Carrick Tunjukkan Mental Baja, Manchester United Makin Stabil di Liga Inggris
KEBANGKITAN Manchester United dalam beberapa pekan terakhir kembali menarik perhatian publik sepak bola dunia. Di balik tren positif tersebut, sosok Michael Carrick dinilai sebagai figur kunci yang mampu mengubah suasana ruang ganti klub melalui ketenangan, kecermatan taktik, dan karakter kepemimpinan yang jarang disadari masyarakat luas. “Carrick Tunjukkan Mental Baja, Manchester United Makin Stabil di Liga Inggris,”

United mulai memperlihatkan grafik performa yang meningkat setelah manajemen baru Ineos menunjuk Carrick sebagai pelatih interim menggantikan Ruben Amorim bulan lalu. Langkah itu diambil setelah manajemen menilai perlunya perubahan arah di tengah kompetisi Premier League yang semakin ketat.
Sejak ditangani Carrick, United meraih empat kemenangan dan satu hasil imbang. Rentetan hasil positif tersebut dimulai dari kemenangan besar atas rival sekota, Manchester City, kemenangan pertama dalam derby sejak periode Ole Gunnar Solskjær. Momentum itu berlanjut dengan kemenangan atas Arsenal, sebuah capaian yang menjadi sorotan mengingat rivalitas historis kedua klub sepanjang era Premier League.
Pada Februari, performa apik United kembali berlanjut saat menundukkan Fulham dan Tottenham Hotspur. Hasil imbang kontra West Ham United, yang diamankan lewat gol menit akhir, melengkapi catatan tanpa kekalahan Carrick sejak kembali ke Old Trafford.
Performa tersebut membawa United kembali bersaing dalam perebutan posisi empat besar. Dua dekade terakhir, United tercatat beberapa kali mengalami periode naik-turun, terutama sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013. Kebangkitan musim ini pun disandingkan dengan fase-fase positif klub ketika ditangani pelatih berkarakter tenang, seperti Louis van Gaal dan bahkan Ferguson sendiri pada masa awal kariernya.
Mantan rekan setim Carrick, Joe Cole, menilai ada satu aspek penting dalam diri sang pelatih yang jarang diketahui publik, yakni ketegasan tersembunyi atau “steeliness”. Dalam podcast Could It Be Magic?, Cole mengatakan, “Orang mungkin melihat Michael sebagai sosok pendiam, tapi dia punya mental baja yang tidak dimiliki banyak pemain. Dia tidak berteriak, tapi saat berbicara, kata-katanya selalu bermakna.”
Cole juga mengaku terkejut dengan efektivitas Carrick dalam waktu singkat. “Saya benar-benar tidak menyangka ia akan memberikan dampak secepat itu, terutama saat United menang di derby. Itu luar biasa,” ujarnya menambahkan dalam wawancara tersebut.
Secara historis, sejumlah pelatih berprofil tenang memang pernah membawa dampak signifikan di dunia sepak bola internasional. Contoh yang sering disebut adalah Vicente del Bosque yang sukses bersama Spanyol, atau Carlo Ancelotti yang dikenal sebagai pemimpin berwibawa tanpa perlu banyak menunjukkan emosi. Pendekatan serupa kini terlihat pada gaya kepelatihan Carrick di United.
Karakter tersebut membuat ruang ganti United dinilai lebih stabil. Carrick memimpin dengan pola komunikasi yang lugas, pemahaman taktik sebagai mantan gelandang papan atas, serta kemampuan membaca ritme pertandingan—kelebihan yang selama ini menjadi identitasnya sejak masih aktif bermain.
