Arsenal Libas Wigan 4-0, Pastikan Tempat di Babak Kelima FA Cup
LONDON, DT– Arsenal memastikan langkah mulus ke babak kelima FA Cup musim 2025/2026 setelah mengalahkan Wigan Athletic dengan kemenangan telak 4-0 di Emirates Stadium, Minggu waktu setempat. Kemenangan ini semakin menegaskan dominasi Arsenal di kompetisi tertua di dunia tersebut. “Arsenal Libas Wigan 4-0, Pastikan Tempat di Babak Kelima FA Cup,”

Pada laga tersebut, Arsenal mencatatkan performa agresif sejak awal pertandingan. Pasukan asuhan Mikel Arteta langsung menguasai permainan dan menekan pertahanan Wigan yang tampil pasif sejak menit awal.
Keunggulan Arsenal tercipta pada menit ke-11. Berawal dari skema serangan cepat dari lini tengah, umpan terobosan Eberechi Eze mampu dimaksimalkan oleh Noni Madueke yang menaklukkan kiper Wigan dalam situasi satu lawan satu. “Kami ingin mengendalikan laga sejak awal, dan gol cepat sangat membantu,” ujar Madueke seusai pertandingan.
Delapan menit kemudian, Arsenal kembali menggandakan keunggulan melalui aksi individu Gabriel Martinelli. Mendapatkan umpan terobosan dari Eze, Martinelli melepaskan tembakan keras dari sisi kiri yang tidak mampu dibendung penjaga gawang Wigan.
Petaka bagi Wigan terjadi pada menit ke-24 ketika Jack Hunt gagal mengantisipasi bola dengan baik dan menghasilkan gol bunuh diri. Kesalahan tersebut membuat Arsenal unggul jauh 3-0 dan membuat mental tim tamu kian tertekan.
Tidak butuh waktu lama bagi Arsenal untuk memperlebar jarak. Tiga menit berselang, Gabriel Jesus mencetak gol keempat melalui teknik chip indah setelah menerima umpan lambung dari Christian Norgaard. Gol tersebut sekaligus menutup babak pertama dengan keunggulan 4-0 bagi tuan rumah.
Memasuki babak kedua, laju pertandingan berjalan lebih lambat. Wigan memilih bertahan rapat untuk menghindari kebobolan tambahan, sementara Arsenal tetap mengontrol tempo namun kesulitan menembus barikade pertahanan lawan.
Arteta melakukan rotasi pemain pada menit ke-62 dengan menarik keluar William Saliba dan Madueke untuk digantikan Marli Salmon serta Leandro Trossard. Pergantian ini dimaksudkan untuk menjaga kebugaran pemain mengingat padatnya jadwal The Gunners. “Kami harus mengatur menit bermain para pemain, ini penting bagi performa jangka panjang,” ujar Arteta.
Di sisi lain, pelatih Wigan, Ryan Lowe, mencoba menyegarkan lini serang dengan memasukkan Dara Costelloe menggantikan Joe Taylor. Namun perubahan itu tidak banyak memberikan pengaruh, mengingat Wigan lebih fokus menahan serangan Arsenal daripada membalas.
Hingga pertandingan berakhir, skor 4-0 tidak berubah dan memastikan Arsenal melaju ke babak berikutnya. Dengan hasil ini, Arsenal menjaga tradisi kuat mereka di FA Cup—kompetisi yang telah mereka menangi 14 kali, menjadikannya klub tersukses sepanjang sejarah turnamen.
Secara statistik, Arsenal tampil sangat dominan dengan 79 persen penguasaan bola, 15 tembakan, dan enam tendangan tepat sasaran. Sementara Wigan hanya mampu mencatatkan dua tembakan sepanjang 90 menit. “Dominasi ini menunjukkan kualitas permainan kami hari ini,” tutur Eze.
baca juga:
- Manchester United Tak Berkutik Hadapi Tottenham Hotspur di Kandang Sendiri, Kalah 3-1, Bruno Fernandes Kena Kartu Merah
- Pemkot Baubau Tertibkan Pasar Wameo, Relokasi ke Terminal Warumusio Dimulai Maret 2026
Di tingkat historis, FA Cup dikenal sebagai panggung kejutan, termasuk ketika Wigan menjuarai kompetisi ini pada 2013 setelah mengalahkan Manchester City. Namun kali ini mereka tidak mampu mengulang kejutan tersebut dan harus angkat koper lebih awal.
Sementara bagi Arsenal, kemenangan ini menambah catatan positif mereka dalam lima musim terakhir di mana mereka selalu berhasil mencapai babak kelima. Tradisi kuat itu kembali berlanjut di musim 2025/2026.
