
Barcelona Kritik VAR dan Targetkan Comeback Usai Dipermalukan Atletico 0-4
MADRID, DT – Barcelona berada di ujung tanduk setelah takluk 0-4 dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey di Stadion Metropolitano, Kamis waktu setempat. Kekalahan besar tersebut membuat tim asuhan Hansi Flick harus mengejar misi hampir mustahil pada leg kedua di Spotify Camp Nou, 3 Maret mendatang. “Barcelona Kritik VAR dan Targetkan Comeback Usai Dipermalukan Atletico 0-4,”

Meski hasil akhir menjadi sorotan, pertandingan sudah berlangsung berat bagi Barcelona sejak menit-menit awal. Tuan rumah tampil agresif dan memanfaatkan setiap celah pertahanan lawan untuk mengamankan keuntungan besar di babak pertama.
Kartu merah Eric Garcia di penghujung laga semakin memperburuk situasi tim tamu. Barcelona harus tampil dengan 10 pemain selama tambahan waktu yang mencapai 10 menit, membuat tekanan dari Atletico semakin sulit ditahan.
Gol bunuh diri Eric Garcia menjadi pembuka keunggulan tuan rumah. Atletico kemudian menghujani gawang Barcelona melalui Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julian Alvarez. Semua gol tercipta sebelum turun minum, menempatkan Barcelona pada posisi terburuk dalam sejarah semifinal Copa del Rey sejak 2015.
Flick mengakui timnya tampil jauh dari standar. “Kami tidak bermain dengan baik di babak pertama sebagai sebuah tim. Jarak antarpemain terlalu jauh dan kami tidak menekan seperti yang kami inginkan,” ujarnya seusai pertandingan.
Selain performa buruk, Barcelona juga merasa dirugikan oleh keputusan VAR. Gol Pau Cubarsi pada menit ke-51 dianulir setelah peninjauan yang memakan waktu lebih dari enam menit. Keputusan itu membuat Flick tidak dapat menahan kemarahannya. “Soal gol yang dianulir, ayolah. Mereka harus menunggu tujuh menit? Ketika saya melihat situasinya, itu tidak offside,” tegasnya.
Menurut Flick, komunikasi dari wasit sangat minim sepanjang laga. Ia juga mengkritik keputusan awal pertandingan yang dianggap tidak konsisten. “Pelanggaran terhadap Alejandro Balde pada aksi pertama harusnya kartu kuning. Semuanya menjadi berbeda sejak saat itu,” kata pelatih asal Jerman tersebut.
Meski demoralizing, Barcelona berusaha memperbaiki permainan pada babak kedua. Penguasaan bola meningkat, serangan lebih terstruktur, dan tekanan terhadap lini belakang Atletico lebih terasa. Namun, efektivitas tetap menjadi masalah besar bagi skuad Catalan.
Secara historis, Barcelona memang pernah membuat comeback besar. Salah satunya terjadi di Liga Champions 2017 ketika mengalahkan Paris Saint-Germain 6-1 setelah kalah 0-4 pada leg pertama. Namun, di kompetisi domestik, tak banyak tim yang berhasil membalikkan defisit empat gol pada fase gugur Copa del Rey sejak era 1980-an.
Di panggung internasional, comeback epik juga tercatat dalam sejarah sepak bola, seperti Liverpool yang bangkit di final Liga Champions 2005 atau Tottenham pada semifinal Liga Champions 2019. Namun, kondisi Barcelona saat ini dinilai lebih kompleks karena performa mereka yang naik turun sepanjang musim.
baca juga:
- Barcelona Bantai Real Madrid 4-0 di Santiago Bernabeu Pada Babak Kedua, MBappe Offside
- Bupati Buton Tengah Azhari Luruskan Isu Dana Siluman dan Jelaskan Mekanisme Biaya Tidak…
Flick tetap menegaskan optimisme meskipun peluang Barcelona tipis. “Saya tetap bangga dengan tim saya sepanjang musim. Kami punya banyak cedera dan terus beradaptasi. Kami akan bangkit. Jika kami bisa menang di tiap babak 2-0, itu target kami,” ujarnya.
Barcelona kini menaruh harapan pada dukungan penuh suporter Camp Nou. Flick berharap energi stadion dapat memberikan motivasi ekstra bagi timnya, terutama menghadapi kemungkinan laga hidup-mati untuk satu tiket final melawan pemenang duel Real Sociedad versus Athletic Club.
