Dinkes Validasi Data Sasaran Penemuan Kasus P2PTM Termasuk Cegah Infeksi Dengan Melaksanakan Program POM Kecacingan
BAUBAU,DT-Cegah Infeksi, Dinkes Baubau Laksanakan Program POPM Kecacingan di SDDalam upaya meningkatkan derajat kesehatan anak-anak usia sekolah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau melalui Puskesmas Katobengke menggelar melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) kecacingan di lingkungan Sekolah Dasar (SD) 1 Katobengke pada Selasa (21/10/2025). “Dinkes Validasi Data Sasaran Penemuan Kasus P2PTM Termasuk Cegah Infeksi Dengan Melaksanakan Program POM Kecacingan.”

Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kabid P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Yuslina dalam keterangan persnya Selasa (21/10/2025) mengatakan, cacingan merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan, produktivitas.
Karena itu, dengan melaksanakan program POPM kecacingan kepada anak-anak usia sekolah yang rentan terhadap infeksi parasit usus di SD 1 Katobengke merupakan upaya Dinkes Kota Baubau untuk menekan dan mencegah penyebaran infeksi cacingan di sekolah-sekolah utamanya anak-anak yang berada di SD 1 Katobengke.
Yuslina mengakui, cegah infeksi cacingan dengan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan yang dilaksanakan dua kali dalam 1 (satu) tahun pada anak usia 1–12 Tahun akan dapat diperoleh secara GRATIS dengan berhubungan langsung dengan Posyandu atau Puskesmas terdekat.se-Kota Baubau. Dengan program tersebut, pihaknya berkeinginan Kota Baubau dapat dijadikan sebagai kota yang bebas cacingan.
Diungkapkan, selain pemberian obat, tim kesehatan dari puskesmas juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, seperti mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan kuku dan kebiasaan tidak jajan sembarangan.
“Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terkena kecacingan karena kebiasaan hidup bersih belum sepenuhnya terbentuk. Oleh karena itu, program ini sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang mereka,”ungkapnya.
Sementara itu, kegiatan ini pemberian POPM kecacingan di SD1 Katobengke berjalan dengan sukses dan melibatkan Dinas Kesehatan P2P Provinsi Sultra,Dinas Kesehatan Kota Baubau dan UPTD Puskesmas Katobengke. (*)
Dinkes Validasi Data Sasaran Penemuan Kasus P2PTM
BAUBAU, DT-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau menggelar Pertemuan Peningkatan Kapasitas Pengelola Program PTM dan validasi data sasaran atau cakupan penemuan kasus dalam rangka Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) di Zenith Premiere Jumat pagi (24/102025). Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau dr. Frederik Tangke Allo, Sp.B
Menurut Frederik Tangke Allo, pembangunan bidang kesehatan di Indonesia dihadapkan pada Triple Burden, yaitu suatu keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, dilain pihak angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular cenderung meningkat, dan sekaligus menghadapi tantangan penyakit-penyakit yang muncul kembali atau munculnya penyakit-penyakit baru.
Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi antara lain oleh perubahan lingkungan, perilaku masyarakat, transisi demografi,sosial ekonomi dan sosial budaya. Jenis utama PTM adalah penyakit kardiovaskular (seperti serangan jantung dan stroke), kanker, penyakit pernapasan kronik (seperti penyakit paru obstruktif kronik dan asma) dan diabetes.
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian terbanyak akibat PTM, atau 17,9 juta orang setiap tahunnya, diikuti oleh kanker (9,3 juta), penyakit pernapasan kronis (4,1 juta), dan diabetes(2,0 juta) termasuk kematian akibat penyakit ginjal yang disebabkan oleh diabetes). Keempat kelompok penyakit ini menyumbang lebih dari 80% seluruh kematian dini akibat PTM.
Dikatakan, derdasarkan deteksi dini yang telah dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular dengan menilai faktor resiko individu untuk mengurangi dampak PTM pada masyarakat, diperlukan pendekatan komprehensif yang mengharuskan semua sektor, untuk berkolaborasi guna mengurangi risiko yang terkait dengan PTM, dan untuk mempromosikan intervensi guna mencegah dan mengendalikannya.