Arsenal kini menatap babak berikutnya dengan penuh percaya diri. Mereka berharap dapat melanjutkan tren positif untuk kembali bersaing meraih gelar—gelar yang terakhir kali mereka dapatkan di FA Cup pada musim 2019/2020. (*)
Susunan Pemain
Arsenal (4-3-3)
Arrizabalaga; Calafiori, Mosquera, Saliba, White; Lewis-Skelly, Norgaard, Eze; Martinelli, Jesus, Madueke
Pelatih: Mikel Arteta
Wigan Athletic (3-4-2-1)
Tickle; Fox, Kerr, Aimson; Murray, Moxon, Weir, Hunt; Wright, Rodrigues; Taylor
Pelatih: Ryan Lowe
Statistik Pertandingan
- Gol: 4–0
- Tembakan Total: 15–2
- Tembakan Tepat Sasaran: 6–2
- Penguasaan Bola: 79%–21%
- Pelanggaran: 11–13
- Offside: 4–1
baca berita lainnya:
Carrick Tunjukkan Mental Baja, Manchester United Makin Stabil di Liga Inggris
KEBANGKITAN Manchester United dalam beberapa pekan terakhir kembali menarik perhatian publik sepak bola dunia. Di balik tren positif tersebut, sosok Michael Carrick dinilai sebagai figur kunci yang mampu mengubah suasana ruang ganti klub melalui ketenangan, kecermatan taktik, dan karakter kepemimpinan yang jarang disadari masyarakat luas. “Carrick Tunjukkan Mental Baja, Manchester United Makin Stabil di Liga Inggris,”

United mulai memperlihatkan grafik performa yang meningkat setelah manajemen baru Ineos menunjuk Carrick sebagai pelatih interim menggantikan Ruben Amorim bulan lalu. Langkah itu diambil setelah manajemen menilai perlunya perubahan arah di tengah kompetisi Premier League yang semakin ketat.
Sejak ditangani Carrick, United meraih empat kemenangan dan satu hasil imbang. Rentetan hasil positif tersebut dimulai dari kemenangan besar atas rival sekota, Manchester City, kemenangan pertama dalam derby sejak periode Ole Gunnar Solskjær. Momentum itu berlanjut dengan kemenangan atas Arsenal, sebuah capaian yang menjadi sorotan mengingat rivalitas historis kedua klub sepanjang era Premier League.
Pada Februari, performa apik United kembali berlanjut saat menundukkan Fulham dan Tottenham Hotspur. Hasil imbang kontra West Ham United, yang diamankan lewat gol menit akhir, melengkapi catatan tanpa kekalahan Carrick sejak kembali ke Old Trafford.
Performa tersebut membawa United kembali bersaing dalam perebutan posisi empat besar. Dua dekade terakhir, United tercatat beberapa kali mengalami periode naik-turun, terutama sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013. Kebangkitan musim ini pun disandingkan dengan fase-fase positif klub ketika ditangani pelatih berkarakter tenang, seperti Louis van Gaal dan bahkan Ferguson sendiri pada masa awal kariernya.
Mantan rekan setim Carrick, Joe Cole, menilai ada satu aspek penting dalam diri sang pelatih yang jarang diketahui publik, yakni ketegasan tersembunyi atau “steeliness”. Dalam podcast Could It Be Magic?, Cole mengatakan, “Orang mungkin melihat Michael sebagai sosok pendiam, tapi dia punya mental baja yang tidak dimiliki banyak pemain. Dia tidak berteriak, tapi saat berbicara, kata-katanya selalu bermakna.”
Cole juga mengaku terkejut dengan efektivitas Carrick dalam waktu singkat. “Saya benar-benar tidak menyangka ia akan memberikan dampak secepat itu, terutama saat United menang di derby. Itu luar biasa,” ujarnya menambahkan dalam wawancara tersebut.
Secara historis, sejumlah pelatih berprofil tenang memang pernah membawa dampak signifikan di dunia sepak bola internasional. Contoh yang sering disebut adalah Vicente del Bosque yang sukses bersama Spanyol, atau Carlo Ancelotti yang dikenal sebagai pemimpin berwibawa tanpa perlu banyak menunjukkan emosi. Pendekatan serupa kini terlihat pada gaya kepelatihan Carrick di United.
Karakter tersebut membuat ruang ganti United dinilai lebih stabil. Carrick memimpin dengan pola komunikasi yang lugas, pemahaman taktik sebagai mantan gelandang papan atas, serta kemampuan membaca ritme pertandingan—kelebihan yang selama ini menjadi identitasnya sejak masih aktif bermain.
United kini menghadapi 12 pertandingan tersisa yang akan menentukan masa depan Carrick di klub. Ineos disebut masih mencari pelatih permanen untuk jangka panjang, namun performa Carrick menjadi pertimbangan serius, terutama jika ia mampu mempertahankan tren positif hingga akhir musim.
baca juga:
Manchester United Tak Berkutik Hadapi Tottenham Hotspur di Kandang Sendiri, Kalah 3-1, Bruno Fernandes Kena Kartu Merah
Dukung Gerakan Nasional Indonesia ASRI, Pemkab Buton Selatan Instruksikan Aksi…
Sejumlah analis menilai keberhasilan Carrick dapat menjadi titik balik klub, mengingat United pernah mencapai era kejayaan lewat pelatih yang berkembang dari posisi sementara. Sejarah mencatat, bahkan Sir Matt Busby dan Alex Ferguson menghadapi masa-masa sulit sebelum akhirnya membawa United menjadi kekuatan global.
Publik kini menantikan apakah ketenangan, disiplin, dan “mental baja” yang dimiliki Carrick mampu menjaga konsistensi Setan Merah menuju akhir kompetisi. Jika tren ini bertahan, peluangnya untuk mengubah status dari pelatih interim menjadi sosok permanen bukan hal yang mustahil.(*)


