, yang menyebut operasi militer ini sebagai bagian dari upaya melindungi warga Amerika. “Tujuan kami adalah menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran,” katanya dalam pesan video yang dibagikan melalui media sosial.
Serangan yang berlangsung selama beberapa jam itu menyebabkan Iran dan Israel menutup wilayah udara masing-masing. Negara tetangga seperti Irak dan Kuwait juga menghentikan akses udara untuk sementara. Maskapai internasional, termasuk Flydubai, melaporkan pembatalan sejumlah penerbangan akibat penutupan tersebut.
Beberapa pejabat Iran menyebut sejumlah komandan senior Islamic Revolutionary Guard Corps turut menjadi korban dalam serangan tersebut, meski kabar ini belum dikonfirmasi secara independen. Media Iran menuduh serangan itu menyasar tidak hanya fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil di beberapa kota.
Ketegangan Iran-Israel sendiri memiliki sejarah panjang. Sejak Revolusi Iran 1979, hubungan kedua negara memburuk drastis dan berlanjut pada konflik tidak langsung di Lebanon, Suriah, Irak, hingga kawasan Teluk. Sementara itu, keterlibatan AS dalam ketegangan ini telah berlangsung sejak krisis sandera Teheran 1979 dan semakin meningkat ketika Washington menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir.
Pada tataran nasional, Iran pernah menghadapi serangan langsung sebelumnya, termasuk pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pada 2020, yang dituding dilakukan oleh Israel. Peristiwa-peristiwa ini membentuk latar belakang historis yang memperkuat persepsi ancaman di mata pemerintah Iran.
baca juga:
- Rudal Iran Hantam Teluk; Pangkalan AS Diserang, Ruang Udara Ditutup
- Basarnas Terjunkan Tim SAR Baubau Cari Dua Warga Mawasangka Hilang Kontak di Laut …
Hingga Minggu pagi, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran mengenai kemungkinan respons militer lanjutan. Namun, beberapa analis menilai potensi eskalasi tetap tinggi. “Iran kemungkinan tidak akan membiarkan serangan ini berlalu tanpa pembalasan,” kata seorang analis Timur Tengah yang diwawancarai Reuters.
Sementara itu, masyarakat internasional menyerukan pengendalian diri dari kedua belah pihak. Beberapa negara memperingatkan bahwa konflik terbuka antara Iran dan Israel dapat memicu ketidakstabilan besar di kawasan dan mengganggu jalur energi global.(*)