”Saat ini Capaian SPM PTM dicatat bahwa capaian untuk 2 indikator pada s/d Bulan September Tahun 2025 masih dibawah target 75% diantaranya skrining usia produktif dan pelayanan kesehatan pada penderita hipertensi.
Sedangkan untuk capaian pelayanan kesehatan pada penderita diabetes melitus sudah menunjukan hasil yang lebih baik dengan capaian sebesar 81,91%.Salah satu cara penting untuk mengendalikan PTM adalah dengan berfokus pada pengurangan faktor risiko yang terkait dengan penyakit ini. Dengan adanya Program Cek Kesehatan Gratis diharapkan dapat meningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dengan identifikasi faktor risiko, deteksi kondisi pra penyakit dan deteksi penyakit lebih awal,”katanya.
baca juga:
- Workshop Perfilman, Langkah Awal Bangun Film Lokal di Baubau
- Apa itu Program Quick Win Yang Jadi Agenda 100 Hari Kerja H Yusran-Wa Ode Hamsina Untuk Bangun Baubau
Sementara itu, Kabid P2P Dinas Kesehatan Yuslina menjelaskan, kegiatan Pertemuan Peningkatan Kapasitas Pengelola Program PTM Dan Validasi Data Sasaran/Cakupan Penemuan Kasus P2PTM Tingkat Kota Baubau Tahun 2025 ini menghadirkan pemateri dari Kementerian Kesehatan RI Direktorat PIM bu Wiwi Pratiwi, SKM dan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara ibu Asriyanti,SKM.,M.Kes serta di hadiri 17 UPTD Puskesmas Se-Kota Baubau dan 34 peserta dan pendamping.(*)
GALERI FOTO
Baca Berita Lainnya:
Dinkes Baubau Perketat Keamanan Pangan Pada Program Makan Bergizi Gratis
BAUBAU, DT-Petugas Relawan SPPG Ikut Pelatihan Penjamah Pangan Petugas relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berasal dari Kecamatan Murhum Tanganapada 02 dan Kecamatan Wolio 03 Kota Baubau mengikuti pelatihan penjamah pangan yang dilaksanakan di hotel mira pada Sabtu (25/10/2025). “Dinkes Baubau Perketat Keamanan Pangan Pada Program Makan Bergizi Gratis,”

Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kepala Bidang P2P Yuslina, SKM.,M.Si dalam keterangan persnya mengatakan, pelatihan penjamah pangan untuk petugas relawan dimaksudkan untuk memberikan bekal kepada para relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sehari-hari menyiapkan MBG.Pihaknya terus berupaya untuk menjamin standar keamanan pangan di seluruh unit SPPG dengan peningkatan kapasitas penjamah makanan.
Menurutnya, sebagai pejabat fungsional TSL baik itu Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi Keamanan Pangan, kesehatan lingkungan telah disampaikan dalam pelatihan tersebut mengenai kebijakan keamanan pangan siap saji, cemaran pangan dan penyakit bawaan pangan sertap pemeliharaan lingkungan kerja, dan pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit.
Kemudian, yang paling utama tentu pentingnya pembersihan dan sanitasi peralatan serta higiene perorangan hingga tahapan proses produksi pangan siap saji yang dilanjutkan adanya pendataan jumlah penjamah pangan yang sudah terlatih dalam organisasi asosiasi keamanan pangan dan ini tentu bersertifikasi sehingga dalam penyediaan MBG selalu berkualitas.
Diungkapkan, program MBG yang berkualitas merujuk pada implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar terjamin mutu dan dampaknya. Karena itu, untuk memastikan kualitas, pemerintah melalui berbagai badan dan instansi melakukan pengawasan ketat terhadap keamanan pangan (seperti uji cepat residu pestisida) dan kehigienisan dapur/SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), mulai dari produksi, penyimpanan (menggunakan prinsip FIFO/FEFO), hingga distribusi.
Selain itu, kualitas juga mencakup keseimbangan nutrisi (karbohidrat, protein, serat, mineral) dan diversifikasi pangan (memanfaatkan UMKM dan pangan lokal).