United kini menghadapi 12 pertandingan tersisa yang akan menentukan masa depan Carrick di klub. Ineos disebut masih mencari pelatih permanen untuk jangka panjang, namun performa Carrick menjadi pertimbangan serius, terutama jika ia mampu mempertahankan tren positif hingga akhir musim.
baca juga:
Manchester United Tak Berkutik Hadapi Tottenham Hotspur di Kandang Sendiri, Kalah 3-1, Bruno Fernandes Kena Kartu Merah
Dukung Gerakan Nasional Indonesia ASRI, Pemkab Buton Selatan Instruksikan Aksi…
Sejumlah analis menilai keberhasilan Carrick dapat menjadi titik balik klub, mengingat United pernah mencapai era kejayaan lewat pelatih yang berkembang dari posisi sementara. Sejarah mencatat, bahkan Sir Matt Busby dan Alex Ferguson menghadapi masa-masa sulit sebelum akhirnya membawa United menjadi kekuatan global.
Publik kini menantikan apakah ketenangan, disiplin, dan “mental baja” yang dimiliki Carrick mampu menjaga konsistensi Setan Merah menuju akhir kompetisi. Jika tren ini bertahan, peluangnya untuk mengubah status dari pelatih interim menjadi sosok permanen bukan hal yang mustahil.(*)
baca berita lainnya:
PSG Juara Liga Champions Usai Bantai Inter Milan 5-0, Enrique Menangis Saat Fans PSG Bentangkan Mural Mendiang Putrinya
DURASITIMES.COM-Paris Saint-Germain (PSG) juara Liga Champions untuk kali pertama usai membantai Inter Milan 5-0 dalam final di Stadion Allianz Arena, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. PSG jadi tim ke-24 yang juara liga Champions. “PSG Juara Liga Champions Usai Bantai Inter Milan 5-0, Enrique Menangis Saat Fans PSG Bentangkan Mural Mendiang Putrinya,”
PSG unggul 2-0 atas Inter pada babak pertama berkat gol Achraf Hakimi pada menit ke-12 dan Desire Doue pada menit ke 20
Unggul 2-0 pada babak pertama tidak membuat PSG mengendurkan serangan di babak kedua, Pada menit ke-47, Les Parisiens langsung menggebrak dengan peluang dari Khvicha Kvaratskhelia.

Pertahanan Inter Buruk, PSG Unggul 2-0 di Babak Pertama Pertahanan Inter yang belum membaik di awal babak kedua membuat Kvaratskhelia mudah menembus kotak penalti. Hanya saja, tembakan Kvaratskhelia masih menyamping.
Lini pertahanan Inter yang tampil buruk jadi ‘arena permainan’ penyerang PSG. Dengan posisi membelakangi, Dembele memberikan bola kepada Vitinha menggunakan bagian sol bawah sepatu, mengecoh dua pemain lawan.
Vitinha kemudian memberikan umpan terobosan kepada Doue yang bergerak di sisi kanan. Dengan tenang Doue menambah penderitaan Inter guna membawa klub ibu kota unggul 3-0 pada menit ke-63.
Pertahanan Inter porak-poranda pada menit ke-73. PSG unggul 4-0 atas Inter. Dembele memberikan umpan terobosan kepada Kvaratskhelia dari sisi kiri.
Alessandro Bastoni sebagai pemain yang paling dekat tidak bisa mengejar Kvaratskhelia. Mantan pemain Napoli itu memaksa Sommer memungut bola untuk kali keempat dari gawangnya.
PSG benar-benar membuat Inter babak belur dalam final Liga Champions kali ini. Pemain pengganti Senny Mayulu yang berusia 19 tahun mengantar PSG unggul 5-0 pada menit ke-86.
Tanpa tambahan gol pada sisa laga, PSG menang 5-0 atas Inter. Kemenangan ini membawa PSG juara Liga Champions untuk kali pertama.
Sementara itu, Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, memuji Inter Milan dan penampilan timnya yang luar biasa usai juara Liga Champions 2024/2025.
Paris Saint-Germain (PSG) juara Liga Champions untuk kali pertama usai membantai Inter Milan 5-0 dalam final di Stadion Allianz Arena, Minggu (1/6) dini hari WIB. PSGjadi tim ke-24 yang juara liga Champions.
Usai pertandingan, Enrique mengatakan bahwa kemenangan ini merupakan hasil dari ambisi yang kuat untuk memenangkan Liga Champions.