Dengan agregat tertinggal empat gol, Blaugrana tidak punya pilihan lain selain tampil agresif sejak menit pertama di leg kedua. Comeback menjadi satu-satunya jalan untuk menjaga tradisi mereka sebagai salah satu klub tersukses Copa del Rey.(*)
baca berita lainnya:
Barcelona Dapat Sorotan, Flick Sentil Madrid soal Kekalahan dari Albacete
BARCELONA, DT– Pelatih Hansi Flick menegaskan bahwa keberhasilan Barcelona mencapai semifinal Copa del Rey 2025/2026 bukanlah hasil dari keberuntungan undian. Ia menepis anggapan bahwa Blaugrana melaju mulus karena hanya menghadapi tim-tim dari kasta kedua dan ketiga, serta menyelipkan sindiran halus kepada rival abadi, Real Madrid. “Barcelona Dapat Sorotan, Flick Sentil Madrid soal Kekalahan dari Albacete,”

Barcelona akan menghadapi Atletico Madrid pada babak semifinal yang digelar dua leg, dimulai di markas Atletico pada Jumat (13/2/2026) pukul 03.00 WIB sebelum menjamu lawan yang sama di Camp Nou pada 4 Maret 2026. Duel ini disebut sebagai ujian terbesar Barcelona dalam turnamen musim ini.
Sebelum mencapai fase empat besar, perjalanan Barcelona memunculkan komentar miring dari sejumlah pihak. Banyak yang menilai Barcelona terlalu diuntungkan karena tidak bertemu tim La Liga sejak babak awal. Namun Flick membantah anggapan tersebut. Ia menegaskan bahwa kualitas Copa del Rey tidak bisa diukur dari kasta kompetisi semata.
“Ini Copa del Rey, dan semua tim punya kualitas. Mereka mampu mengalahkan siapa pun,” ujar Flick saat menjawab kritik yang menyasar perjalanannya.
Barcelona memulai kampanye di babak 32 besar dengan kemenangan 2-0 atas CD Guadalajara pada Desember 2025. Mereka melanjutkan hasil serupa ketika menghadapi Racing Santander di babak 16 besar, Januari 2026, sebelum dipaksa bekerja keras saat menghadapi Albacete di perempat final dan menang tipis 2-1.
Menariknya, Albacete menjadi sorotan karena pada fase berbeda berhasil menjungkalkan Real Madrid dengan skor 3-2. Kekalahan itu disebut Flick sebagai pengingat bahwa pertandingan melawan tim Segunda Division tidak pernah bisa dianggap enteng.
“(Coba) tanya Real Madrid,” kata Flick sembari tersenyum, menyiratkan sindiran terkait tersingkirnya rival utama mereka. Meski singkat, pernyataan itu segera menjadi sorotan media Spanyol.
Flick menambahkan bahwa respek kepada semua lawan adalah hal terpenting dalam kompetisi. Ia menegaskan bahwa perjalanan Barcelona di Copa del Rey tahun ini justru lebih sulit dibanding musim sebelumnya.
“Kita harus menghormati semua tim Segunda. Tahun lalu kami menghadapi Barbastro, Betis, dan Valencia, dan hasilnya bahkan lebih baik,” ujarnya menegaskan.
Kontroversi mengenai “undian mudah” ini, menurut Flick, adalah isu yang diciptakan media. Ia memilih tidak memperpanjang polemik dengan Real Madrid karena hal tersebut dianggap hanya membuang energi tim.
“Itu cocok untuk media, tapi tidak cocok untuk saya. Saya tidak ingin fokus tim teralihkan oleh hal-hal seperti itu,” tegasnya.
Secara historis, Copa del Rey memang dikenal sebagai kompetisi yang penuh kejutan. Tim besar seperti Barcelona, Real Madrid, maupun Atletico berkali-kali harus tersingkir dari klub yang tidak diunggulkan. Pada musim 2009/2010, Barcelona pernah dipermalukan klub kasta bawah, Sevilla Atlético, sementara pada 2020, Real Madrid juga tersingkir oleh Real Sociedad yang tampil brilian.
baca juga:
- Osasuna Kalahkan Barcelona 4-2, Ini Kekalahan Pertama Barca di Liga Spanyol 2024-2025
- Aksi Bersih Kota Baubau Serentak Ditinjau Langsung Wawali Baubau Wa Ode Hamsinah, Wujudkan…
Internasionalnya, turnamen knockout selalu menyimpan potensi kejutan. Misalnya, pada FA Cup Inggris, klub-klub kecil seperti Wigan Athletic pernah menaklukkan Manchester City pada 2013 untuk menjadi juara, sebuah bukti bahwa sepak bola tidak mengenal kasta dalam pertandingan knockout.
Kini, fokus Barcelona tertuju sepenuhnya pada duel melawan Atletico Madrid. Dengan performa yang naik dan mentalitas tim yang semakin solid, Blaugrana berpeluang membuktikan bahwa lolosnya mereka ke semifinal bukan sekadar hasil undian, tetapi representasi kualitas yang dapat bersaing di level tertinggi.(*)