Sementara itu, dalam kegiatan pelatihan tersebut, materi dibagi 2, sesi pertama diisi oleh Kabid P2P Yuslina dan dilanjutkan sesi ke 2 Loleh ukman, SKM. Sedangkan peserta yang hadir 100 orang relawan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang berasal dari Kecamatan Murhum Tanganapada 02 dan Kecamatan Wolio 03 .
Diharuskan Memiliki SLHS, Dinkes Perketat Keamanan Pangan Pada Program MBG
BAUBAU, DT-Selain gaktor gizi pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG), keamanan pangan olahan siap saji merupakan factor yang sangat penting untuk diperhatikan. Makanan yang disiapkan harus aman untuk dikonsumsi, sehingga harus dilakukan upaya pengamanan dan pencegahan agar tidak terjadi kontaminasi disepanjang rantai pengelolaan pangan tersebut.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau melalui Kabid P2P Yuslina,S.KM.,M.Si dalam keterangan persnya Jumat (24/10/2025) mengatakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau akan terus berupaya dalam dukungan pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan keamanan pangan olahan siap saji dalam rangka pencegahan dan peningkatan kewaspadaan dini KLB keracunan pangan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Baubau.
Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan, setiap produsen/penyedia/penyelenggara Pangan Olahan Siap Saji atau yang disebut Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) diharuskan untuk memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) atau label dan untuk memperoleh SLHS.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat mengajukan permohonan secara manual kepada Dinkes dengan melampirkan dokumen persyaratan surat permohonan, dokumen penetapan SPPG dari Badan Gizi Nasional, denah/lay out dapur, Penjamah pangan sudah bersertifikat kursus keamanan pangan siap saji.
”Dalam rangka penerbitan SLHS, Dinkes Kota Baubau melakukan Verifikasi dokumen persyaratan dan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) yang memenuhi syarat, Hasil pemeriksaan sampel pangan (Air dan Makanan) yang memenuhi syarat,”ujarnya.
Ditambahkan, Dinkes Kota Baubau bersama UPTD Pukesmas saat ini telah melakukan pengambilan sampel pangan (air dan makanan) sesuai prosedur yakni pada hari Kamis, 23 Oktober 2025, Pukul 04.30 – 06.30 Wita pada 6 (enam) sarana dapur Program MBG yang beroperasional diantaranya SPPG Murhum 1, SPPG Murhum 2, SPPG Betoambari Lipu, SPPG Wolio 1 Wangkanapi SPPG Wolio 2 Batulo, SPPG Lea-Lea. dari 13 SPPG di Kota Baubau yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Kemudian, pengantaran sampel via kapal cepat pada hari Kamis, 23 Oktober 2025 Pukul 07.30 WITA dan diterima oleh Tim Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Sultra Pukul 13.45 Wita – selesai dengan Tim Pengantar Sampel ke Balai Laboratorium Kesehatan Prov. Sultra Wa Ode Arfiana, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling Dinkes), Dede Kurniawan, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling Dinkes) dan Untuk hasil pengujian akan disampaikan kemudian dalam kurung waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kemudian.
Sementara itu, tim Pengambil Sampel antara lain Yuslina, SKM.,M.Si (Kabid. P2P Dinkes Kota Baubau), dr.Lukman, SKM.,M.PH (Sub Koordinator Program Kesling Dinkes), Asma Buton, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling Dinkes), Wa Ode Arfiana, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling Dinkes), Yan Abidin, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling UPTD Puskesmas Wajo).
baca juga:
Workshop Perfilman, Langkah Awal Bangun Film Lokal di Baubau
Yusran Fahim Jelaskan Tak Sahkan RPJMD? Pemda Bisa Kena Sanksi 3 Bulan Tanpa Gaji!
Khairul Fitria, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling UPTD Puskesmas Katobengke), Yesti Andriani Mauzu, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling UPTD Puskesmas Wolio), Marwati, SKM (Sanitarian/Pengelola Program Kesling UPTD Puskesmas Lowu-Lowu), Dermawan Andi.(*)