“Saya mencoba untuk tetap menekan klub yang belum pernah memenangkan kompetisi [Liga Champions]. Inter adalah tim yang hebat, tetapi kami fantastis dalam menekan. Setiap pemain meningkat musim ini dan begitu pula tim,” ucap Enrique dikutip dari Sky Sports.
“Kami mempersiapkan diri dengan sangat baik untuk pertandingan ini agar berada di level tersebut. Tim bermain dengan sangat baik. Kami menekan dengan intensitas tinggi. Ousmane Dembele terus menekan para bek dan penjaga gawang mereka,” kata Enrique menambahkan.
Enrique pun senang karena akhirnya dia bersama timnya berhasil memenangkan Liga Champions untuk membahagiakan para penggemarnya.
“Sejak hari pertama, saya mengatakan bahwa saya ingin memenangkan trofi penting dan PSG belum pernah memenangkan Liga Champions. Kami melakukannya untuk pertama kalinya. Merupakan perasaan yang luar biasa untuk membuat banyak orang bahagia,” kata Enrique.
=============
Disisi lain Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, tak kuasa menahan air mata setelah para pendukung PSG memberikan penghormatan menyentuh untuk mendiang putrinya, Xana, usai kemenangan bersejarah klub di final Liga Champions.
Dalam laga yang digelar di Stadion Allianz, Munchen, pada Minggu (1/6/2025) dini hari WIB, PSG sukses meraih gelar Liga Champions pertama mereka setelah mengalahkan Inter Milan 5-0.
Di tengah perayaan penuh euforia itu, suasana emosional tercipta ketika para fans PSG membentangkan spanduk besar bergambar Xana, putri Enrique yang meninggal dunia pada 2019 akibat kanker saat berusia sembilan tahun, yang tengah melihat Enrique menancapkan bendera PSG di lapangan.
Momen itu terjadi tak lama setelah kapten tim, Marquinhos, mengangkat trofi kemenangan di hadapan lebih dari 30.000 pendukung Les Parisiens yang memadati stadion. Enrique tampak tersentuh dan menitikkan air mata menyaksikan penghormatan penuh cinta dari para fans.
“Itu sangat mengharukan. Sungguh indah membayangkan para penggemar memikirkan saya dan keluarga saya,” ujar Enrique dikutip dari Mirror.
Meski mengapresiasi penghormatan luar biasa dari para pendukung, Enrique menegaskan bahwa cinta dan ingatannya terhadap Xana tak bergantung pada pencapaian di lapangan.
“Saya tidak perlu memenangkan Liga Champions untuk memikirkan putri saya. Saya selalu memikirkannya. Dia selalu bersama saya dan keluarga. Ini tentang mengambil sisi positif dari situasi negatif. Itulah mentalitas saya,” kata Enrique.
I’m not crying, you’re crying
PSG fans’ tifo in honor of Luis Enrique’s late daughter, Xana pic.twitter.com/FDvSkLdxWx— Ligue 1 English (@Ligue1_ENG) May 31, 2025
Sebelum laga final, Enrique juga sempat mengenang kenangan indah bersama Xana, termasuk momen ketika mereka merayakan kemenangan Liga Champions bersama FC Barcelona.
“Putri saya suka berpesta, dan saya yakin dia masih mengadakannya di mana pun dia berada. Saya punya foto luar biasa bersama Xana, menancapkan bendera Barcelona di lapangan setelah final. Saya berharap bisa melakukannya juga untuk PSG,” ujar Enrique.
Susunan Pemain PSG vs Inter di Final Liga Champions:
PSG: Donnarumma; Hakimi, Marquinhos, Pacho, Nuno Mendes; Joao Neves, Vitinha, Fabian Ruiz; Doue, Dembele, Kvaratskhelia.
Inter: Sommer; Pavard, Acerbi, Bastoni; Dumfries, Barella, Calhanoglu, Mkhitaryan, Dimarco; Lautaro Martinez, Thuram.

